Episode 4-Pertemuan Pertama

1232 Kata
Tangisan Fara berlanjut hingga malam, bahkan hampir menjelang pagi. Matanya sudah sangat sembab, dikarenakan air mata yang terus mengalir deras. Pertengkarannya dengan Abra di sore itu, benar-benar meluluhlatakkan perasaannya.Terlebih, ketika ia melihat wajah dari wanita mainan kekasihnya secara jelas dan langsung. Paras cantik milik Celine terbayang dengan jelas di benaknya. Membuatnya terus membayangkan sudah sejauh mana hubungan wanita itu dengan Abra. Sampai-sampai, dengan tidak tahu malu wanita itu menghampiri Abra yang tengah bersama dirinya. Ironis sekali, jika hubungannya dengan Abra yang terjalin selama tujuh tahun harus kandas karena orang ketiga. Fara masih belum siap berpisah dengan Abra, meskipun sudah mengatakan kata putus. Tampaknya rasa cintanya terhadap pria itu masih lebih besar dibanding rasa kecewa di hatinya. "Seharusnya, aku enggak bertahan dari dulu. Seharusnya aku putus dengannya sejak awal, sebelum hubungan ini menjadi bertahun-tahun, dan aku enggak bakalan merasa sakit sampai separah ini. Kenapa aku segila itu padanya? Padahal aku sudah disakiti berkali-kali," gumam Fara dengan air mata yang masih berlinang. Rintik hujan begitu deras tiba-tiba saja turun membasahi bumi, seolah turut berduka atas perasaan sedih milik Fara. Hujan yang selalu mengingatkannya tentang kenangan manis bersama Abra. Pada saat itu, ia masih belajar di suatu universitas. Abra merupakan kakak seniornya. Ketika hujan sedang turun, membuat Fara terpaksa menunggu sampai reda di ruang tunggu bagi tamu dekat dengan gerbang kampus itu. Secara tiba-tiba, seorang pria muncul dan mengajaknya berkenalan. Fara tahu bahwa itu adalah Abra—senior tampan—yang banyak digandrungi banyak mahasiswi. “Enggak bawa payung, Dik?” tanya Abra pada Fara pada saat itu. Fara tersenyum diiringi gelengan kepala. “Enggak, Kak. Enggak tahu kalau bakalan hujan,” jawabnya. “Ya, akhir-akhir ini perkiraan cuaca sulit ditebak dan enggak sesuai yang ada di berita.” “Kakak sendiri enggak bawa? Kok malah neduh?” “Namanya cowok enggak serajin itu, Dik. Apalagi aku bawa motor bukan mobil, jadi masih nunggu sampai reda.” “Aku enggak paham sama kebiasaan cowok, Kak.” Abra tertawa kecil. Sedangkan, Fara hanya tersenyum—memalingkan wajahnya dari Abra. Ia menatap rintik hujan yang masih sangat deras. Melihat kecantikan dari juniornya, membuat Abra menelan saliva. Wajahnya turut memerah, betapa ia sangat menyukai Fara. Saat itu pun, ia hanya mencari alasan untuk mendekati Fara. Padahal, untuk seorang pria, ia tidak takut jika harus pulang dengan hujan-hujanan. Namun, ia justru menangkap sosok Fara dan berpura-pura ikut berteduh. Pertama kali bertemu dengan Fara di ospek yang juga turut Abra urus, ia sudah tertarik dengan gadis itu. Sepanjang kegiatan, ia selalu mencari-cari di mana Fara berada, bahkan akan melindunginya jika Fara kena omel oleh senior lain. “Eh, Dik. Nama kamu itu siapa sih?” tanya Abra mencoba memulai pendekatan. Fara menatap Abra kembali. “Aku Fara, Kak. Kakak ini Kak Abra, ya?” tanya sang gadis kembali. “Wah, kok tahu. Hmm ... ternyata namanya Fara toh.” “Iya, Kak. Kakak, ‘kan, cukup populer.” “Sama, kamu juga. Kamu angkatan baru tercantik tahun ini.” Mendengar pujian itu, raut wajah Fara mendadak malu. Kedua pipinya memerah karena perasaan itu. Bagaimana tidak, jika sang pemuji adalah kakak seniornya yang cukup terkenal di kalangan mahasiswi. Paras Abra yang tampan membuat jantungnya berdebar, serta hati berdesir-desir. Ada rasa tertarik pada pria itu. Abra tersenyum diam-diam. Menurutnya, Fara sudah masuk ke dalam perangkapnya. Tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa mendapatkannya. Bahkan, jika diperbolehkan pada saat itu juga ia ingin mendapatkan sang gadis pujaan. Abra selalu percaya diri soal asmara, apalagi ketampanan yang ia miliki menjadi senjata paling utama. Ia yakin tidak ada wanita satu pun yang akan menolaknya. “Dik, kok diam saja?” tanya Abra. Fara mengusap tengkuk belakangnya. “Terus harus ngomong apa, Kak?” balasnya. “Curhat gitu.” Tawa kecil keluar dari bibir Abra. “Mana bisa?” “Bisa, tapi mungkin kamu masih malu-malu. Apa aku saja yang curhat?” “Boleh, Kak. Fara akan mendengarnya.” “Ada junior yang memikat hatiku, Dik. Orangnya cantik sekali, aku ingin memilikinya.” “Oh. Coba saja, Kak. Siapa tahu orangnya juga tertarik sama Kakak.” “Mm ... kalau aku bilang pada saat ini juga, apa perasaanku diterima ya?” “Wah, Kak Abra sepertinya suka sekali