Hari berikutnya, masih di kediaman Reno dan keluarganya. Baru saja, Abra terbangun dari tidurnya. Ia telah bebersih diri, dan kini tengah merenung di lantai dua. Ada sebuah ruang kosong, biasanya dipakai untuk bersantai oleh penghuni rumah itu. Mentari masih malu-malu untuk terbit di ufuk timur, tetapi hari sudah lumayan terang. Udara dingin masih menyapa kulit Abra, membuatnya sesekali mengusap lengannya supaya lebih hangat. Kendati, udara cukup dingin, tetapi terbilang sejuk untuk dihirup oleh pernapasan. Abra lantas menghirup udara dalam-dalam. Kemudian, ia mengulas senyuman seiring rasa nyaman yang menyisip ke dalam hatinya. “Lebih enak rumah sendiri ‘kan, Bro.” Tiba-tiba suara Reno terdengar. Pria itu baru saja naik dari lantai satu dan menuju di mana Abra berada. Sementara kedua

