Episode 5-Belum Ikhlas

1395 Kata
Dengan langkah teramat gontai, mau tidak mau Fara keluar dari rumah yang juga tempat tinggal Ima sekeluarga. Pandangannya mengendur setelah sebelumnya begitu fokus menatap pijakan kakinya. Ia mendapati sebuah mobil sedan di depan rumahnya. Fara menebak bahwa itu adalah taksi online yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Karena tidak ingin membuat sang driver menunggu terlalu lama, Fara mempercepat langkah kakinya. Bahkan, ia tidak peduli lagi perihal perasaannya. Perasaan yang masih dirundung kalut sebab pertengkaran kemarin sore dengan Abra. “Sesuai aplikasi ‘kan, Neng?” tanya driver taksi online itu, sesaat setelah Fara masuk ke dalam angkutan. Fara mengangguk. “Iya, Pak,” jawabnya. “Oke, siap!” Tak ia pedulikan lagi ucapan sang driver. Fara justru sibuk memangku tangan, sementara pandangannya ke arah luar jendela mobil tersebut. Tidak seperti biasanya, ia mau tidak mau harus memesan jasa transportasi demi mengantarkannya sampai kantor. Tak layaknya biasa, ketika sang kekasih begitu rela menjemput meski arah kantor berbeda. Bahkan, Abra tidak kunjung menghubungi seolah pria itu sudah muak akan sikap Fara yang tidak pernah percaya. Mengingat itu, d**a Fara mendadak sesak. Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan yang sama, perihal keputusannya menyudahi hubungan dengan Abra sore itu. Apakah detik ini ia akan benar-benar berpisah? Setelah sebelumnya mengarungi cinta selama tujuh tahun dengan pria itu? “Seharusnya, aku lega. Daripada terus bertahan dan setiap kali aku terluka,” batin Fara seiring air mata yang menetes membasahi pipi. Namun, segera ia seka dengan tangan kosong lantaran merasa malu jika driver taksi justru tahu. Fara memejamkan kedua matanya dalam beberapa saat, sembari memberikan pijatan pelan di bagian kening. Ia selalu berusaha tegar setiap kali habis bertengkar. Meski begitu, harapannya untuk kembali justru timbul besar, juga rasa rindu yang tak tertahan. Terkadang, Fara justru menyesal ketika teringat akan keputusannya mengajak Abra bubar. Fara kerap kali tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang sering plinplan, seolah di dunia ini hanya ada satu pria dan itu Abra. Tak ada habisnya rasa sabar, meski pria itu terus bermain api. Bahkan, ketika Celine tiba-tiba muncul di antara dirinya juga Abra beberapa saat sebelum bertengkar hebat. “Apa yang harus aku lakukan dengan hubungan ini? Aku cinta, juga benci. Aku sayang, juga kecewa. Aku enggak bisa kehilangan Abra begitu saja, bahkan dengan alasan orang ketiga.” Batinnya masih saja saling berkecamuk. Meminta keadilan atas hatinya sendiri, atas perasaan kecewa dan cinta yang seakan saling berperang satu sama lain. Dering ponsel tiba-tiba terdengar, terpaksa menyudahi kegundahan yang baru saja Fara alami. Wanita berusia 24 tahun itu dengan cepat merogoh benda kotak itu dari dalam tas jinjing yang ia bawa, berharap Abra yang saat ini menghubungi. Namun sayang, bukannya Abra justru Dewi—rekan kerja—sekaligus sahabat karibnya. Fara menghela napas dengan perasaan kecewa. Tampaknya, Abra memang sudah tidak peduli, itu dugaan yang tiba-tiba muncul memenuhi benak dan hati. Lalu, dengan gerak malas, Fara menerima panggilan masuk dari sahabatnya itu. “Iya, Dew,” ucap Fara berikut sapaan yang terkandung di dalam sapaannya. “Far, ada meeting pagi. Kamu sudah berangkat belum? Dicari sama Pak Sony,” jawab Dewi tak banyak basa-basi lagi. “Aku masih di jalan. Mungkin sekitar lima menit lagi sampai. Bilangin ke Pak Sony, ya?” “Oke, siap. Jangan lama-lama, cukup lima menit saja, ya? Pak Sony sudah enggak sabar ingin bertemu kamu.” Fara mendengkus kesal. “Jangan mengada-ada. Aku dan Pak Sony enggak ada hubungan spesial.” “Ya, sih. Aku tahu, tapi aku justru suka kamu sama Pak Sony ketimbang anak mami itu! Ya sudah, aku matikan.” “Iya, Dew.” Panggilan suara telah dimatikan oleh Dewi, menyisakan semacam rasa tidak nyaman yang bergelayut di hati Fara. Bagaimana tidak, jika sahabat karibnya itu menyebut pria yang ia cintai sebagai anak mami. Bahkan, Dewi justru sangat mendukung dirinya dengan Sony. Memangnya wajar? Bahkan, Sony tidak terlihat sedang menyukainya, meski sering berjalan bersama selepas jam pulang tiba. Tak ingin terpengaruh ucapan Dewi yang bisa saja menambah beban pikirannya, Fara berusaha menepis rasa tidak nyamannya itu. Karena sekalipun Sony menyukainya, ia tidak bisa langsung menerima perasaan Sony, terlebih cintanya masih besar terhadap Abra. Entahlah, Fara pun merasa bingung atas dirinya sendiri yang sulit melepas pria itu, meski kata putus sering ia ucapkan, bahkan sedari dulu saat hubungannya dengan pria itu belum mencapai tujuh tahun. Lima menit berselang dan sesuai perhitungan Fara, taksi online yang ia tumpangi menepi di pinggir jalan dekat kantornya. Ia bergegas turun tanpa lupa membayar ongkos antar pada sang driver. Fara menatap gedung kantor yang menjulang tinggi sembari menghela napas dalam, setelah sebelumnya taksi online tadi meninggalkannya. “Semoga, pikiranku enggak kacau,” gumam Fara berikut pikiran yang masih terhias bayang-bayang Abra. Lalu, ia mengambil langkah ke dalam gedung kantor itu, tak mau membuat Sony juga rekan lain di dalam meeting pagi ini. **** Di dalam apartemen megah milik Abra Alexander, pria itu tengah meringkuk di atas ranjang empuk. Setelah sore itu bertengkar dengan Fara, pria itu justru menenggak banyak minuman berakhohol, alhasil tumbang karena mabuk berat. Hatinya pedih, ia menyesal karena kehadiran Celine di antara ia dan Fara. Abra masih tidak menyangka jika Celine akan seberani itu, menghampiri dirinya dan membuat salah paham lagi dan lagi dengan Fara. Penjelasan ketika ia sedang mendekati Celine karena jengah dan bosan terhadap hubungannya dengan Fara, sudah tidak digubris lagi oleh wanita mainannya itu. Apa itu merupakan sebuah karma setelah sebelumnya ia begitu sering bermain api? Selepas Fara memberikan kecurigaan yang bahkan tidak ia lakukan. Sayangnya, pikirannya justru membuat prinsip bodoh, daripada dicurigai tak dilakukan sama sekali, lebih baik sekalian saja. Prinsip yang selalu ia pegang itu justru menghancurkan hubungan yang ingin diseriuskan. Tepatnya, ketika Celine datang. Bahkan, wanita itu terus menelepon nomor Abra bak peneror yang ingin melibas korbannya. “Ah! Kenapa aku terlibat dengan wanita sekejam Celine?” ucap Abra sembari membalikkan badannya menatap langit-langit kamar plafon berwarna putih. Sekalipun masih ada pengaruh minuman alkhohol, pikirannya justru masih teringat kejadian sore kemarin. Reno yang baru saja selasai dari kamar mandi, kini hanya bergeleng