Marina masih dalam penanganan tim dokter. Keluarganya tampak tegang dan gelisah. Sesaat Rahagi bingung dengan peran keberadaan dirinya di rumah sakit ini. Jika mamanya tahu apa yang sedang dilakukannya kini, wanita itu pasti sudah menyuruhnya pergi. Keadaan Marina bukanlah tanggung jawabnya. Tak sepatutnya juga dia mencampuri urusan keluarga mantan isterinya. Tapi, ada Alana di sini. Dia kembali kepada anak itu. Membawanya ke sudut ruang tunggu yang nyaman, menjauh dari keluarga Marina. “Mama sakit apa, sih?” tanya Alana sambil meringkuk di pangkuan papanya. “Hmmm… kecapekan saja mungkin.” Rahagi memberikan jawaban yang aman. Didekapnya tubuh mungil itu erat. Kepalanya tak lama kemudian, terkulai di d**a Rahagi, diikuti helaan nafas halus teratur. Gadis kecil itu tertidur. Malam

