Dia sadar bahwa logikanya benar-benar mulai rusak.
Kerusakan logika itu terbukti nyata seminggu kemudian. Rivan yang seharusnya sedang makan siang dengan direktur klien penting, justru membatalkan janji itu demi menyusul Kara ke sebuah festival kuliner di taman kota. Dia mendapatkan lokasi Kara dengan cara yang sedikit licik: mengirim pesan palsu tentang "inspeksi mendadak".
Di tengah terik matahari Jakarta, Rivan berdiri kaku dengan setelan jas lengkap, mengawasi Kara dari balik pohon besar seperti penguntit profesional. Dia melihat Kara sibuk berlarian mengatur antrean, memungut sampah, dan tertawa dengan orang-orang asing.
Rivan tidak suka melihat Kara tertawa pada orang lain.
Puncaknya adalah saat seorang pria penjaga stan makanan memberikan segelas es teh manis pada Kara, lalu dengan lancang menyeka keringat di dahi Kara menggunakan tisu. Rahang Rivan mengeras sampai terdengar bunyi gemeretak gigi. Rasa panas menjalar di dadanya, bukan karena matahari, tapi karena cemburu buta yang tidak masuk akal.
Tanpa pikir panjang, Rivan menerobos kerumunan. Dia merebut gelas es teh dari tangan Kara tepat saat wanita itu hendak meminumnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Pak Rivan?! Itu sayang banget! Saya haus tahu!" jerit Kara kaget.
"Saya ganti," ucap Rivan dingin sambil mencengkeram pergelangan tangan Kara. "Minuman itu tidak higienis. Kamu tidak tahu apa yang dia masukkan ke dalamnya."
"Itu cuma es teh, Pak!"
"Diam dan ikut saya."
Rivan menyeret Kara menjauh dari keramaian menuju stan minuman mahal yang menjual jus buah asli. Dia tidak peduli orang-orang menatapnya aneh. Di kepalanya hanya ada satu pemikiran: Kara tidak boleh menerima apa pun dari laki-laki lain. Kalau Kara haus, Rivan yang akan memberinya minum. Kalau Kara kepanasan, Rivan yang akan mengipitinya.
Saat Kara menggerutu sambil meminum jus mahal yang dibelikan Rivan, Rivan menatap tajam ke sekeliling, memindai setiap laki-laki yang berani melirik ke arah wanitanya. Hari ini, logika Rivan resmi mati, digantikan oleh insting purba untuk menandai wilayah yang bernama Kara Anindita