Bertemu Lagi

1008 Kata
Tengah malam saat Evelyn saat baru saja membersihkan wajah, pelayannya ada di kamar membantu dia menyusun hadiah. Harusnya, pesra ini membuat  bahagia.  Namun,  kekacauan tadi malah membuat nona mudanya murung. Jika Davia tahu cara menghiburnya, dia pasti akan lakukan. Ada lilin aroma dalam wadah bulat yang terlihat sangat unik. Davia mengambil  untuk  meletakkan di tempat yang sesuai. "Hmh, ini wangi sekali." Gadis itu menghidu aroma lilin yang dipegangnya. Evelyn mengerling padanya sebelum menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. "Kamu boleh mengambilnya kalau mau." "Hah?" Davia membulatkan mata. "Ini milikmu, Nona." Dia menaruh kembali lilin yang tadi dipengangnya ke meja. Merasa tidak sopan sendiri karena menyentuh barang milik majikan. "Tidak apa, aku sungguh-sungguh kamu boleh mengambilnya, Dav." "Tapi, ini wanginya sangat enak. Kalau Nona nyalakan pasti bisa membuat pikiran lebih tenang." Tenang? Mengingat hadiah itu berasal dari Kasa seorang laki-laki yang tidak masuk kriterianya sama sekali, malah membuat kepalanya pusing. Jangankan tidur nyenyak, yang ada dia malah semakin banyak pikiran. "Kalau tidak mau, kamu bisa membuangnya ke tong sampah, Dav." Davia tercenung. Evelyn mengukir senyum padanya. "Thank's sudah bantu aku bereskan kamar. Kamu boleh keluar, aku mau tidur." Evelyn merebahkan tubuh menarik selimut bersiap untuk mimpi indah. Davia mematikan lampu. Sebelum pergi Evelyn bilang padanya, "Jangan lupa bawa lilin itu keluar." "Mh, baik." Davia mengambil lilin itu dan menyingkirkannya dari kamar. . . Pagi harinya di tempat yang berbeda, saat Anggun baru saja menyerahkan tulisannya ke meja redaksi, dia sempat tanyakan pada Kasa soal hadiah yang kemarin disarankan. "Dia menyukainya, 'kan?" Kasa mendesah pelan. "Entah dia menyukainya atau tidak." Anggun menyimpulkan senyum. "Kalau itu barang yang dibutuhkannya dia pasti menyukainya." "Aku harap begitu," ungkap Kasa disusul dia sibuk memeriksa naskah yang masuk. Akhir-akhir ini semakin susah saja dia mendapatkan berita yang cukup menarik. Jumlah pengunjung di berita online yang mereka buat semakin menurun setiap hari. Orang-orang lebih suka dengan berita yang bersifat provokatif ketimbang inspiratif. Belum lagi masalah konten p********i yang lebih tinggi diminati. Ini membuat Kasa harus lebih berpikir kreatif soal tag line apa yang pas, supaya berita online mereka bisa laku. "ANGGUN PRAMILA!" "Oh, matilah aku." Anggun memutar mata saat dia dengar bos mereka--Pak Agusta Rio--pemiliki situs berita online ini memanggilnya.  Dia pasti mau mengomel soal berita yang kemarin dibuatnya tetapi tidak laku. "Kamu punya pesan atau hadiah buatku?" Kasa mengikik. "Masuk, sana, bos sudah memanggil kamu." "Hah!" Anggun menurunkan bahunya. "Aku akan menjemput ajal sepertinya." "Jangan berlebihan," bisik Kasa. Dia hanya melanjutkan pekerjaan kembali, tanpa ikut campur dengan masalah Anggun saat ini. Lima belas menit berselang, Anggun keluar dari ruangan bos. Dia memegang pipinya sendiri di depan Kasa. "Aku pikir benar-benar mati, tadi. Ternyata, aku hidup lagi." Kasa menertawakannya. "Aku bingung, sudah mencari berita yang realistis dan inspiratif seperti moto kita, tapi masih dibilng kurang. Katanya aku harus buat ulasan soal artis kaya raya yang suaminya selingkuh." "CK! Kalau berita begitu, kenapa tidak sekalian aku buat novel saja. Iya, 'kan?" Kasa menertawakannya. "Aku traktir kamu minum kopi, nanti siang" "Serius?" Kasa mengngguk. "Sekalian dengan donat kalau kamu