kepala. Sudah pasti, sahabatnya itu habis bertengkar dengan Fara. “Kan, gue sudah bilang, Bro. Jangan terlalu banyak main!” ucap Reno detik berikutnya. Abra berangsur menoleh ke arah sahabatnya itu, meski dengan gerak malas bahkan mau tidak mau. “Sudah terlanjur, No!” jawabnya. “Gue enggak tahu apa penyebab pertengkaranmu kali ini. Tapi, gue tetap tahu apa yang ada di dalam hubungan kalian.” “Jangan sok tahu, No!” “Bagaimana aku enggak tahu, kalau loe justru mengaku saat mabuk berat tadi malam!” “Sorry, No.” Suara Abra berangsur memelan. Entah apa saja yang ia katakan tadi malam, tetapi sepertinya sebuah pengakuan. Sehingga, Reno justru tahu perihal pertengkarannya dengan Far. “Mandi, Bro! Loe harus kerja hari ini, jangan sampai Om Tyo telepon dan malah marah-marah sama gue,” ucap Reno memperingatkan Abra. Di sisi lain, ia tidak mau lagi jika menjadi tameng perlindungan bagi sahabatnya itu dari kemarahan Tyo—ayah Abra. Abra menghela napas dalam. Rasa malas seolah hadir ingin menguasai seluruh tubuhnya. Ia enggan untuk berangkat bekerja, terlebih dalam keadaan tidak enak di perasaannya. Ia hanya rindu, tetapi enggan untuk menghubungi wanita yang ia cintai berikut Fara Abela. Ya, kali ini Abra ingin sedikit jual mahal. Ia sudah muak jika terus memelas mengemis cinta pada wanita itu, pun meski dari kesalahan yang ia buat sendiri. Ia justru keras kepala menganggap Fara sebagai sumber dan alasan mengapa ia sering bermain api. Namun, karena tatapan tajam dari Reno seolah mencengkeram seluruh tubuhnya, Abra segera membangunkan tubuhnya yang tak memakai baju.  Sudah pasti, Reno tidak akan membiarkan dirinya membolos, tanpa sedikit pun mengerti kekalutan hatinya pagi ini. “Iya, iya, gue berangkat! Jangan menatap bak cinta sama gue!” tegas Abra, setelah merasa jengah sekaligus salah tingkah atas tatapan sahabat dan teman tinggalnya itu. Reno mengulas senyuman lebar, bak telah mendapatkan kemenangan. “Begitu, dong! Jadi, gue enggak berurusan sama papa loe lagi,” ucapnya lega. “Loe, sudah seperti mama gue. Bawel!” “Justru itu tugas gue sekarang, Bro. Selepas loe memilih tinggal sendiri di apartemen ini, gue sudah mendapat hak sebagai orang tua cadangan loe.” “Terserah deh, No! Gue mau mandi.” Abra tidak peduli lagi dengan ceracau dari Reno yang bahkan enggan berhenti. Ia menuju kamar mandi apartemennya itu dengan membawa handuk berwarna putih yang lebar, juga beberapa pakaian yang akan dikenakan. Namun, sesampainya di dalam kamar mandi, Abra justru bergeming. Ia tidak segera menyalakan shower atau bergegas melakukan ritual mandi lainnya. Bayang-bayang wajah Fara, bahkan Celine masih mengisi benaknya. Kedua wanita yang tentunya memiliki rasa cinta untuknya. Antara kekasih dengan hubungan tujuh tahun dan wanita mainan pengusir jengah dan bosan. Abra menelan saliva. Ia lebih berat jika harus kehilangan Fara, tetapi meyakinkan Fara selepas Celine datang dan bertatap muka secara langsung dengan wanita itu sepertinya sulit sekali. Lantas, apa yang akan ia lakukan setelah semua insiden itu? Mengharapkan Fara kembali? Namun, ia masih berpegang untuk tetap sok jual mahal. Agar Fara juga menyadari bahwa dirinya juga butuh kepercayaan, terlebih memiliki rasa lelah ketika sang wanita tidak mau mendengar penjelasan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN