DIA MASIH MEMBAYANGI HIDUPKU

1008 Kata
hari hari berlalu begitu saja hingga tiba waktunya aku melamar dita,, kedua orang tuaku dan keluarga dikampung sudah datang dirumahku 2 hari yang lalu mereka benar benar mempersiapkan semuanya dengan baik, karena bagi keluarga dan orang tuaku ini adalah saat saat yang mereka tunggu, mengingat usiaku yang menurut mereka terlamabat untuk membangun keluarga, tetapi mereka bersyukur akhirnya ada seorang wanita yang mau menerima aku apa adanya.. aku melihat wajah wajah bahagia terutama kedua orang tuaku, mereka terlihat begitu bangga denganku anak semata wayangnya akhirnya memiliki tambatan hati, wanita yang cantik, baik, sopan dan yang paling utama mau menerimaku apa adanya. kamipun berangkat menuju kampung halaman dita beberapa mobil berjalan beriringan, jantungku berdebar debar, sebentar lagi aku memiliki seorang istri yang nantinya akan selalu ada bersamaku setiap saat. setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan tibalah kami di rumah orang tua dita. keluarga dita menyambut kami wajah wajah bahagia pun juga terlihat di keluarga dita, hanya satu yang terlihat hanya diam dan duduk di sudut depan rumah.. ya siapa lagi kalau bukan mbak runi, entah apa yang ada di pikiran mbak rubi yang jelas aku tidak ingin acara ini gagal berantakan, karena hari inilah yang sangat ditunggu tunggu keluargaku. tiba tiba dita muncul dari dalam rumah, jujur aku sangat terpana hingga tak bisa berkata kata, dita terlihat begitu anggun, cantik dengan riasan sederhana dibalut baju kebaya putih.. semua orang memuji muji kecantikannya, bahkan keluargaku seakan tak percaya calon istriku secantik ini. acara segera dimulai, diawali sambutan keluarga dita, dilanjutkan penyampaian niat kedatangan keluargaku untuk melamar dita untuk aku.acara berjalan lancar sampai aku memasangkan cincin tunangan jari manis dita, ketika acara kebersamaan semua orang sibuk mengobrol satu sama lain, bercanda sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan keluarga dita. ada pemandangan yang cukup berbeda aku melihat mbak rubi termenung di sudut ruangan terlihat matanya sedikit sembab,, aku yang saat itu berdua dengan dita mendekati mbak rubi, dita coba bertanya dengan mbak rubi. "mbak... mbak kok disini ada apa" seketika mbak rubi memeluk dita dan menangis. "dit maafin mbak ya... kalian baik baik ya, jika ada masalah di bicarakan baik baik, jangan sampai berpisah" aku dan dita tercengang, ada apa dengan mbak rubi. apakah dia ada masalah yang serius dengan suaminya?.. aku merasa bersalah sama mbak rubi. dita menepuk dan mengusap punggung mbak rubi. "mbak ada apa cerita sama aku" mbak rubi mengusap air matanya terdiam sejenak. " aku mau di ceraikan sama suamiku" seperti tersambar petir aku dan dita saling melihat, seakan tak percaya dengan apa yang ucapkan mbak rubi. dita menghibur mbak rubi mencoba sedikit menenangkan hatinya. akhirnya mbak rubi sedikit tenang dan memegang tanganku berkata. "kamu jangan sakiti adikku ya, jaga dita baik baik" aku mengangguk dan berkata "ya mbak aku janji akan menjaga dia sampai maut memisahkan kita" lalu kamipun ngobrol, dan bercanda seperti yang lainya. kami merasa sangat bahagia. setelah hari pernikahanku dengan dita yang sudah di sepakati bersama tiba. semua persiapan juga sudah terlaksana, mulai dari tenda, catering,dekorasi pelaminan semua sudah siap. tetapi ada satu hal yang masih mengganjal. hari ini adalah hari bahagia buat semua keluarga, tetapi apakah mereka tau mbak rubi sedang menghadapi masalah besar dalam rumah tangganya. aku melihat semua sibuk mempersiapkan semua dengan wajah bahagia hanya mbak rubi yang berbeda, aku bisa melihat jelas dari pandangan dan sorot matanya yang kosong. apakah mungkin mbak rubi menyembunyikan masalahnya dari semua orang, karena dia tak mau membuat hari bahagia adiknya dita dan keluarga berantakan. Tamu undangan mulai satu persatu datang, semua menyambut dengan senyum kebahagiaan. hidangan untuk tamu pun sudah tertata rapi di atas meja panjang. dari kejauhan datang mobil hitam dan berhenti di ujung jalan, ketika seseorang keluar dari mobil itu, aku dan dita sangat terkejut karena suami mbak dita datang kesini. aku dan dita sedikit agak panik. jangan jangan suami mbak rubi datang untuk membuat kekacauan. tetapi apa yang kami takutkan dan pikirkan ternyata salah,, sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan, suami mbak dita melihat kesana-kemari kemari, sepertinya dia mencari mbak rubi. benar saja ketika melihat mbak rubi yang sedang duduk sambil memangku anaknya di sudut rumah, suami mbak rubi berlari menghampiri mbak rubi dan memeluknya dari belakang mbak rubi terkejut tak bisa berkata kata, dan suami mbak rubi menangis dan berkata.. " mah maafin papah ya mah.. papah sayang mamah" mbak rubi berbalik dan memeluk suaminya. "maafin mamah juga ya pah.. mamah juga salah" keluarga yang melihat pemandangan ini heran dan bertanya tanya ada apa ini. benar apa yang aku pikirkan ternyata mbak rubi memang tidak menceritakan semua masalah dalam rumah tangganya kepada keluarga besarnya kecuali dengan kami berdua. dita yang berada di pelaminan denganku meneteskan air mata, dalam hatiku berkata 'maafin aku ya dit aku tak memberitahu rahasia besar antara aku dengan mbak rubi' semoga saja rahasia ini hanya aku dan mbak rubi saja yang tau, dan tak akan terulang kembali,. karena itu adalah sebuah aib dan dosa terbesarku dan mbak rubi. acara pernikahanku dan dita terus berjalan dengan lancar semua bahagia semua senang. aku melihat raut wajah bahagia terpancar di wajah kedua orang tua kami, tak terasa waktu sudah menjelang malam hari, tamu undangan pun semua sudah kembali ke rumah mereka masing masing.. waktu yang ku tunggu adalah malam pertama dengan dita. meskipun sebelumnya kami sudah melakukannya, tetapi kali ini berbeda kami tak perlu sembunyi sembunyi lagi. karena kami sudah sah dimata agama dan negara sebagai suami istri. jadi kapanpun kami bisa bebas melakukan hubungan suami istri tanpa rasa takut lagi. tiga hari sudah semua sibuk dengan acara pernikahanku. akhirnya kami semua kembali dengan aktifitas kami seperti hari hari biasanya. aku dan dita pun kembali ke kota ke rumah yang sudah aku miliki sebelum menikah dengan dita.. ya rumah di sebelah rumah mbak rubi. hari hariku berjalan seperti biasa pagi kerja sore hari pulang ke rumah, tetapi hari ini berbeda yang sebelumnya setiap berangkat kerja harus mempersiapkan keperluanku sendiri, kali ini ada dita istriku yang mempersiapkan semua keperluanku, mulai dari baju, sarapan, dan secangkir kopi. bahkan. sebelum berangkat dita mencium tanganku. inilah saatnya aku memulai hari hariku sebagai kepala keluarga, sebagai ayah untuk anak anakku kelak dan sebagai suami dari dita
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN