Bab 5: Pelanggaran Privasi Tingkat Satu

269 Kata
​Bersumpah akan menjadi penjaga bayangan yang paling posesif sedunia, malam itu Rivan membuktikan sumpahnya dengan cara yang melampaui batas kewajaran. ​Acara selesai pukul sepuluh malam. Rivan masih setia menunggu di parkiran mobil, menolak pulang meski lelah. Saat Kara keluar dengan wajah kusut dan kaki menyeret, Rivan langsung memerintahkannya masuk ke mobil. ​"Saya antar. Tidak ada penolakan," ucap Rivan tegas sebelum Kara sempat membuka mulut. ​Di dalam mobil yang sejuk dan wangi, Kara yang kelelahan langsung tertidur pulas dalam hitungan menit. Dengkuran halusnya terdengar merdu di telinga Rivan. Saat lampu merah menyala, Rivan menatap ponsel Kara yang tergeletak pasrah di atas dasbor mobil. ​Setan di kepalanya berbisik. Rivan mengambil ponsel itu. Tidak terkunci. Tentu saja, Kara terlalu polos untuk mengunci ponselnya. ​Dengan jari gemetar, Rivan membuka pengaturan peta digital dan mengaktifkan fitur "Berbagi Lokasi Langsung" ke nomor ponselnya sendiri. Dia mengaturnya agar aktif selamanya, tanpa notifikasi. ​Selesai. ​Rivan meletakkan kembali ponsel itu dengan jantung berdegup kencang seolah baru saja merampok bank. Dia tahu ini salah. Ini pelanggaran privasi berat. Tapi pikirannya yang sakit membenarkan tindakan itu: Ini demi keselamatan Kara. Dia ceroboh. Aku harus tahu dia di mana setiap detik. ​Lampu berubah hijau. Rivan menginjak gas. Dia melirik layar mobilnya yang kini menampilkan titik biru lokasi Kara, berimpitan dengan titik merah lokasinya. Rivan tersenyum tipis, senyum yang mengandung kepuasan gelap. Mulai malam ini, Kara tidak akan pernah bisa lari darinya. Rivan sadar dia sudah menyeberangi garis batas moral, dan parahnya, dia menikmatinya. ​Malam itu, di bawah sorot lampu jalanan ibu kota, definisi waras sudah benar-benar hilang dari kamus Rivan Sadewa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN