Langkah kaki Fara begitu gontai menyusuri jalan setapak pinggiran jalan raya. Wajahnya begitu sendu, kedua mata bulatnya sesekali masih meneteskan air mata. Pertemuannya dengan Celine benar-benar membuka luka yang ia coba tutup perlahan-lahan. Juga, keinginan dari wanita itu ia nilai sebagai sebuah keegoisan. Kendati, Celine bisa dikatakan sebagai korban, bukankah seharusnya wanita itu lebih memahami kondisi Fara saat ini? Namun, ia justru memaksa Fara untuk mengatakan jawaban sesuai keinginannya. Dan, memangnya Abra sebuah barang yang bisa diserahterimakan begitu saja? Tidak! Bahkan, Fara sendiri tidak bisa memutuskan apa pun saat itu. Fara tidak bisa memaksa Abra untuk kembali padanya layaknya Celine, meskipun sangat ingin. Fara juga tak bisa melemparkan Abra pada wanita itu, karena s

