"Kasa ...."
Sungguh Anggun tidak percaya laki-aki itu akan sanggup memukul orang. Ya waaupun dia sudah jelas memukul orang yang pantas. Namun, tetap saja itu mengejutkan.
Bagi Kasa siapa pun boleh menghina dirinya bahkan menginjak harga dirinya pun dia tidak akan terlalu memikikirkan.
Hanya saja, jangan coba untuk menghina orang tuanya.
Jordan tidak tahu seperti apa dia telah menjalani kehidupan yang berat di masa muda dan dia telah kehilangan orang tuanya saat belum bisa membalas kebaikan mereka sedikit pun.
"Jaga mulutmu. Aku tidak peduli harus masuk penjara jika merobek mulutmu yang kurang ajar itu."
Jordan memelotot. Sampah seperti Kasa berani sekali menghinanya
Dia benar-benar tidak punya cermin di rumah.
Jordan menecengkeram kerah baju Kasa. Merah padam wajahnya menahan kesal pada Kasa.
"Jika saja aku tidak ingat kalau saat ini adalah acara launching kafe sudaraku, aku pati akan membunuhmu di sini, Kasa."
Kasa balas tatapan itu. "Jika tidak tahu kalau kau orang bodoh yang sering asal bicara, pasti aku sudah mematahkan lidahmu."
"Kasa!" Dengan geram Jordan ingin sekali melempar laki-laki sok jagoan itu.
"Jo, ada apa ini?"
Septian datang dari belakang. Dia kaget saat sedang sibuk melayani teman-temannya yang menengok kafe yang baru dibuka dan juga tamu lain mendengar keributan di sini.
Sepupu Jordan itu menghela napas panjang. Demi apa kalau itu adalah Jordan lagi pelakunya.
Dia tahu persis, jika ada keributan biasanya tidak jauh-jauh dari jordan pelakunya. Kebiasaan sejak kecil yang selalu membuat masalah.
"Jo." Tatapan Septian pada Jordan seakan menggambarkan kalau dia tidak ingin ada masalah di sini. Lihat ada banyak tamu yang datang suasana launching yang harusnya menyenangkan berubah jadi tegang.
Jordan melihat sekeliling, ada banyak pasang mata menatap ke arahnya yang sedang mencengkeram kerah baju Kasa.
Jika semua orang melihat dalam posisi seperti ini mereka bisa jadi akan menilai kalau Jordan menyerang Kasa.
Tidak akan dia biarkan itu terjadi.
Jordan menarik Kasa ke arahnya lalu dia dengan sengaja menjatuhkan diri sendiri.
Anggun melihat itu hanya berjengit.
Kasa menjauh dari Jordan. Dia sempat terbengong beberapa detik sampai Annggun menriknya untuk pergi dari sana.
Evelyn berjongkok untuk menolong Jordan. Walau sebenarnya hati dia terasa ragu mana yang lebih pantas dibela.
"Kasa, ayo keluar dari sini," ajak Anggun.
Kasa hanya mengangguk perlahan dia menatap slSeptian kemudian menunduk pada pria muda tersebut.
"Aku minta maaf kalau membuat keributan."
Septian tidak bisa bereaksi apa-apa selain cuma bisa diam. Kepalanya teras berdenyut memikirkan nasib pembukaan kafenya saat ini.
"Aku minta maaf karena mengusir pelanggan. Tapi, bisa tolong segera keluar?" Terpaksa Septian harus mengatkan ini. "Aku haru mengurus pelanggan yang lain."
Kasa merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal di dadanya.
Tentang orang-orang yang memandang rendah pada dirinya tidak peduli pada apa yang dia bela.
"Ayo, kita keluar." Anggun menariknya paksa.
Kasa melangkah, tapi matanyya tidak lepas dari Evelyn yang kini lebih sibuk menolong Jordan.
"Ah ya, baguslah kamu pergi. Aku begini karena tidak ingin membuatmu semakin dipermalukan."
Kasa menulikan telinga memilih untuk segera keluar dari sana.
"Kamu tidak apa-apa, Jo?"
"Ya, aku baik-baik saja." Jordan merapikan bajunya yang sedikit kusut. Aduh sial sekali dia hari ini, baju mahalnya sampai kotor begini.
"Aku rasa bajumu hanya kotor sedikit itu bisa dibersihkan."
"Aku akan membuangnya, ujar jordan santai. Sebelumnya dia mengatakan kalau itu kaus mahal bagaimana mungkin malah membuangnya?
"Ada apa dengan kalian?" Septian mendekati Jordan. "Kamu hampir bikin acaraku kacau.'
" Sorry." Jordan meminta maaf. Dia harus bersikap baik di depan mereka semua supaya tetap memiliki nama baik. "Pemuda yang barusan ribut denganku itu cuma anak seorang sopir. Dia kuliah di kampus karena beasiswa, tapi sombongnya bukan main."
Evelyn menutup rapat mulut. Sebetulnya yang diceritakan Jordan itu lebih tepat untuk dirinya sendiri daripada Kasa.
"Makanya, kalian lihat, 'kan, tadi? Aku cuma bicara sedikit saja dia sudah bisa emsoi begitu."
Septian tidak bisa menyimpulkan mana yang benar dan salah.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan siapkan minuman untuk kalian."
"Tidak." Evelyn menolak. "Aku sudah tidak bisa duduk lagi di sini."
"Loh, kenapa?"
Evelyn menipiskan bibir. Namun, sebelum dia bicara Septian meminta maaf padanya.
"Aku minta maaf kalau kamu terganggu dengan insiden barusan."
Evelyn sampai mengangkat tangan sebatas d**a. "Ini bukan salahmu sama sekali, tidak perlu memikirkannya," katanya sembari tersenyum. "Aku memang mau pulang karena lebih baik istirahat saja di rumah."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan antar kamu pulang." Jordan sudah bersiap mengangkat b****g untuk mengantar.
"Tidak perlu." Evelyn menolak. "Aku rasa sebaiknya kamu pergi mencari baju baru atau pinjam kaus saudaramu dulu. Aku sudah meminta sopir untuk menjemputku. Dia sudah mau sampai."
"Hei jangan begitu." Jordan menahan Evelyn. "Mana mungkin aku biarkan kamu pergi sendiri."
Evelyn tersenyum tipis. " Aku sungguh-sungguh, aku bisa pulang sendiri."
Perempuan itu menyampirkan tali tasnya. Sebelum pergi dan ucapkan selamat pada Septian untk lauching kafenya.
"Kapan-kapan aku akan datang lagi ke sini untuk membeli minuman."
"Ehm. Aku akan menunggu hari itu tiba." Septian melipat bibir. "Aku benar-benar minta maaf soal insiden ini. Lain kali kamu datang aku akan siapkan makanan terbaik dan gratis."
"Kedengarannya tawaran bagus." Wanita itu menyunggingkan senyuman
Evelyn permisi pada mereka lalu bergegas keluar.
Jordan mengepal tangan. "Sialan!" rutuknya.
.
.
"Nih, minum!" Anggun memberikan sebotol air mineral dingin selagi mereka duduk di halte bus. Sengaja belum langsung ke kantor biar Kasa bisa lebih relaks.
Jujur saja kalau Anggun memang tidak perlu kembali ke sana karena dia bisa bekerja di mana saja. Beda dengan Kasa yang harus stay.
"Kita baru saja minum, kenapa aku dikasih minum lagi?" Kasa tertawa kecil menerima pemberian anggun.
"Huh, air mineral beli itu. Bukan gratisan."
Kasa mendecih Anggun menyindirnya.
Perempuan itu kini duduk di samping Kasa, kembali mengajaknya bicara setelah sang teman sudah bisa tenang.
"Lumayan, 'kan, airnya bisa menenangkan pikiran. Air putih memang selalu lebih sehat."
Kasa tertawa lagi, dan dia harus berterima kasih karena sikap Anggun yang santi membuatnya lupa dengan masalah yang terjadi barusan.
"Aku cukup kaget kamu bisa marah besar begitu."
Kasan menggumam. "Iya aku juga kaget bisa marah seperti itu."
Anggun menarik napas panjang. Daripada marah-marah mending sabar, Kas."
"Ya, harusnya aku bisa sabar. Tapi, membicarakan soal orang tuaku sedikit sensitif."
Anggun paham. Walau berteman dengan Kasa baru satu tahun belakangan ini, soal kisahnya yang cukup suram, Anggun sudah tahu.
Kasa kehilangan orang tua delapan tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tragis. Jangankan Kasa yang mengalami, Anggun saja bisa merasakan sakitnya.
"Aku tidak suka dengan orang yang menghina nama baik orang tuaku."
