Menjelang siang, Rahagi kebingungan. Sebab, tak mungkin membawa Alana ke pertemuan kali ini. Kliennya ini seorang lelaki setengah baya yang perokok berat dan biasa memesan smoking area di mana pun mereka membuat janji berjumpa. Untuk membatalkannya pun tidaklah mungkin. Butuh waktu tiga minggu hingga akhirnya mereka bisa bertemu jadwal yang klop dengan pengusaha hotel ini. “Alana, papa harus pergi kerja.” Rahagi bersiap-siap. “Aku sama siapa?” “Sementara di daycare, ya!” Tangan Rahagi menggulirkan layar kontaknya mencari nomor penitipan anak tempat dia biasa menitipkan Alana sebelumnya. “Aku nggak mau!” Alana berteriak tidak setuju. “Harus! Papa nggak bisa bawa kamu kerja!” tegas Rahagi. “Aku nggak mau ke daycare!” tolak Alana. Raut wajahnya penuh ketakutan. Rahagi tidak mendengar

