Bab 1: Kopi Hitam dan Noda Tinta
Hidup Rivan Sadewa adalah sebuah garis lurus yang digambar menggunakan penggaris besi: lurus, tegas, dan dingin.
Pukul lima pagi dia bangun, pukul enam dia selesai olahraga, dan pukul tujuh tepat kopi hitam tanpa gula harus sudah menyentuh bibirnya. Bagi Rivan, dunia ini adalah neraca raksasa di mana semua harus seimbang, sementara emosi dan kejutan adalah variabel pengganggu yang membuat laporan kehidupan menjadi tidak valid. Itulah sebabnya Rivan menjadi pemeriksa keuangan paling ditakuti dengan julukan "Si Silet", karena tatapannya bisa mengiris kepercayaan diri seseorang sampai ke tulang.
Hari ini, sasaran irisannya adalah perusahaan penyelenggara acara bernama Huru-Hara Kreasi.
Nama perusahaan itu saja sudah membuat dahi Rivan berkerut, karena siapa orang waras yang menamai usahanya dengan doa agar terjadi keributan? Namun, dia tetap masuk ke ruang rapat dengan setelan jas licin tanpa cela. Di hadapannya, tiga staf keuangan duduk gemetar menunggu vonis atas selisih uang lima belas juta rupiah.
"Panggil penanggung jawab lapangan," perintah Rivan datar.
Pintu terbuka kasar, menghantam dinding. Masuklah Kara Anindita, wanita dengan napas memburu, rambut acak-acakan, dan noda tinta biru di pipi kirinya. Dia meletakkan tas kanvas kumal yang berbunyi gemerincing di atas meja kaca steril itu.
"Maaf telat! Tadi ban motor bocor!" seru Kara tanpa rasa bersalah.
Rivan menatapnya tajam. "Saya tidak butuh alasan, saya butuh bukti transaksi."
Kara menumpahkan isi tasnya. Di sana berserakan struk belanja lecek, bungkus permen, baterai bekas, dan remah cokelat. Rivan memejamkan mata menahan emosi melihat kekacauan itu.
"Ini namanya pengarsipan menurut kamu?" tanya Rivan sinis.
Kara justru tersenyum polos sambil memilah sampah di meja. "Pak Rivan, di lapangan itu pilihannya cuma dua: bon rapi tapi panggung roboh, atau panggung berdiri tapi bon agak lecek. Bapak pilih mana?"
Pertanyaan itu retoris dan bodoh, tapi cara Kara menatapnya menyalakan api aneh di d**a Rivan. Seharusnya dia marah. Seharusnya dia mengusir wanita ceroboh ini. Tapi saat melihat noda tinta di pipi Kara, Rivan justru merasakan dorongan aneh untuk membersihkannya. Rivan membenci kekacauan, dan Kara adalah definisi kekacauan itu sendiri. Namun, saat Rivan melihat tangan Kara yang sibuk membereskan kertas kusut itu, Rivan justru merasa penasaran ingin melihat apa lagi yang tersembunyi di balik kekacauan wanita itu.