Enam puluh tujuh “Ta.. kenapa?” Gabrian tak mengerti kenapa dia justru menamparnya. “Kamu keterlaluan!!!” isak Jelita. Gabrian bingung setengah mati, dia menatap Rere yang masih diam. Kemudian menoleh ke arah Galih dan Duta, mereka menggeleng dan mengedikkan bahu. “Apa? Kenapa?” Gabrian tak paham. Jelita mendorong tubuh Gabrian dan berlari keluar kelas. “Lho, Ta! Jelita!!!” teriaknya sambil mengejar dara berjilbab itu. “Ta, tunggu! Kamu kenapa, Ta?” Gabrian menyusul langkah Jelita. “Ta, Jelita! Ada apa? Kenapa? Jelasin dulu ke aku!!!” Jelita tergugu. “Ada apa? Kata-kata aku yang mana yang salah dan menyakiti kamu?” Jelita berusaha meredam tangisnya, hari mulai meredup bersama datangnya langit malam yang mencurahkan gerimis yang rintiknya semakin besar. Airmata Jelita bercampur d

