Selepas merenung selama satu jam di restoran itu, akhirnya Abra memutuskan untuk bangkit. Kendati rasa tak nyaman di hatinya masih bersarang membentuk selimbu, Abra masih mencoba tersenyum. Mungkin keinginannya untuk memiliki keluarga normal sehangat keluarga lain hanyalah sebatas mimpi. Ayahnya tak mungkin menerimanya lagi, terlebih setelah insiden malam ini. Untuk saat ini, diberi pekerjaan, uang, dan makan saja sudah cukup bagi Abra. Kendati ia masih terluka sebab dirinya hanyalah sebatas aset bagi Indra. Sampai-sampai, Indra hendak menjual dirinya pada keluarga Hermawan dengan jalan perjodohan. Ia tahu betul, jika ayahnya itu berhasil menjadi besan pengusaha sebesar Hermawan sudah pasti banyak keuntungan yang didapatkan. Sayangnya, Abra tidak bisa mengabulkan keinginan Indra. Abra me

