Abra tidak habis pikir dengan sikap Celine yang seenaknya saja. Wanita yang sempat ia dekati untuk sekedar main-main itu, ternyata tidak terima dengan pendekatan yang dilakukan olehnya. Celine sudah memiliki harapan tinggi untuk bisa bersama Abra. Sayangnya, sang pria justru terkesan mempermainkan dirinya. Terlebih, ketika melihat Abra yang belum juga putus dari Fara, membuatnya benar-benar sakit hati.
Ada niat buruk yang tersemat di hati Celine. Ia tidak akan membiarkan pria incarannya hilang dari genggamannya begitu saja. Setelah sebelumnya, ia sering chatting dan berhubungan via suara hampir setiap malam dengan Abra dan tanpa kepastian apa pun. Bahkan pernah tiga kali menghabiskan waktu bersama Abra. Meski Abra sudah berkata bahwa telah memiliki seorang kekasih, nyatanya tidak membuatnya bergegas mundur.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Abra pada Celine dengan tatapan mata yang tajam.
Celine tersenyum sinis sembari melipat kedua tangannya ke depan. “Aku benci lihat kamu sama dia,” jawabnya.
“Apa? Seharusnya kamu enggak boleh terbawa perasaan atas kedekatan kita, Celine. Aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku hanya bosan dan butuh teman.”
“Tapi, sikapmu justru membuatku merasa nyaman, Abra. Membuat rasa suka muncul dari hatiku untukmu. Seandainya, kamu hanya mempermainkan diriku, seharusnya kamu enggak perlu penuh perhatian seperti seorang pacar!”
“Terserah kamu mau bilang apa, intinya kita ini hanya teman enggak lebih!”
“Enggak!” Celine menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Abra dan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dengan erat. Hal itu membuat sang pria begitu terkesiap, terlebih Celine tidak bersedia melepaskan pelukannya sama sekali. “Aku sudah terlanjur suka padamu, Abra. Dan itu kamu yang membuatnya. Jadi, jangan salahkan perasaanku.”
“Jangan gila, Celine! Aku menolak perasaanmu dan aku sudah sangat mencintai pacarku. Lepaskan pelukan ini, dilihat banyak orang!”
“Enggak! Aku akan terus seperti ini sampai kamu bersedia berada di sisiku daripada wanita itu.”
“Enggak akan!”
Abra mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan pelukan dari Celine. Tidak peduli dengan respon orang lain yang melihat, bahkan respon Anton—sang pemilik kafe—yang bergeleng-geleng kepala dari arah meja lain. Karena dorongan darinya, Celine hampir terjatuh ke belakang. Namun, ia tidak sekasar itu dan langsung menarik lengan Celine.
“Jangan ganggu aku lagi!” tegas Abra. Ia melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Celine, lalu bergegas meninggalkan Celine begitu saja.
“Abra!” seru Celine, tetapi Abra tetap menlanjutkan langkahnya demi mengejar Fara.
Celine tidak tinggal diam, ia mengambil langkah cepat nyaris berlari. Perasaannya sangat kacau, menambah niat buruknya semakin besar. Ia tetap pada rencana awal—untuk menghancurkan hubungan Abra dan Fara. Air matanya bercucuran membasahi pipi, disebabkan oleh perasaan sakit hati dan juga emosi. Lagipula, wanita mana yang akan terima diperlakukan seperti mainan oleh seorang laki-laki? Wajar jika Celine merasakan semua rasa itu.
Sialnya, ketika ia sampai di luar kafe, Abra sudah melesat cepat dengan motor gedenya. Celine tidak bisa menahan pria itu lagi. Ia mendengkus kesal dengan sangat kencang, bahkan tidak peduli diperhatikan oleh orang lain yang berkunjung di kafe tersebut.
“Lihat saja, aku sudah lihat wajah cewek itu. Aku tidak akan tinggal diam,” gumam Celine dengan dendam yang sudah menggebu.
