Rivan justru merasa penasaran ingin melihat apa lagi yang tersembunyi di balik kekacauan wanita itu.
Tiga hari setelah pertemuan pertama, rasa penasaran itu bukannya hilang malah makin menjadi-jadi. Seharusnya tugas Rivan sudah selesai, tapi dia malah menyetir mobilnya membelah kemacetan menuju gudang penyimpanan barang milik kantor Kara. Alibinya sungguh lemah: dia ingin memastikan aset perusahaan tersimpan aman. Padahal, Rivan yang asli tidak akan sudi menginjakkan kaki di gudang berdebu yang penuh kuman.
Sesampainya di sana, Rivan mendengar suara tawa dari ujung lorong. Dia mengendap-endap di balik tumpukan kardus pengeras suara. Di sana, Kara sedang berdiri di atas tangga lipat setinggi dua meter, berusaha menurunkan kotak lampu sorot. Di bawahnya, dua orang staf laki-laki memegangi tangga sambil tertawa-tawa menggoda dan memegang betis Kara.
Darah Rivan mendidih seketika.
"Turun." Satu kata itu keluar dari mulut Rivan dengan nada rendah yang mematikan.
Ketiga orang itu kaget. Rivan mengusir dua pria genit itu dengan tatapan tajamnya, meninggalkan Kara yang bingung di atas tangga.
"Bapak ngusir bantuan saya? Terus saya turunnya gimana?" protes Kara.
Rivan melepaskan jas mahalnya, melipatnya rapi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya. "Jatuhkan kotaknya, saya tangkap."
Kara menurut. Setelah kotak aman, Kara turun dari tangga. Namun, kakinya terpeleset di anak tangga terakhir. Refleks Rivan bekerja lebih cepat dari kilat. Dia maju selangkah dan menangkap pinggang Kara sebelum wanita itu mencium lantai gudang yang kotor.
Waktu seolah berhenti. Tubuh mereka bertabrakan. Wangi parfum mahal Rivan bercampur dengan bau keringat dan debu dari tubuh Kara. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Rivan bisa melihat bintik hitam kecil di hidung Kara dan bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget. Jantung Rivan berdetak kencang, sebuah anomali medis yang tidak pernah tercatat dalam riwayat kesehatannya.
"Kamu ceroboh," bisik Rivan dengan suara serak, enggan melepaskan pegangannya.
Kara buru-buru mundur dengan wajah merah padam. Rivan menegakkan tubuh, berusaha mengembalikan wibawanya yang runtuh, tapi tangannya masih gemetar sisa menyentuh pinggang Kara. Dia berbalik pergi dengan langkah cepat menuju mobilnya, memukul setir dengan kesal karena dia sadar bahwa logikanya benar-benar mulai rusak.