Kanaya terdiam. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan Rahagi. Dia teringat wajah polos Alana. “Ini Tante Kana! Pacar papa!” Kalimat Alana yang diucapkan kepada Nadya beberapa waktu lalu, terngiang kembali. Kanaya memejamkan matanya. Ada rasa sesal karena dia tidak membantahnya kala itu. Kini, dirinya harus menghadapi Rahagi yang jelas tampak tidak berkenan. Kanaya menelan ludahnya. Rahagi wajar marah. Pernyataan yang tidak benar tentang Kanaya menjadi pacarnya tentu bakalan merusak reputasinya, atau mengganggu hubungannya dengan wanita lain. Dalam hati, Kanaya memaki dirinya. “Kamu tahu ngga, mamaku sampai nelfon aku berkali-kali saat aku lagi meeting, cuma buat mengkonfimasi hal itu. Aku kaget!” “Bu Anin dengar dari mana?” tanya Kanaya pelan. “Tante Siska. Ibunya Nadya… Mereka

