Seharian itu, Kanaya membantu Sandra mengemas barang-barangnya. Dia takjub sendiri melihat dan merasakan bagaimana sahabatnya itu sangat bersemangat akan memulai babak baru dalam kehidupannya. Begitu ringan, seperti tak ada beban yang menggelayuti dan keterbatasan yang menyekat untuk mewujudkan harapan dan mimpi yang alurnya telah berubah. Tidak seperti dirinya, yang sekarang masih saja merasa oleng karena tak ada keluarga yang menanggung dan berbagi kesulitannya. Meski ada Ardan yang telah cukup membantu dengan memberikan tempat bernaung untuknya, tetap saja Kanaya merasa masih kurang. Hatinya yang membeku menolak kuat untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan keluarga, terutama ayahnya. "Kamu masih mau tetap berusaha di bidang kuliner, Nay?" tanya Sandra sambil menurunkan buku-bukunya