ya sama dia?” “Sangat, Dik!” Abra memberikan penegasan pada ucapannya sembari menatap manik hitam legam milik Fara. Ia berharap sang gadis pujaan bisa mengerti dan menyadari bahwa orang yang ia sukai adalah gadis itu sendiri. Namun, tatapan Abra justru membuat Fara tersentak dan tertawa setelahnya. Orang setampan dan sepopuler Abra ternyata bisa begitu menyukai seseorang. Melihat Fara yang tertawa, Abra melemahkan pandangannya. Niat hati ingin membuat sang gadis sadar, justru menjadi bahan tertawaan. Ia mendengkus kesal diam-diam. Namun, kekesalannya berangsur hilang ketika mlihat wajah Fara yang semakin cantik jika tertawa seperti itu. “Kamu cantik sekali, Dik,” celetuk Abra kemudian. “Masa’ sih, Kak? Sama junior itu, cantik siapa?” tanya Fara. “Sama.” “Wah, berarti kami mirip dong?” “Ya, karena satu orang.” “Eh?” Fara terkesiap mendengar jawaban tersebut. Bagaimana tidak, jika satu orang berarti yang dimaksud oleh Abra adalah dirinya sendiri. Ia menatap netra cokelat milik Abra. Dalam hati, ia meyakinkan dirinya jika orang yang dimaksud oleh seniornya tersebut bukan dirinya. Ya, Fara pasti tidak akan menyangka jika junior yang dimaksud oelh Abra adalah dirinya. Sehingga, ia berusaha untuk tidak gede rasa. Namun, Abra tetap memperhatikannya meski ia sudah memalingkan wajah dari pria itu. Tatapan mata Abra membuatnya benar-benar salah tingkah, malu tentu saja menjadi rasa yang mendera hatinya. “Dik?” ucap Abra lagi. “I-iya, Kak?” jawab Fara tanpa menoleh sedikit pun. “Kalau junior itu adalah kamu, bagaimana?” “Hahaha ... mana mungkin Kak Abra suka padaku? Terlebih, baru mengetahui namaku, ‘kan?” “Enggak, aku sudah tahu sejak lama.” Fara menatap Abra. “Lalu, untuk apa bertanya lagi?” “Karena ingin mendengar nama kamu langsung dari kamu sendiri.” “Jadi ...?” “Benar, Dik. Junior itu adalah kamu.” Abra memberanikan diri meraih tangan Fara. Saking terkesiapnya, Fara tidak menyadari ulah darinya. Ia menggenggam tangan dari gadis pujaannya, sembari kembali berkata, “apa kamu mau jadi pacarku, Dik?” Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Rintik hujan yang masih sangat deras menambah kesyahduan suasana manis itu. Dalam beberapa saat Fara terdiam dengan bibir sedikit terbuka. Syok, sudah pasti. Bagaimana mungkin Abra benar-benar menyukainya? Ya, secara fisik, Fara menyukai pria itu. Namun, bisakah ia menerima pernyataan cinta itu? Bahkan, baru beberapa menit mereka saling mengenal. “Tolong jawab sekarang, Dik. Aku bukan tipikal orang yang bisa—“ “Ya ....” Entah sadar atau tidak, Fara memberikan kata ‘ya’ atas pernyataan cinta dari Abra. Jawabannya membawanya ke dalam hubungan asmara dengan sang senior. Setelah insiden manis di saat hujan itu, mereka saling dekat dan resmi berpacaran. Meski, Fara sempat menyesalkan jawaban gila yang ia berikan. Pada akhirnya, ia tetap tidak bisa menolak ketika diajak kencan dan justru rasa cintanya semakin besar. **** “Far, Fara.” Terdengar suara yang lembut milik Ima di telinga Fara. Perlahan, wanita berusia 24 tahun itu membuka matanya. Ia mengerjabkan matanya agar pandangannya lebih jelas. Ia melihat sang kakak yang tengah duduk di tepian ranjangnya. Tampaknya, Ima habis membangunkan dirinya. Ia mencoba membangunkan diri. “Sudah jam enam lho, Dik,” ucap Ima lagi. “Iya, Kak. Maaf, aku kesiangan dan enggak bantuin Kakak masak,” jawab Fara. “Lagi-lagi dan lagi-lagi.” Ima mendesah pasrah. “Kakak, ‘kan, sudah bilang putus saja dengannya. Jadinya, kamu enggak bakalan seperti ini lagi. Malam-malam sesenggukan, belum lagi kesiangan mana manggil-manggil nama Abra.” “Aku sudah putus kok, Kak.” “Halah, nanti juga balikan lagi.” “Semoga enggak.” “Hmm ... Kakak enggak habis pikir sama kalian berdua. Tengkar terus, coba lihat teman-teman kamu sudah menikah semua. Kalian malah masih sibuk bertengkar. Kalau sudah enggak bisa dipertahanin, sudahi saja. Masih banyak laki-laki lain yang lebih bertanggung jawab. Dasar! Sudah pada dewasa, masih kayak bocah semua.” Fara paling malas mendengar omelan dari Ima. Namun, ia tidak bia menghindarinya. Andai saja, ia bisa menurti ucapan Ima. Semuanya terasa berat jika harus memutuskan hubungan selama tujuh tahun. Ia juga membenarkan ucapan Ima, bisa saja ia kembali meski saat ini sudah mengatakan kata putus. Herannya lagi, setiap kali habis bertengkar, selalu saja ada mimpi tentang pertemuan pertamanya dengan pria itu. Seolah-olah, takdir sedang mengikatnya dengan sosok Abra. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN