Episode 9-Move On

1067 Kata
Alunan musik diskotik terdengar berisik, sebuah bar elite telah Abra singgahi bersama Reno—sahabatnya. Tak ada sebab lain kecuali demi menghilangkan sejumlah pikiran yang mengganggunya akhir-akhir ini. Sebotol wine pun digilir sebagai vitamin yang paling disenangi oleh para pengunjung bar itu. Abra telah menghabiskan dua gelas wine, bahkan berturut-turut tanpa jeda terlebih dahulu. Kondisinya, sudah sedikit linglung dengan kata lain sudah setengah mabuk. Senyum tipis mengembang manis dengan pandangan matanya yang mulai samar. “Memang, ini yang terbaik untuk melepas dahaga hati,” ucap Abra. Reno menepuk bahu sahabatnya. “Luapkan kekesalanmu, Bro!” ucap pria itu yang kesadarannya masih penuh lantaran demi menjaga Abra. “Persetan dengan wanita hahaha.” Abra sudah hampir dikendalikan oleh minuman berikut wine. Tidak ada lagi wajah Fara di benaknya, juga luka yang tertoreh sebab pertengkaran sore itu. Sementara, alunan musik yang begitu keras justru ia nikmati dengan goyangan sedikit, meski tidak ikut bangkit. “Memangnya dia siapa, hah?! Seenaknya mutusin gue!” Satu teguk, Abra sesap lagi wine yang dituangkan oleh seorang wanita penghibur. Kali ini, kesadarannya telah berangsur menghilang. “Faraaa! Gue cinta loe! Bodoh banget sih!” pekik Abra semakin menceracau. Reno hanya bisa tersenyum, sembari tetap setia menemani sahabatnya itu. Bukan hal asing bahkan aneh baginya, mendapati Abra yang tidak jelas ketika sedang dikuasai oleh minuman keras. Ia justru akan lega karena Abra tidak harus murung hanya karena satu orang wanita. Ya, kedua pria yang memiliki kebiasaan buruk. Namun, tidak pernah terlalu dipikirkan. Selama masih hidup, mereka akan menikmatinya dengan senang-senang. Tak peduli lagi saat ini tengah tinggal di negara yang penuh norma. Mereka masih dikendalikan oleh hawa nafsu dunia. “Abang, mau aku temani?” tawar seorang wanita bermake up tebal, ia mendatangi Abra dengan tingkah genit. Abra melirik wanita itu dengan malas. “Loe jelek, bukan selera gue!” tegas pria itu. “Jelek, tapi aku bisa memuaskanmu, Abang.” Abra mendengkus kesal. “Enggak akan! Pacar gue jauh lebih cantik daripada kamu! Pergiii!” “Ck, wanita nakal!” tambah Abra semakin berdecak kesal. Wanita itu pergi begitu saja, setelah rayuannya tidak mempan. “Hahaha ... tumben setia loe, Bro!” tanya Reno heran. “Fakta, No, Fara gue jauh lebih cantik. Sexy, dan hooot!” Reno menggigit bibir bawahnya. “Sudah loe apain aja dia, Bro?” Abra tak langsung menjawab, ia bergeming. Namun, senyumnya merekah di detik berikutnya. Fara, wanita yang ia cintai begitu polos dan selalu ia jaga selama ini. Pertanyaan Reno justru terdengar sangat konyol. Bahkan, sekedar mengecup bibir bisa dihitung menggunakan jari selama tujuh tahun menjalin hubungan. “Fara itu suci, dia wanita baik-baik. Mana mungkin gue apa-apain dia,” ucap Abra tersenyum bangga. Reno mendesis. “Tujuh tahun, bukannya rugi enggak ngapa-ngapain, Bro?” pancingnya. Abra menatap kedua manik mata sahabatnya itu seiring senyum yang mengulas di bibirnya. “Sampai kapan pun, sebelum menikah, gue enggak bakalan nyentuh dia. Sebrengseknya gue, gue mau istri gue wanita baik-baik, No!” Reno tepuk tangan mendengar jawaban mantap dari Abra. Terlebih, orang yang tengah mabuk pasti bicara dengan jujur. Hanya saja, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu memegang prinsip perihal wanita baik-baik dan tetap menjaga diri Fara, meski hitungan cinta mereka bukan hari bahkan bulan lagi. Reno menghela napas. Ia menarik tubuh Abra yang hendak terjatuh ke depan lantaran sudah sangat tidak karuan. Sedangkan, malam semakin larut hampir tengah malam. Namun, kegaduhan musik di bar itu justru semakin keras. Para tamu kompak bersorak, larut dalam suasana disko malam. Akhirnya, Reno mengambil keputusan. Ia memapah tubuh Abra yang sudah kehilangan kesadaran, mungkin hanya ceracau kecil yang sesekali keluar dari mulut Abra. Reno dengan sigap membawa sahabatnya keluar dari bar. Beruntung, ia tetap menahan diri untuk tidak menyentuh wine atau jenis minuman keras apa pun. Di sebuah area parkir, dengan susah payah Reno memasukkan tubuh Abra ke dalam mobil yang ia bawa. Kemudian, ia menutup pintu di mana Abra berada dengan rapat. Detik berikutnya, Reno mengambil posisi untuk memegang kendali kemudi. Pria yang merupakan sahabat karib Abra itu perlahan melaju kendaraannya, meninggalkan tempat penuh dosa. “Fara ... Fara ... Fara ....” Abra masih bergumam, nama wanita yang sangat ia cintai terus ia ulangi. “Gue enggak nyangka, bos besar bisa segila itu sama cewek,” sahut Reno. Meski ia tahu Abra tidak akan merespon, bahkan mendengarnya sama sekali. “Cinta ... Fara ... cinta ....” Reno menghela napas, bahkan kesekian kalinya. Bisa terhitung ribuan kali ia menggeleng sebab sikap Abra karena patah hati. Masih sama seperti sebelumnya, ia tidak habis pikir mengapa Abra tetap mencintai dan mempertahankan wanita itu. Ia pun sudah jengah bahkan bosan, ingin bertanya. “Mending lamar dia saja, daripada diputusin mulu’.” Reno memberikan saran, sedangkan kedua tangannya masih tetap sibuk melaju mobil. **** Fara meraih ponselnya dari atas nakas. Ia menghela napas dalam, Abra benar-benar tidak menghubunginya. “Ck, lihat saja! Aku besok benar-benar mau move on!” ucap Fara sembari mendengkus kesal. Meski, tadi sore ia sudah membulatkan tekad untuk melupakan pria itu, tetapi ia masih meninggalkan sedikitnya harapan malam ini sebelum esok hari. Namun, ia kembali dikecewakan oleh ponsel yang sejak tadi bergeming. “Sudahlah! Telepon Dewi saja, sama-sama jomblo!” Fara segera mencari nomor ponsel sahabatnya itu. Tidak peduli lagi perihal Abra yang masih ia berikan kesabaran hingga detik ini. Setelah, beberapa detik kemudian, panggilan keluarnya dijawab oleh Dewi. Senyum riang terlukis di bibir Fara. “Iya, Far, kenapa?” tanya Dewi dari kejauhan sana. “Dew, ... aku sudah benar-benar putus sama Abra!” jawab Fara. “Halah, palingan balik lagi nanti.” “Serius, Dew! Dulu ‘kan balik kalau dia minta maaf, ini udah dua hari enggak hubungin aku. Jadi, aku putuskan buat move on!” “Yang bener?” “Iya, Dew. Aku yakin, aku juga mau buktikan, kalau aku bisa lepas dari cowok b******k itu!” “Ya, ya, ya.” “Dewi! Aku serius, kamu dukung dong!” Meski, dari kamarnya sana, Dewi malah tersenyum kecut tidak percaya. Namun, ucapan dan niat Fara berangsur menggoyahkan hatinya. Wanita itu berpikir sejenak. Sampai akhirnya, muncul ide gila dari otak Dewi. “Far, serius mau move on dari Abra?” tanya Dewi. Fara mengangguk, meski ia tahu Dewi tidak melihatnya. “Iya, aku yakin!” “Ya sudah, besok aku comblangin kamu saja. Biar makin enak dan cepat lupain cowok itu.” Dahi Fara mengernyit. “Maksud kamu?” “Mm ... kamu tahu, ‘kan? Pak Sony suka sama kamu?” Fara terkesiap mendengar itu. Bagaimana bisa justru Sony yang muncul sebagai ide sahabatnya itu? Dekat saja tidak, kecuali dalam hal pekerjaan. “Jangan aneh-aneh, Dew! Aku sama Pak Sony hanya sebatas atasan dan bawahan.” “Enggak, Pak Sony menyukaimu lebih dari itu. Ayolah, coba saja, Far. Siapa tahu kamu bisa lupain Abra berkat kedekatanmu sama Pak Sony. Kalau masalah cara, aku bisa atur.” “Dewi, aku memang ingin move on. Tapi, enggak begitu caranya. Kesannya, justru jahat banget kalau aku memanfaatkan Pak Sony, terlebih perasaannya.” Dewi menghela napas. “Ya sudah, terserah kamu saja!” ucapnya sembari mematikan panggilan itu secara sepihak. Ulah Dewi sukses membuat Fara terkesiap. Wanita itu justru marah padanya, padahal yang dibahas adalah dirinya. “Pak Sony? Benarkah dia menyukaiku?” gumam Fara di detik berikutnya    ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN