Kanaya menghentikan ceritanya kala menyadari Rahagi tidak menanggapinya. Meski bibirnya tersenyum, mata lelaki itu mengambang tidak berfokus penuh kepada dirinya. Beberapa saat, Rahagi juga tidak menginsafi jika Kanaya telah membisu. Keduanya membiarkan keheningan mengisi ruang. Kanaya juga tidak bersungut-sungut mengecam karena tidak diperhatikan. Sebab, meskipun tak ada satupun kata yang terucapkan, kediaman mereka seperti berbicara banyak. Menenangkan dan menghangatkan. Mengalirkan kenyamanan yang mereka butuhkan. “Mbak… maaf….” Suara Mita mengusik kesenyapan. Wanita itu sudah berada tak jauh darinya, berdiri hati-hati. “Ada yang mau saya tanya di dapur,” katanya hati-hati. Kanaya beranjak. “Permisi dulu, Kak.” Rahagi yang juga baru tersadar dari lamunannya, menggeser sedikit

