Rinjani menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan, wajahnya kini sudah memerah. Sementara Fiovi berekspresi datar dengan tatapan tajam terarah padanya. "Pak, a-anu," Bibir laki-laki tersebut memang terkunci rapat, tapi dari tatapan matanya Rinjani tahu, laki-laki itu menginterogasinya lewat tatapan itu, tatapan yang seakan mengatakan: "Beraninya kau menggunakan kamar mandi ini!!!" Rinjani meneguk ludahnya, bibirnya mencoba mengulas senyum, senyum yang dipaksakan dalam keadaan mencekam. Yah, mencekam baginya. Tapi senyuman itu malah jadi terlihat aneh sekarang. "Sa-saya tadi melamun sampai gak sadar masuknya ke sini. Emmm ba-bapak jangan salahin saya, salahin aja kaki saya kenapa tiba-tiba masuk ke sini, padahal otak saya belum sinkron berpikir harus masuk yang mana. Hehe ...." R

