Episode 10-Perbedaan Misi

1996 Kata
Pagi hari yang cerah, dengan awan-awan menggumpal berwarna putih di angkasa sana. Kicau burung terdengarnyaring, menambah suasana pagi itu semakin hangat, meski angin masih terasa sejuk menerobos pori-pori kulit manusia.  Fara telah terbangun, bahkan bersiap untuk merias wajahnya yang ayu. Wanita bermata bulat dan jernih itu, tengah menatap bayangan dirinya di dalam pantulan cermin rias. Sesekali, ia menghela napas, karena kepingan luka masih bersarang di hatinya. Namun, mulai pagi ini dan detik itu juga, Fara benar-benar telah membulatkan tekad untuk melupakan pria yang mengisi hidup juga hatinya selama tujuh tahun. Ya, Abra Alexander—direktur muda—dengan segudang prestasi juga harta, meski warisan dari orang tuanya. “Baiklah ... aku akan melupakanmu, Abra!” Fara mengepalkan telapak tangan kanannya, lalau mengangkatnya sampai ke telinga. Niatnya sudah benar-benar besar, bahkan bulat. Meski, ia mengakui bahwa rasa cinta itu masih tetap ada, tetapi mencoba tidak ada salahnya, bukan? Tak seperti di hari kemarin, saat ini senyum Fara mengembang lebar. Tidak ia pedulikan lagi perihal rasa sakit hati. Jika bisa, ia ingin memilih untuk mati rasa saja. Jika seorang pria justru membebani hidupnya, lebih baik ia tak mengenal sosok lawan jenis itu. “Hari ini, semua kenangan kita, barang-barang yang kamu kasih, aku bakal bakar semua,” ucap Fara, yakin. Sudah terhitung tiga hari semenjak pertengkaran yang terjadi di sore itu. Sudah waktunya Fara memasang wajah ceria. Tak semata karena tidak ingin larut dalam kesedihan, melainkan tidak ingin membuat Ima dan Surya khawatir. Ia juga sebenarnya malu pada Dewi. Fara mulai meratakan sebuah foundation di kulit wajahnya, sebuah jenis kosmetik berwarna senada dengan kulit dengan bentuk gel. Ia memoles sampai terserap penuh. Setelah itu, ia bubuhkan bedak padat menggunakan sebuah spons berbentuk telur. Begitu saja, kecantikannya sudah bertambah, apalagi jika ditambahi dengan kosmetik lain. “Hmm ... dia memang cantik, tapi aku juga bisa lebih cantik tuh,” gumam wanita itu sembari tersenyum. Sdangkan benaknya justru terlintas wajah Celine, salah satu wanita mainan Abra dan penyebab hancurnya hubungannya dengan pria itu. Fara memilih lipstik berwarna merah maroon, agar membuat bibirnya lebih terang daripada biasanya. Bagi wanita, tampilan wajah dan pakaian bisa digunakan sebagai tameng diri. Bukan hanya memperlihatkan sisi berbeda dari orang itu, tetapi mampu menyamarkan segala perasaan sedih yang tertanam di hati. Sama halnya dengan para wanita lain, Fara pun demikian. Hari ini, ia ingin tampil berbeda. Lebih mencolok pun, tak apa. Ia tak mau lagi terlihat lesu, bahkan sampai terlihat sangat putus-asa sebab kehancuran hubungan cinta  tujuh tahun miliknya dan Abra. Wanita bermata bulat itu menghela napas dalam. Ia mengulas senyum lebar di bibir yang telah berwarna merah maroon. Binar matanya terbilang cerah, memancarkan cahaya harapan. Tidak ada lagi Abra di hidupnya, untuk detik ini, bahkan sampai nanti. Meski, kenyataan kadang tak sesuai ekspetasi, terlebih rencana. Bukan perkara mudah bagi Fara untuk membuang Abra begitu saja dari benak, hati, bahkan hidupnya. Namun, untuk mengharapkan sesuatu dari sekian hal yang sudah meluluhlatakkan hatinya tampaknya bukan sesuatu yang salah. Terlebih lagi, jika Abra sudah tidak menghubunginya sama sekali, tidak meminta maaf atau sekedar bertanya sedang apa. Lalu, wanita bermata bulat itu berdiri dari duduknya. Semua ritual berias telah selesai. Ia terlihat sangat