mau." Anggun menyimpulkan senyum, tentu saja dia mau. "Aku akan gantian traktir kamu minggu depan kalau honorku sudah turun." "Jangan khawatir, aku ada uang simpanan. Lagi pula ini sebagai rasa terima kasihku karena kamu memilihkan aku hadiah lilin itu." "Oke, aku akan bereskan kerjaanku lebih dulu. Jangan coba-coba kabur." Dia menggunakn telnjuk dan ibu jarinya menajadi pistol mainan. "Ya, kerja dulu sana." . . Jordan menemui Evelyn di rumahnya. Mereka sudah lulus, dulu gadis itu bilang tidak mau didekati karena mau fokus kuliah, sekarang dia tidak mmemiliki alasan lain untuk menolaknya. "Kenapa kamu datang ke rumahku?" Jordan yang ditanya tentu saja mengukir bulan sabit di bibirnya. "Aku mau mengajakmu makan siang bagaimana?" Evelyn merasa dia malas buang waktu dengan Jordan, tapi kalau diabaikan bisa-bisa dirinya sendiri yang rugi nanti. "Sebetulnya, aku lagi kurang mood. Apalagi, pestaku semalam cukup kacau membuat kurang tidur." Sadar bahwa sebagian kekacauan itu dia yang menimbulkan membuat Jordan tidak berani banyak omong. "Septian sepupuku baru membuka kafe, kalau aku datang denagnmu ke sana, pasti dia akan senang." "Oh, Septian sepupumu yang waktu itu?" "Mmh. Dia yang ikut bersamaku di acara reuni." "Bukannya dia masih sembilan belas tahun?" Tawa Jordan mengudara. "Apa masalahnya kalau umur masih muda. Ayahnya adalah pemiliki gedung di jalan Flora, mereka tidak akan rugi kalau memanfaatkan satu gedung memulai bisnis sendiri." "Hari ini dia launching, aku mau kamu ikut dengannku untuk menengok kafenya," "Umh, beri aku sepuluh menit untuk siap-siap." Evelyn beranjak dari kursi, permisi ke kamar untuk siap-siap sebelum pergi dengan Jordan. . . Anggun harus berkacak pinggang ketika  waktunya tiba ditraktir kasa, nyatanya dia malah diajak datang ke kafe baru buka yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor redaksi mereka. "Ini bukan traktir namanya, Anak Muda." Anggun menyipitkan mata pada Kasa. Dia memang gadis yang berkebalikan dengan namanya--anggun. "Aku bilang akan mengajakmu  minum kopi, apa masalahnya?" "Yaah." Anggun berujar datar sembari mengikuti langkah Kasa. " Tapi aku tidak tahu kalau kamu mengajakku ke acara grand opening dan kita dapat makanan gratis." "Ayolah, gratis atau bayar, kita adalah pelanggan." Kasa mendorong Anggun untuk masuk. Di dalam,  Kasa meminta Anggun untuk duduk saja, biar dia yang pesankan. Betapa beruntungnya dia, masih termasuk  dalam seratus pembeli pertama yang bisa gratis pesan apa saja. "Espresso untukku dan Caramel Latte untukmu." Anggun bertemia kasih. Setidaknya dia bisa minum kopi ala kafe siang ini. Ya, bekerja lepas sebagai repoter online memang membuat mereka harus hidup sebagai orang berkantung tipis. "Kamu tidak cari pekerjaan lain? " tanya Anggun selagi dia mengunyah donat keju. "Maunya begitu." "Kamu pintar, masa perusahaan yang lebih bagus tidak ada yang mau menerima kamu." Kasa menyurut kopinya sebelum menjawab, "Perusahaan itu memang tidak mau menerimaku." "Kenapa?" Kasa mengangkat pundak. Mungkin karena sebagian dari mereka masih terkait dengan Jordan, itu membuatnya sulit untuk diterima. Biasanya, Kasa akan gugur baru seleksi berkas. "Kapan kita kaya kalau bekerja begini-begini saja," keluh Anggun.  "Aku harap suatu hari nanti akan ada pria kaya raya yang melamarku." Anggun membuat Kasa geleng-geleng. Mereka hampir saja menikmati waktu istirahat siang dengan tenang, tiba-tiba Kasa melihat seseorang yang muncul di depan matanya. "Evelyn?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN