BRAK! Terdengar suara bedebam yang mengagetkan. Sebuah pintu berwarna putih terlihat terlempar sejauh lima meter. Sosok tinggi besar terlihat meremas alat pengenal identitas hingga hancur. Ah, rupa-rupanya dia menendang pintu karena muak dengan alat identitas yang tidak bisa mengenali wajahnya. Sudah pasti ini merupakan ulah seseorang yang tidak ingin terkena pukulan mematikannya. “Gold!” Lelaki tinggi besar itu berteriak marah pada sesosok pemuda dengan surai pirang yang tengah mengelap handgun perak berlogo mahluk mitologi—chimera. Ditariknya kerah si pemuda setelah melayangkan pukulan telak didagu. Beruntung, Gold tidak membalas pukulan tersebut. Dia hanya terkekekeh seraya menempelkan ujung Dessert eagle mark XIX handgun pada kening si lelaki bermahkota merah itu. “Hei, hei jauhkan