cantik, juga paduan kemeja dan androk span melilit tubuhnya memancarkan kesan elegan seorang wanita berkelas. Ia menyambar tas jinjing yang sudah terisi penuh dengan berkas, dompet, juga ponsel. Setelah itu, Fara mengambil langkah untuk keluar dari kamar putih s**u di mana ia tidur setiap malam. Alunan nada ia dendangkan, untuk menambah kesan ceria, meski hanya sebuah tameng dari nestapa yang menaungi hatinya. “Selamat pagi, Izam,” sapa Fara pada bocah kecil yang saat ini tengah asyik di dalam sebuah stroller. Wanita itu merunduk, lalu memberikan kecupan manis di kening Izam. Layaknya, bayi kebanyakan, celoteh juga tawa kecil Izam lempar. Seolah, ia mampu mengerti dan ingin membalas sapaan pagi dari tante cantik itu. Ima yang baru datang dari dapur, memperhatikan adiknya secara diam-diam. Ia berpikir sejenak, rasa heran menyelimuti hatinya detik itu juga. Bagaimana tidak, jika Fara terbilang lebih semangat dan kontras dengan apa yang terjadi dengan sang adik di hari sebelumnya, terhitung semenjak pertengkaran sore itu. Lalu, ibu dari satu anak itu menghela napas. Ia melangkah lebih maju mendekati Fara dan Izam di ruang tengah dekat dengan dapur. “Pagi, Far, mm ... ceria banget?” Ima melipat kedua tangannya, meski kerutan tipis hadir di dahinya. “Kamu habis dapat rezeki apa? Oh, ... habis mimpi apa?” Fara menoleh ke arah Ima berada. Ia mengulas senyum paling manis di bibirnya. “Aku hanya ingin bahagia saja kok, Kak,” jawabnya. Ima semakin heran. Bahkan, kali ini rasa herannya semakin bertambah melihat perubahan wajah Fara. Sejak kapan adiknya itu memakai lipstik dengan warna mencolok? Yang Ima tahu, selama ini Fara justru menghindari warna-warna semacam itu. “Yakin, Dik?” Far mengangguk. “Aku yakin.” “Hmm ... jangan-jangan kamu balikan lagi sama cowok itu, ya? Terus saking senangnya, kamu rubah gaya kamu.” Fara terkekeh. “Mana ada, Kak? Aku enggak balikan sama dia, dan enggak akan!” Kini, giliran rasa kaget yang menyelimuti hati Ima. Penegasan dari Adiknya itu, terbilang jarang, mungkin hanya sekali. Jika biasanya, hanya bicara, tetapi tanpa bukti. Dan Fara tidak pernah mengucapkan hal itu secara tegas, karena pada saat itu wanita yang merupakan adik Ima lebih banyak berharap kembali daripada pergi. Namun, kali ini justru berbeda, membuat Ima mau tidak mau terkesiap detik itu juga. Ima menghela napas dalam. Ia berjalan satu langkah lagi, sampai mendekati diri Fara. Lalu, wanita beranak satu itu memberikan sentuhan halus pada pundak Fara. “Yakin, kamu sudah enggak apa-apa?” tanya Ima, bukannya bersyukur sebab penegasan dari sang adik beberapa saat yang lali, rasa khawatir justru turut ada di dalam hatinya. Fara mengangguk, masih dengan senyum lebar yang ia kembangkan sejak tadi. “Aku enggak apa-apa, Kak. Jangan khawatir,” jawabnya.   “Kakak bersyukur kalau kamu sudah memiliki tekad yang kuat sebab hubungan kalian, tapi Kakak enggak mau kamu sok kuat. Bahkan, sampai menghilangkan ciri khas kamu, mengenai wajah yang saat ini justru bermake up tebal kontras dari sebelum-sebelumnya.” “Aku hanya ingin tampil beda sebagai bentuk semangat baru, Kak. Dan, ... bukannya Kakak senang kalau aku bisa lepas dari Abra?” Ima tertunduk, menelan salivanya dengan susah payah. Ia merasa bersalah, menyadari kesalahannya yang terkesan ikut campur dalam hubungan Fara dan Abra. “Kakak hanya enggak mau kamu dibodohi dalam waktu yang lama.” Fara tersenyum. Ia menggenggam tangan Ima beberapa detik setelah menatap wanita yang merupakan kakak perempuannya itu. “Aku juga ingin lepas. Kakak enggak