Sepasang mata bening itu terpaku, bukan karena terkejut tetapi lebih kepada mencoba mengenali. "Rinjani ...." Laki-laki yang memakai jas hitam dengan dasi yang begitu rapi itu berlutut. Satu kakinya ditekuk, sedangkan satu lainnya menempel di bumi. Sepasang mata coklat terang yang biasa menatap tajam itu sorotnya kini berbeda, terlihat berduka seakan ia ikut merasakan segala duka Rinjani. "Biar saya antar kamu pulang. Dimana kontrakan kamu?" Rinjani mengerjap menatap sosok lelaki yang mirip Fiovi. Bukan mirip sebenarnya, tapi memang dia adalah Fiovi. Rinjani tidak bisa menegaskan lagi, ketika tubuhnya semakin menggigil, kepalanya berdenyut nyeri, pandangannya berkunang-kunang, dunianya berputar. Lalu payung yang sedang digenggam Fiovi terlepas begitu saja, saat laki-laki itu dengan si

