Bab 1keluarga kecil sederhana.
Robi Idris. 38 tahun, seorang pekerja keras, bekerja serabutan demi menghidupi keluarga kecil nya. Julia Miranda, 34 tahun, seorang istri yang kesibukan nya bukan hanya menjadi Ibu rumah tangga biasa, demi rupiah, dia juga bekerja membantu tetangga yang sedang membutuhkan tenaga lepas, seperti bantu-bantu cuci piring atau membuat kue lalu menitipkan nya di warung-warung tetangga .
Miranti Humaira, 14 tahun, gadis cantik kelas 8, SMP, sedangkan Iqbal Kasyafani, 12 tahun, kelas 6 SD, mereka bersekolah tidak begitu jauh dari rumah.
Jarak usia Ranti dan Iqbal beda dua tahun.
Hubungan persaudaraan mereka
sangat dekat, akrab dan
hangat seperti sekarang ini.
"Kak! Nanti bantuin Iqbal kerjain PR sekolah,ya ?" Pinta Iqbal pada Ranti yang sedang berada di wastafel.
Iya ...tapi nanti ya habis kakak cuci piring. " Ucap Ranti sambil
membersihkan piring dari
sisa sabun. Setelah selesai mencuci piring Ranti segera
mengelap tangan nya hingga
kering. Kemudian berjalan
menghampiri Iqbal yang
sedang belajar di meja
makan. Di periksa nya pe er yang di kerjakan oleh Iqbal tadi. "Hmm...cuma salah satu." Ucap Ranti sambil memukul pelan bahu adik nya. Tanpa ada suara Iqbal memperbaiki pe er nya. Ranti dan Iqbal memang sering belajar bersama dalam mengerjakan tugas sekolah di meja makan, kondisi rumah mereka yang kecil.
"Sudah Ibu siapkan sarapan. Ayo di makan nasi goreng nya nanti keburu dingin! " Ucap Ibu, Julia, sambil menata sarapan pagi di meja makan yang sederhana. "Ayo buruan kak" Seru Iqbal pada Ranti, sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut nya. "Iya kakak buru-buru juga niyh!"Jawab Ranti sambil mengunyah nasi goreng nya, dan segelas teh manis hangat pun habis tak tersisa. Sang Ibu merasa puas melihat hasil jerih payah nya pagi ini di habiskan dengan cepat.
Ranti dan Iqbal berangkat sekolah bersama. "Ayok Bal jalan bareng ke depan, kita tunggu mobil angkutan di pertigaan." Seru Ranti mengajak jalan Iqbal bersama menuju pertigaan jalan.
"Kakak duluan Bal! " Seru Ranti memegang bahu sang adik.
"Hati-hati Bal! "
"Kakak yang hati-hati! " Cetus Iqbal, sadar bahwa sang kakak memang cantik, tapi pendiam.
Tak lama mobil angkut yang membawa kakak nya pergi, Iqbal mulai berjalan kaki menuju ke sekolah nya. Baik kakak atau orang tua nya tidak ada yang tahu kalau Iqbal sering berjalan kaki ke sekolah nya untuk menghemat uang, menyadari keluarga nya memang miskin.
"Aduh panas banget! " Ucap nya sambil mengelap keringat yang menetes di dahi nya.
"Sebentar lagi juga nyampe. " Ucap nya lemas berjalan tidak bersemangat karena kelelahan.
"Emang kamu enggak naik mobil angkutan Bal? " Seru Ranti tiba-tiba sudah berada di belakang Iqbal. Dan Iqbal terkejut mendengar suara kakak nya yang lembut. "Ah enggak kok Kak, Iqbal tadi turun nya di dekat situ trus jalan kaki sebentar. " Ucap nya berbohong, padahal dia berjalan kaki dari sekolah.
Di waktu senggang, Ranti dan Iqbal sering menghabiskan waktu bersama keluarga, seperti menonton acara televisi bersama
"Kamu sudah mengerjakan
pe er Bal?" Tanya Ibu pada
Iqbal yang sedang menonton acara televisi. Iqbal menoleh ke arah sang Ibu yang sedang menjahit kancing baju sekolah nya yang lepas.
" Udah Bu, kan dua minggu lagi Iqbal ada ulangan." Sahut nya lagi.
"Ran! Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Ibu lanjut.
"Sudah dong Bu." Ranti menjawab tanpa mengalihkan pandang nya dari acara televisi yang sedang mereka tonteon. Tok! Tok! Tok! " Ayah! Kalau masuk ke dalam rumah, kasih salam dong! " Sungut Ibu kesal sambil membuka handle pintu.
"Suami pulang bukan nya bukain pintu."Ayah menoleh ke Ibu yang sedang menutup pintu. "Assalamu'alaikum! Begitu maksud Ibu. Ayah kalau sudah masuk rumah marah-marah terus, marah nya sama siapa? Marah nya di mana? Malah orang rumah yang di marahin! " Gerutu Ibu sambil melanjutkan menyapu lantai rumah. Keributan kecil yang seperti itu yang sering kami saksikan.