perlu khawatir, karena aku yakin dengan keputusanku, Kak. Tapi, ... Kak Ima jangan terlalu membenci Abra. Bukan hanya dia yang salah, kesalahn timbul di antara kami berdua, enggak ada kepercayaan di antara kami. Juga aku yang selalu curiga sampai membuat dia jengah dan memutuskan untuk bermain api sebab kecurigaanku yang enggak berdasar selama ini.” Fara melepas tangan Ima. Ia menghela napas dalam sembari mendongak menatap langit-langit ruangan itu. Sejujurnya, masih ada buliran air mata yang ingin mengalir membasahi mata juga kedua pipinya. Namun, Fara tetap bertahan, ia tidak mau kembali lemah apalagi jika sampai membuat Ima semakin khawatir. “Baiklah, aku mau sarapan, Kak. Mas Surya sudah berangkat, ya?” ucap Fara sesaat setelah berhasil menenangkan gejolak dalam dirinya. Ima mengangguk. “Iya, Dik, Mas Surya ‘kan jam tujuh sudah mulai kerja. Kalau kamu ‘kan jam delapan. Mm ... lauknya masih banyak di meja biasa, kalau mau kerupuk ada di emari kecil dekat rak piring.” Fara mengangguk. Ia berlalu meninggalkan sang kakak juga keponakannya untuk menuju ruang makan. Bukan hanya untuk segera menghindari pembasahan seputar Abra terlalu lama, juga karena jam yang semakin mendekati waktu kerjanya. **** Mata Abra masih menyipit. Pria berdada bidang itu mengerjabkan kedua manik matanya untuk memperjelas pandangannya. Langit-langit kamarnya terlihat sesaat setelah ia melakukan hal itu. Abra membangunkan tubuhnya dengan gerakan tangan yang sibuk menekan pelipis karena rasa pening yang bersarang. “Sialan, gue kesiangan,” umpat Abra lirih. Aroma alkohol masih begitu kuat melekat di bibirnya. Membuatnya semakin malas untuk terbangun sebab pening akibat alkohol memang masih ada. Hingga akhirnya, ia memilih untuk merebahkan diri kembali. Abra menghela napas dalam. Wajah Fara kembali menghiasi pikirannya. Hingga detik ini, wanita yang sangat ia cintai itu tidak kunjung hadir, meski sekedar melalui pesan di ponsel. Pertanyaan perihal perasaan spontan muncul, apakah Fara sudah benar-benar ingin lepas darinya? Sedangkan, selama ini mereka menjalin cinta dalam waktu yang lama, putus dan nyambung adalah hal yang biasa. “Masa’ gue yang harus minta maaf duluan lagi sih?” Mata Abra terbuka lebar, seolah tengah mencari jawaban di sela-sela langit-langit kamar. Sesekali ia menghela napas dalam, menyesali sikap Fara yang tidak pernah berubah. “Bro!” Seru Reno. Pria itu masuk begitu saja ke dalam kamar sahabatnya. Setelan jas dan celana bahan khas orang kantoran telah membalut tubuhnya. Pria itu membawa nampan berisi segelas s**u putih. “Redakan mabuk loe dulu, Bro,” tambah Reno sembari meletakkan berikut nampan berisi s**u itu. Abra berpaling ke arah Reno. Lalu, dengan gesit ia bangkit. Tangannya mengulur mengambil s**u itu dari atas nakas. Lalu menyesapnya dengan cepat. Abra mendesah lega. “Nikmat, No. Big thanks,” ucapnya. “Loe izin saja, gue bisa bilang loe sakit sama bokap loe.” Reno tersenyum, juga prihatin sebab kondisi Abra yang terbilang kacau pada saat ini. Terlebih, tadi malam Abra tak henti-hentinya menyebut nama wanita itu berikut Fara. “Gue bisa atur pekerjaan, dan serahin sama tangan kana loe.” Abra mengangguk. “Sip, No! Eh ....” Dahinya mengernyit sebab ingatan samar perihal saran dari Reno tadi malam. “Apa lagi? Butuh sesuatu, cepetan. Ini sudah siang, Bro.” “Loe tadi malam, bilang soal lamaran, ‘kan, No?” Reno mengangguk. “Ya, kenapa memangnya?” “Enggak, ingat saja.” “Ya sudah, cepat lamar dia, Bro. Biar enggak diputusin melulu.” Reno menghela napas. “Oke! Sepertinya saran gue