Sementara itu, Abra melaju motor gedenya dengan cepat. Ia menerabas kemacetan yang terjadi di beberapa titik jalan, meski terkadang tidak berhasil dan membuatnya terpaksa menunggu sampai kondisi jalan menjadi lebih lenggang. Rasa ingin bertemu dengan Fara sudah sangat besar, ia harus menjelaskan semuanya. Ia tahu kekecewaan kekasihnya itu memang sungguh besar, tetapi ia yakin Fara akan memaafkan dirinya lagi seperti sebelum-sebelumnya.
****
Sesampainya, di depan gerbang rumahnya, Fara segera turun dari taksi online yang ia pesan selepas melarikan diri. Ia membayar ongkos sesuai nominal yang tertera di aplikasi. Helaan napas dalam Fara ambil untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ia tidak mau membuat Ima merasa khawatir jika mendapati kondisinya yang lesu.
Fara bergegas membuka gerbang yang tidak terkunci. Ia masuk dan kembali menutupnya dengan rapat. Meski sudah berusaha tegar, langkahnya tetapsaja gontai bak kekurangan tenaga. Apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, benar-benar membuatnya kecewa. Lagi dan lagi, kekasihnya itu bermain api dengan wanita lain. Apakah belum cukup bagi Abra? Padahal, Fara sudah sangat sabar menghadapinya.
Fara mengakui tentang rasa cemburunya yang memang tinggi, bahkan seringkali menuduh Abra yang tidak-tidak. Namun, ketika ia ingin mengubah sikap buruk itu, Abra masih saja membuatnya kecewa.
“Dik, lemes banget?” celetuk Surya—suami dari Ima kakaknya. Pria berusia 35 tahun itu kini tengah berdiri di teras rumah sembari menggendong Izam—putranya.
Fara tersenyum tipis. “Iya, Mas. Banyak lemburan hari ini,” jawabnya berbohong.
“Oh, pantas saja. Mukamu juga lesu, Mas pikir bertengkar lagi dengan pacarmu.”
Mendengar dugaan dari kakak iparnya tersebut, Fara sontak menelan saliva. Memang, bukan hal asing lagi untuk diketahui saudaranya. Pertengkaran Fara dengan sang kekasih sering terjadi di rumah yang kini ia tinggali bersama Surya, Ima juga Izam.
Fara hanya menggeleng, dengan senyuman tipis yang mengembang manis. Kakinya lanjut melangkah untuk menuju kamarnya. Ia hanya ingin merebah sembari merenung, mungkin saja menangis.
Namun, langkah Fara kembali terhenti ketika suara motor gede baru saja memasuki pekarangan rumahnya. Ia mendengkus kesal, belum ada keinginan untuk bertemu Abra. Namun, pria itu justru datang tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Fara berbalik dan menemui Abra. Meski rasa malas masih sangat besar. Seandainya saja tidak ada Surya juga Ima mungkin ia akan membiarkannya saja.
“Mas,” ucap Abra pada Surya yang ia temui di teras rumah.
“Eh, Abra. Mau ketemu Fara?” tanya Surya.
Abra mengangguk. “Iya, Mas. Fara sudah pulang, ‘kan?”
“Sudah, kok.” Surya menengok ke dalam rumah. “Itu anaknya.” Ia menunjuk ke arah Fara yang kembali muncul dan keluar.
Dengan wajah yang sangat masam, Fara semakin mendekati kedua pria itu. Namun, tidak sekali pun ia menatap wajah sang kekasih. Ya, ia masih enggan dan mungkin muka. Bagaimana tidak, jika baru saja dikecewakan. Rencana ingin rebahan sembari menangis pun kembali sia-sia.
“Masuk saja,” ucap Surya.
“Di sini saja, Mas,” jawab Abra.
“Sudah mau gelap lho.”
Fara menatap kakak iparnya itu. Lalu bertanya, “Mas, Fara boleh minta waktu berdua saja?”
“Oh, tentu. Mas masuk ya? Jangan bertengkar lho, mau gelap mending cepat masuk daripada di luar.” Setelah memberikan nasehat itu, Surya mengambil langkah cepat untuk masuk ke dalam rumah bersama Izam yang masih balita.
Sepeninggalan Surya, Fara mulai terang-terangan dalam menampilkan wajah muaknya terhadap Abra. Namun, ia masih tidak ingin menatap wajah kekasihnya sama sekali. Terlalu sakit baginya untuk mengingat peristiwa yang sempat terjadi.
Sedangkan Abra mulai mendekati Fara. Satu langkah maju, dibalas satu langkah mundur oleh Fara. Hal itu membuatnya kebingungan dalam memberikan penjelasan.
“Mau apa kamu datang ke sini? Bukannya ada kencan dengan cewek itu?” tanya Fara sembari melipat kedua tangannya ke depan.
“Far, aku sama dia enggak ada hubungan apa-apa. Kamu percaya itu, ‘kan?” balas Abra.
“Aku tahu siapa kamu dan sangat kenal sama kamu, Abra. Cewek itu pasti mainan, ‘kan? Aku ingat tiga minggu yang lalu kita sempat bertengkar. Aku muak sama cara kamu yang menjijikkan itu!”
Abra menghela napas. “Kalau kamu sangat kenal sama aku, seharusnya kamu juga percaya dan tahu kalau cinta aku itu Cuma buat kamu.”
“Selalu begitu, setiap kali berbuat salah kamu selalu membalikkan keadaan. Seolah-olah aku yang salah. Dasar buaya egois!”
“Aku enggak nyalahin kamu, Fara. Aku hanya berusaha memberikan penjelasan, dan kamu enggak mau dengar!”
Fara menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak habis pikir dengan sikap Abra. Kekasihnya itu selalu berusaha membalikkan keadaan, tetapi tidak pernah mengakuinya. Selalu Fara yang disalahkan seolah tidak mau dengar, padahal sudah jelas-jelas ada sosok wanita asing yang menghampiri Abra.
“Lupakan semua itu dan mulai percaya sama aku, Far,” ucap Abra.
Namun, Fara justru terkesiap. Bagaimana bisa ia melupakan semua hal yang membuatnya kecewa? Yang benar saja!
Fara menghela napas. Setelah itu, berkata, “kita putus saja. Kita selalu enggak cocok, aku lelah.”
Abra membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia spontan menarik tubuh Fara. “Putus? Selalu putus! Setiap ada masalah sedikit selalu bawa-bawa kata itu. Kamu ini kayak anak kecil tahu, enggak?!”
“Kamu yang kayak anak kecil. Enggak pernah berubah, enggak pernah menghargai aku! Bahkan, sudah tujuh tahun pun enggak ada inisiatif melamarku. Sampai kapan kamu mau bermain-main, hah?!”
“Kamu yang selalu enggak mau dengar, Far. Kamu yang selalu menuduhku, sampai aku muak! Jadi, berkat tuduhanmu itu aku bermain api! Dan soal lamaran, aku sudah merencanakan, tapi kamu selalu mengajak putus seperti ini terus!”
“Tuduhanku selalu benar, ‘kan? Kenapa kamu yang jadi salahin aku? Padahal kamu sendiri yang serakah! Semuanya omong kosong!”
“Aku enggak salahin kamu, aku ngomong fakta!”
“Aku juga ngomong sesuai fakta, Abra!” Fara mendesah pasrah. “Pergi, ... pergi dari sini dan jangan pernah kembali!”
Abra terkesiap. Kesekian kalinya ia mendapatkan pengusiran seperti itu dari Fara. Rasa lelah pasti ada. Jika bukan cinta sudah pasti ia pergi dari sisi Fara sejak dulu. Karena sudah malu, terlebih ia mendapati Surya dan Ima yang tengah mengintip diam-diam, akhirnya ia memutuskan berbalik menuju motor gedenya.
Tangisan Fara pecah seketika. Lagi dan lagi pertengkaran terjadi. Tubuhnya berangsur turun dan akhirnya terduduk di teras rumah itu. Pandangannya kabur oleh air mata, melihat sang kekasih berlalu dengan kendaraan kesayangan.
****