Kanaya tiba di rumah menjelang sore. Begitu membuka pintu, pandangan matanya langsung terpusat pada pot gerabah putih di atas meja sofa, berisi anggrek bulan berwarna putih, yang menjulang meninggi di tengah rimbunan mawar pink di bawahnya. Hatinya langsung menerka-nerka dari mana bunga tersebut berasal. Dilihat dari jumlah tangkai anggrek serta lainnya, rangkaian tersebut tidaklah murah. “Eh! Sudah pulang!” Mita menghambur keluar dari dapur. “Bunga dari mana ini?” tanya Kanaya. “Kurir yang kirim. Sama ada kue juga!” Mita menunjuk kotak kue di sebelah bunga yang luput dari perhatiannya. Kanaya meletakkan ranselnya di lantai, dan duduk di hadapan pot tersebut. Dia mencari kartu ucapan yang biasanya menyertai bingkisan bunga seperti ini. Tanpa dapat dicegah, hatinya berharap Rahagilah