bisa loe pertimbangin. Gue mau berangkat. Sarapan sudah siap di meja. Emak loe ini kurang apa coba?” “Hahaha ... thanks, Mak.” Tawa keduany menggelagar, begitu berisik khas suara pria, mengisi hampir seluruh ruangan iu. Namun, perasaan lega di sela keprihatinan hadir di hati Reno detik itu juga. Sahabatnya telah melebarkan tawa, kendati ada rasa sakit sebab luka dari Fara di hati Abra. Bahagia di atas luka memang terkesan miris bahkan ironis, tetapi tidak ada yang salah ketika seseorang bisa sedikit lega setelah sempat gundah gulana. “No, sebentar,” pinta Abra, membuat Reno membatalkan putaran badannya. “Apa lagi?” tanya Reno sembari mengernyitkan dahi. “Gue ...  gue mau buat suprise buat lamar dia.” “Yakin? Kalian ‘kan sudah putus, dan saran gue hanya sebatas kelakar saja, Bro.” Abra mengangguk. “Fara enggak pernah bisa lepas dari gue. Dan ... misal gue datang lagi, dia pasti mau balikan sama gue.” “Terus? Rencana kapan?” “Karena surprise, gue mau menghilang dulu sambil siapi lamaran kejutan buat dia.” “Menghilang? Bukannya terlalu beresiko? Kalau Fara dapat cowok baru bagaimana?” “Sudah gue bilang, Fara enggak mungkin bisa lepas dari gue. Loe bantu atur ya nanti?” “Oke.” Reno manggut-manggut. Kendati demikian, rasa khawatir justru hadir. Mengenai keyakinan Abra terhadap Fara yang tidak bisa berpaling. Namun, apakah keyakinan itu akan sesuai yang sahabatnya itu harapkan? Sedangkan status hubungan mereka sudah putus. Ingin sekali Reno menyanggah. Setidaknya, Abra harus mendatangi Fara sebelum memberikan lamaran kejutan itu. Bukan tanpa sebab, melainkan kegusaran hatinya takut jika Fara sudah mendapatkan pria selain Abra. Namun, ia tidak kuasa mengatakannya, terlebih mata Abra kini lebih berbinar daripada sebelumnya juga senyum sahabatnya itu yang berangsur melebar. “Semoga, enggak ada apa-apa nanti,” batin Reno. “Baiklah, gue berangkat, Bro! Gue siap bantu kapanpun,” ucap Reno detik berikutnya. Abra menyudahi imajinasi perihal lamaran itu. Ia menatap Reno. “Oke, hati-hati. Urusan kantor, tolong urus dulu. Kalau sudah mendingan, gue berangkat,” jawabnya. “Jangan terlalu dipaksa. Istirahat dulu saja.” “Oke, Mak!” “Hahaha.” Reno berbalik. Langkahnya kembali diambil untuk keluar dari ruangan itu, bahkan apartemen. Kini, tinggal seorang Abra. Pria itu kembali mengulas senyum lebar sesaat setelah Reno berlalu. Imajinasinya bermain, perihal cara apa yang manis untuk prosesi lamaran nanti. Tidak peduli akan status hubungannya dengan Fara saat ini, bahkan seluruh luka yang ia dapat sebab pertengkaran sore itu. Bagi Abra, ide dari Reno cukup brilian. Daripada selalu diputuskan juga bertengkar, lebih baik ia segera melaksanakan lamaran. Keyakinan Abra semakin besar tatkala mengingat perasaan wanita yang ia cintai itu. Perasaan cinta sekaligus bergantung wanita itu terhadap dirinya. putus dan nyambung sudah biasa di dalam hubungan mereka. Abra yakin, Fara tetap akan menerima dirinya, terlebih sebuah lamaran. Ia tahu Fara sangat menantikan hal itu. Status resmi dan pasti untuk cintanya. “Akan kubuat kamu kembali padaku, Far, bahkan kali ini sebagai istri bukan pacar lagi,” gumam Abra. Kedua sejoli yang saat ini tengah berbeda prinsip. Fara lebih ingin melepad Abra, sebab pria itu tidak kunjung menghubunginya untuk meminta maaf. Lalu, Abra yang justru merencanakan seputar lamaran. Lantas, apakah mereka berhasil menyelasaikan misi masing-masing? Jika kenyataannya, justru berbanding terbalik, bahkan bersinggungan satu sama lain. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN