Dingin yang menerpa, membuat tubuh Kanaya membeku. Inderanya seakan mati rasa. Hening sesaat di kepalanya. Ingin dia berlari sembunyi, tapi wanita yang dibencinya itu hanya berjarak beberapa langkah darinya. Tersenyum dan menyapa ramah seolah mereka berkawan baik. Ardan mendekatinya. Tantenya mengikuti selangkah di belakang. “Apa kabar Kanaya?” Ardan menyapa. Kanaya sadar sudah tak bisa lagi menghindar. Pertemuan tiba-tiba ini seperti ujian menyebalkan yang harus dihadapinya. Dia menatap keduanya tajam tanpa menutupi ketidaksukaannya sedikit pun. “Ada perlu apa?” tanyanya dingin. “Ibumu kangen sama kamu, nih!” Ardan tersenyum. “Ibuku sudah meninggal!” Kanaya mendelik, menolak menganggap Nena sebagai ibunya. Ardan tersentak kaget. Begitu juga Nena. Keramahan di wajahnya lenyap. “Bi

