Pembuat Masalah

1752 Kata
"Evelyn?" Anggun mendengar Kasa menggumamkan nama itu. Secara refleks dia mengikuti arah pandang Kasa dan dia menemukan sosok yang bisa membuat Kasa terpaku. Anggun hanya membatin soal gadis bernama Evelyn itu. Ini pertama kali Anggun bertemu dengannya. Evelyn, gadis yang selalu diceritakan Kasa ketika mereka beristirahat di kantor. Anggun mengakui kalau Evelyn memang perempuan muda yang menawan dan cantik. Mungkin, mereka seumuran. Bedanya, Evelyn terlihat jauh lebih sempurna. Dengan tubuh ramping dan kencang, penampilan menawan serta berperilaku sangat anggun dan terhormat. Di sebelahnya ada seorang laki-laki bertubuh besar yang tampak dengan angkuh menatap Kasa. Dia berkata, "Oh rupanya kita harus bertemu di sini juga." Langkah Jordan tegap mendekati meja di mana Anggun dan Kasa sedang duduk berdua. Dia terlihat keren, memakai setelan beremerek dan jam tangan mewah. Ditatapnya menu yang sedang dinikmati oleh kedua orang tersebut. "Apa ini gadismu?" Jordan melirik pada Anggun. Jika dilihat dari wajahnya dia cukup cantik, tetapi sayang penampilannya kumuh bukan pakaian bermerek yang dikenakan. Tentu saja di mata Jordan itu mengurangi nilai kecantikannya. "Jaga sikapmu," ujar Kasa. Dia tidak mau kalau sampai sikap Jordan yang selalu sengit padanya, jadi ikut menyeret Anggun juga. "Dia teman kerjaku." Jordan menipiskan bibir. "Siapa namamu?" Merasa diajak bicara, Anggun berusaha bersikap sopan untuk memperkenalkan diri. Dia mengelap tangannya yang kotor dengan tisu lebih dulu dan itu justru membuat Jordan merasa jijik Secara spontan Anggun, mengulurkan tangan pada Jordan. Alih-alih menyambut, dia malah hanya melihat. Kasa tahu bahwa dia hanya ingin menghinakan Anggun. Sejauh yang Anggun tahu, kasa hanya menceritakan soal gadis yang dia kagumi. Sayangnya, belum pernah dia menceritakan soal Jordan. Laki-laki yang tampak sangat membencinya dan terus mengganggu Kasa. "Kalau tidak keberatan, aku mau menghabiskan kopi dengan Anggun." Secara halus, Kasa meminta Jordan untuk pergi. Namun lelaki itu malah mengekeh. Duduk di sebelah Kasa, Jordan sengaja memperkeruh suasana. "Setelah lilin bau busukmu itu dijadikan sebagai hadiah, sekarang kamu hanya membelikan sepotong donat dan juga ...." Lelaki berwajah tirus dengan sedikit jambang di itu memperhatikan minuman Kasa. "Minuman gratis ini?" "Jo, ayolah kita cuma mau minum di sini." Eveleyn memintanya untuk pergi. Mereka datang ke sini, untuk bersantai minum kopi bukan membuat masalah. Apalagai, kalau harus mencari masalah. Evelyn memang tidak menyukai Kasa--karena dia hanya lelaki miskin--tetapi untuk terus mengganggunya bukanlah hal menyenangkan. "Sabar sebentar." Jordan menahan Evelyn yang akan mengajaknya pergi. "Kita belum selesai mengobrol dengan teman lama, masa mau buru-buru?" "Lilin?" Anggun bertanya dengan penuh keheranan. Apa yang Jordan maksud itu lilin aroma terapi recomendasinya pada Kasa? Kasa menipiskan bibir. Sepertinya, Anggun bisa menyimpulkan sendiri kalau yang dimaksud memang lilin itu. Dan, hal ini menjadi hal yang harus ditertawakan. Melihat ekspresi Kasa, Anggun malah terbahak-bahak. "Itu lilin buatan terapis andal, bagaimana bisa dibilang bau?" Melihat tawa Anggun yang begitu renyah, Kasa jadi ikut merenggangkan sudut bibir. Sepertinya, Jordan sudah salah mengganggu mereka saat ini. "Hidungmu mungkin bermasalah." Anggun semakin terpingkal. Jordan mendelik. Kata-kata yang diucapkan Anggun barusan, apa itu ditunjukkan untuknya? Berani sekali dia! Sepertinya, gadis yang bersama Kasa ini belum tahu siapa Jordan sebenanrnya. "Aku harap kamu bisa sedikit hati-hati saat bicara." Anggun tertawa kecil. "Oh, jangan tersinggung. Aku hanya sedikit heran soal kamu yang bilang itu bau busuk. Aku rasa. sesekali kamu haru periksa ke THT." Evelyn, gadis bergaya flamboyan mendesah panjang. Walau tidak ditujukan langsung, dia merasa cukup terhina dengan tawa Anggun. "Kelihatannya, kalian cukup bersenang-senang, ya?" Ucapannya lembut, tetapi penuh penakanan. Semata karena Kasa tidak enak melihat Evelyn yang mulai tidak suka dengan situasi ini, dia meminta Anggun untuk berhenti tertawa. "Maafkan Anggun, dia memang orang yang senang bercanda." Anggun mengimbuhi, "Ya, aku tidak bermaksud begitu. Tapi, memang dia terdengar lucu. Kasa bahkan harus mengantre selama satu bulan untuk bisa mendapatkannya. Itu benar-benar terbatas, sayang sekali malah ada yang tidak paham soal aroma." Evelyn jadi merasa bersalah sedikit. Divya memang pernah bilang lilin itu mengeluarkan aroma yang sangat enak dan menenangkan, tetapi dia malah meminta asistennya untuk membuang. Evelyn terlalu gengsi untuk menerima hadiah dari Kasa. Apa benar, kalau Kasa membelinya secara khusus dan itu perlu waktu lama untuk bisa mendapatkannya? Jordan tertawa. "Jangan percaya dengan bualan mereka. Huh!" Lelaki itu menyeringai. "Bukannya sangat meragukan kalau dia bisa mencari terapis ternama." Jordan bisa saja menghina macam-macam. Namun, jika Evelyn sudah memakai lilin itu, dia pasti tahu kalau Kasa tidak sembarangan membelinya. Apalagi, Anggun sendiri yang merekomendasikan hadiah itu. Sedikit banyak, namanya tercatut dalam urusan hadiah untuk gadis pujaan Kasa tersebut. Rasanya, jadi sedikit menyinggung saat ada orang yang dengan santai menghina kalau itu bau busuk. Hanya orang yang punya masalah dengan indra penciuman yang berani bilang begitu. "Bagaimana menurutmu?" Anggun menatap Evelyn yang masih berdiri di seberangnya, tepat di antara Kasa dan Jordan. "Kalau kamu memakai lilin itu dalam semalam, aku yakin tidurmu nyenyak." Evelyn gelagapan. Bagaimana ini? Dia baru saja memnyuruh asistennya untuk membuang lilin itu. Lagi pula, pagi ini Evelyn belum tanya lagi pada Divya apakah lilin itu berfungsi atau tidak. "Pffth!" Mulanya Jordan ingin menahan, tetapi malah jadinya dia semakin terpingkal. Kasa paham kenapa Jordan menertawakan. Ini pasti ada kaitannya dengan Evelyn. Apakah gadis itu tidak memakai lilin yang Kasa beri kemarin? "Sepertinya, kamu bisa lihat sendiri kenapa Evelyn diam begitu." Jordan sengaja membuat Kasa semakin panas hatinya. Sayangnya, itu tidak berlaku bagi Kasa. Dia tetap bersikap biasa saja. Baginya, sudah memberi, urusan selanjutnya terserah pada yang menerima. "Kasa, aku--" "Aku bilang juga apa," sela Jordan sebelum Evelyn bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia harus bisa mengalihkan situasi supaya tetap membuat Kasa yang terhina di sini. Jangan sampai, Evelyn terlihat menyesal dan niat Jordan untuk menjatuhkannya malah berbalik arah. "Evelyn memang terlalu baik untuk menerima hadiah darimu itu." Sembari membuka telapak tangan bersikap sok prihatin, Jordan bilang, "Jangan terlalu diambil hati soal hadiahmu. Aku rasa, dengan diterima dan disimpan dulu saja itu sudah sebuah keberuntungan buatmu, 'kan?" Maksudnya, Kasa akan lebih menangis darah kalau pada saat itu Evelyn langsung melempar pemberiannya ke tong sampah. Ya, Kasa paham arah pembicaraan itu. Cukup membuat hatinya panas, tetapi dia tidak akan pernah terpengaruh dengan sikap Jordan. Evelyn memang tidak menyukai Kasa karena kemiskinannya, tetapi dia harus menjaga citranya. Sebagai putri tunggal Haris Maja, reputasi dia sangat diperhatikan. Kelak, orang yang akan memegang jabatan tertinggi di Maja Corp adalah dirinya. Jika dia tidak panadai membawa diri sejak sekarang, dewan direksi bisa saja mengusulkan calon yang lain. Evelyn tidak mau itu terjadi. Jordan ... Evelyn cuma bisa membatin soal sikapnya yang ceroboh dan semau-mau. Otaknya benar-benar di dengkul. Dia pikir, sikapnya ini tidak akan membawa masalah, apa? Jadi, daripada masalah ini semakin berlarut, cara terbaik untuk menyelesaikannya adalah meminta Jordan untuk pergi. "Jo, aku haus, pesankan minum untukku. Tolong." "Tentu." Jordan segera bangun. "Aku akan memesankan minuman yang paling spesial untukmu." Dia seakan menyindir Kasa yang saat ini hanya menikmati minuman gratis. "Kita akan dapat gratis juga, sama seperti mereka." Dengan bangganya lelaki itu menyombongkan diri. "Bedanya, aku akan dapat gratis karena ini milik sepupuku." Makanan gratis selalu enak. Baru kali ini, rasanya jadi hambar. "Biar aku minta racikan minuman khusus yang tidak bisa sembarangan orang memesan." Jordan menopang dagu. Saat bicara, matanya menatap pada dua cup minuman di meja. "Ya, apa pun itu." Evelyn memutar mata. Jordan terlalu lama buang-buang waktu. "Ya sudah, cepat ambil. Aku haus." Anggun tidak tahu kalau Kasa memiiki teman yang sifatnya sangat menyebalkan. Umh, ralat. Apakah orang dengan kelakuan seperti itu layak disebut teman? "Donatku sudah habis." Anggun meremas kertas roti dan segera menyambar cup minumannya. Terlalu sayang untuk ditinggalkan begitu saja "Kas, mau keluar atau masih mau di sini?" Kasa rasa lebih baik dia pergi. Sudah tidak nyaman sama sekali untuk duduk di sana, walau ada Evelyn. "Eve, aku duluan." Kasa ikut bangun, dia memilih untuk menemani Anggun daripada di sana mendengar olok-olokan Jordan yang tidak menyenangkan. "Oh, silakan." Evelyn tidak menghalangi jalan Kasa. Jordan baru saja selesai memesan saat akan kembali dia bersenggolan dengan Anggun. Kasa lihat dengan mata kepala sendiri, dia yang jalan tidak hati-hati. Namun, saat minuman yang dipegangnya tumpah, lelaki itu menggeram. Detik berikutya dia memaki dengan kata-k********r. "Kamu!" katanya sembari meremat tangan, wajahnya memerah, urat-urat kelihatan menyembul. "Aku tidak menyangka kalau kamu kesal denganku sampai harus membuat bajuku kotor begini." "Jo, Anggun tidak salah." "Oh, ya, kamu bisa santai bilang begitu karena belum pernah pakai baju ini, 'kan?" sindir Jordan. "Ini Gucci, edisi terbatas. Di matamu mungkin ini akan sama seperti kaus biasa. Tapi, kalau kamu lihat berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk membelinya, ginjalmu tidak akan cukup membayar." Anggun mundur beberpa langkah saat Kasa maju untuk melihat noda yang mengenai baju Jordan. Hanya sedikit noda coklat. Cih! Bagaimana dia bisa bersikap berlebihan seperti ini? Tidak tahu malu. Kasa mengeluarkan dompet dan mengambil sejumlah uang. Itu adalah simpanan untuk uang makan dan keperluannya yang lain selama satu minggu. Tidak apa-apa, dia bisa pakai itu untuk Jordan. "Beberapa blok dari sini ada laundry yang cukup terkenal. Pergi ke sana, dan mereka akan mneyelesaikan masalahmu." Jordan menepis tangan Kasa hingga uang pecahan lima puluh ribu rupiah tersebut beberapa lembar itu terjatuh. "Kasa, aku tidak butuh uangmu jangan berlagak kaya di depanku." "Berlagak kaya?"p Kasa sampai menaikkan sebelah alis. "Bukannya tadi kamu yang mengeluh soal biaya mencuci bajumu ini?" Dengan senyumyang penuh makna Kasa menyuruh Jordan untuk menerima uang pemberiannya. "Itu bisa kamu gunakan untuk laundry baju." "SAMPAH!" maki Jordan. Dia merasa terhina dengan sikap Kasa. "Kamu pikir siapa bisa memberiku uang seperti ini. Apa bajuku ini pantas untuk dicuci di tempat murahan?" "Jo, hentikan!" Evelyn merasa pusing dengan kelaukannya. Kasa mengambil lagi uang yang berserakan itu. Ini bukan sola harga diri. Dia butuh uang itu untuk bertahan hidup, jika Jrdan tidak mau menerima ketulusanna, dia bisa gunakan untuk keperluannya sendiri. "Hhh!" Semakin berkelakar Jordan dibuatnya. "Lihat diriumu memungut uang itu, seperti pemulung. Oh tidak ...." Dia meralat lagi ucapannya. "Kamu bahkan lebih buruk dari seorang pemulung. Mungkin, Pecundang." "Kasa, ayo pergi." Anggun lama-lama tidak tega melihat Kasa yang sabar dihina terus. "Aku harap kamu bisa jaga sikap, Jo." Kasa mengingatkan. "Suatu hari nanti, kamu akan menyesal dengan semua sikapmu sekarang." "Apa?" Jordan memelotot. "Apa kamu sedang menyumpahiku?" "Aku tidak berkata seperti itu, coba pikirkan baik-baik apa yang aku ucapkan tadi." "Sialan kamu Kasa!" hardik Jordan. "Anak-anak kampus selalu bilang kalau kamu pembawa sial, aku rasa itu benar Orang tuamu meninggal karena mengasuhu, dan kehidupan kampus juga terkesan buruk saat kamu masuk. Dan sekarang, kamu mau mengancamku dengan sumpahmu?" Jordan menyeringai. "Orang tuamu harusnya jangan memberi nama Perkasa, tapi Pecundang. Coba lihat betapa menyesalnya mereka saat melihatmu tumbuh tidak berguna begini." "JAGA MULUTMU!" Kasa menghujamkan tinju tepat di rahang Jordan. Anggun tidak sempat mencegahnya. "Sialan!" Jordan menggeram
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN