Bab 4: Makan Siang Paling Menegangkan

355 Kata
​Logika Rivan resmi mati, digantikan oleh insting purba untuk menandai wilayah yang bernama Kara Anindita. ​Wilayah kekuasaan barunya itu kini sedang duduk di bangku taman kayu sambil mengunyah salad buah dengan wajah cemberut. Rivan memaksanya makan makanan sehat alih-alih bakso bakar yang penuh penyedap rasa. ​"Habiskan," perintah Rivan tanpa menoleh. ​"Bapak ngapain sih ke sini? Beneran mau audit tukang sosis?" tanya Kara curiga. ​Belum sempat Rivan menjawab, radio panggil di pinggang Kara berbunyi. Ada laporan keributan di gerbang timur karena sekelompok preman memaksa masuk minta jatah. Wajah Kara berubah siaga. Dia meletakkan makanannya dan bersiap lari. ​"Tunggu, itu bahaya," Rivan menahan lengan Kara. ​"Itu tugas saya, Pak. Bapak tunggu sini, jas Bapak terlalu mahal buat kena debu," tolak Kara, lalu berlari kencang menuju sumber masalah. ​Rivan mengumpat pelan. Dia tidak bisa membiarkan wanita kecil itu menghadapi preman sendirian. Rivan berlari menyusul, melupakan harga diri dan sepatu kulitnya yang kotor terkena tanah. ​Saat sampai di sana, Kara sedang dikepung lima pria bertubuh besar. Salah satu preman membentak dan menunjuk wajah Kara. Darah Rivan naik ke ubun-ubun. Dia menerobos masuk, berdiri di depan Kara, menjadikan tubuhnya tameng hidup. ​"Turunkan tanganmu," ucap Rivan datar pada preman itu. ​"Siapa nih? Pahlawan kesiangan?" ejek si preman. ​Rivan menatapnya dengan sorot mata membunuh. "Saya bukan pahlawan, saya auditor. Dan saya tahu cara menghitung kerugian. Jika kalian menyentuh dia, saya pastikan kalian membusuk di penjara dengan pasal berlapis. Saya punya uang dan pengacara untuk mewujudkan itu." ​Aura Rivan begitu mengintimidasi hingga para preman itu ragu, lalu memilih mundur sambil meludah kesal. Setelah mereka pergi, Rivan berbalik memarahi Kara. ​"Kamu gila?! Kenapa hadapi mereka sendirian?!" bentak Rivan dengan napas memburu. ​Kara menatap Rivan dengan mata terbelalak. Dia melihat ketakutan yang nyata di mata pria kaku itu. "Bapak... barusan nyelamatin saya?" ​Rivan membuang muka, merapikan kerahnya yang miring. "Saya cuma mengamankan aset klien." ​Kara tersenyum kecil, pipinya memerah. Rivan melihat senyum itu dan hatinya berdesir hebat. Dia tahu dia sudah kalah telak. Dia menatap punggung kecil itu dan bersumpah akan menjadi penjaga bayangan yang paling posesif sedunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN