Rahagi menyetir dalam kondisi cemas. Diperlukan konsentrasi yang tinggi untuk bergegas membelah-belah jalan padat menuju rumah Marina. Kanaya di sampingnya tidak berani berkata-kata. Dia mengeratkan sabuk pengaman dan berdoa sepanjang jalan. Dia khawatir sendiri dengan cara mengemudi Rahagi yang mencari celah-celah berjarak tipis-tipis dengan mobil lain, dan berkecepatan tinggi. “Kak! Pelan-pelan!” teriaknya. Dia tak tahan lagi kala Rahagi berusaha menyalip kendaraan di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Wajah Kanaya pias penuh rasa takut. Rahagi yang meliriknya sekejap langsung tersadar. Tak ada gunanya mengebut demi Alana jika membahayakan Kanaya dan dirinya sendiri. “Maaf!” Rahagi mengangkat sedikit kakinya di atas pedal gas, menurunkan kecepatan kendaraannya. Kanaya m

