Kedua sejoli itu tengah berjalan bersama menyusuri jalan sempit dari sebuah taman. Pendar lampu malam, begitu menyilaukan membuat Sony sesekali menepis cahaya dari alat penerangan itu. Juga, tak ingin ia melewatkan kebersamaannya dengan Fara malam ini. Kendati, ia sempat merasa sesak sebab wanita yang ia puja menyebut nama mantan kekasihnya. Namun, layaknya sebelumnya, Sony hanya menahan setiap perih yang datang dan seolah menikam. Semua karena Fara. Ya, wanita bermata bulat nan jernih itu, wanita yang begitu menawan di mata Sony bahkan ketika sedang kesal sekalipun. Entah, sepertinya Sony sudah benar-benar terperangkap dalam asmara tak pasti. Sony menghentikan langkah. Diputarnya badan sampai menghadap Fara. Lalu, ia mengulas senyuman. “Cukup nyaman, ‘kan, suasana di sini, Far?” tanyany