"Sabar." Anggun menyuruhnya begitu. Lebih baik dia perbanyak diri untuk istighfar. Dengan begitu bisa lebih tenang.
"Gadis yang tadi, apa dia Evelyn yang kemarin ulang tahun?"
"Iya. Dia evelyn."
Anggun mengangguk-angguk.
"Kenapa, memangnya?"
Dengan santai perempuan itu menyiku Kasa. "Seleramu tinggi juga. Kalau begitu sih, bidadari kesasar, namanya."
Sudut-sudut bibir Kasa menjauh. "Memang benar Evelyn secantik itu. Bukan cuma fisik, dia juga baik dan sangat pintar. Itu yang membuatku kagum."
"Baik?"
Pada kata itu Anggun sedang mengingat adakah hal yang menunjukkan kalau dia baik selama pertemuan tadi.
Seingat gadis itu, tidak ada.
Dia bahkan tidak bicara apa-apa saat Kasa dihina Jordan, padahal sudah jelas siapa yang berulah.
"Aku rasa dia tidak terarik denganmu," celetuk anggun tanpa basa-basi.
Kasa mencebik. "Jangan bicara sembarangan."
"Aduh, Bung!" Anggun sampai menepuk-tepuk bahu kasa. "Kapan bangun dari mimpi? Hadiah darimu saja sama sekali tidak dianggap olehnya dan juga tadi dia sama sekali tidak membelamu. Aku rasa kamu bukan apa-apa di matanya kecuali ...." Anggun menggantung sejenak ucapannya. Dia mau menyadarkan Kasa, tetapi takut membuat tersinggung.
"Kecuali apa?"
"Kecuali kalau kamu sudah berubah jadi CEO atau pewaris tunggal perusahaan baru bisa dianggap."
Kasa mendengkus.
Anggun malah terpingkal-pingkal. "Aku serius soal ini. Percaya dengan intuisi seorang perempuan."
"Memagnya kamu perempuan?"
"Astaga, ke mana saja matamu selama ini!" Anggun mencak-mencak.
"Lagi pula, aku harus telisik ulang lagi," ujar Anggun selanjutnya saat Kasa memilih untuk bergegas kembali ke kantor, "kamu itu marah karena Jordan menghina atau marah karena Evelyn berdua dengan dia?"
Kasa tertegun, bibirnya tetap terkunci tidak bicara apa-apa.
Laki-laki suka begitu, gampang emosi kalau cemburu.
"Jangan-jangan alasan orang tua hanya alibi."
"Entah." Kasa mengangkat pundak malah melangkah semakin cepat.
"Tunggu!" Anggun terseok mengejarnya.
"Aku rasa apa yang aku pikir tadi itu benar." Meski Kasa sudah tampak tidak ingin membahas, masih saja Anggun mengajak bicara.
"Soal?"
Kasa berjengit
"Soal kamu yang marah bukan karena Jordan menghina orang tuamu saja. Tapi, kamu juga cemburu karena dia datang sama si nona Epel itu."
"Evelyn." Kasa meluruskan nama gadis pujaannya yang diledek Anggun.
"Iya. Epel-in." Anggun memaerkan barisan giginya.
Kasa merotasi mata tidak menggubris lagi.
"Aku kasih tahu ya." Anggun sok bijak. Padahql dia dua tahun lebih muda dari Kasa, "kalau orang miskin seperti kita ini jangan cari masalah. Itu sama saja bunuh diri namanya."
"Lain kali kalau ada Jordan, jangan ladeni. Dengar apa yang aku bilang ini."
"Iya." Kasa mendesah panjang menghadapi Anggun yang sangat cerewet.
.
.
Tidak sampai dua puluh empat jam, ucapan Anggun seakan jadi nyata. Pagi ini saat perempuan itu sedang mengunyah roti isi yang baru dibelinya dari pedagang keliling mendadak nyaris tersedak saat melihat video yang baru dikirimkan dari teman-temannya.
Di sana wajah dia terpampang jelas. Namun, bukan itu yang jadi masalah besar.
Masalahnya adalah adegan yang terjadi dalam video singkat itu dan juga keterangan narasi yang ditulis.
"Kasa sudah lihat video itu?"
Kasa baru melihat kedatangan Anggun, cuma bisa menatap bingung ada apa dengan gadis di depannya ini. Pagi-pagi datang tergesa, langsung menyambangi mejanya dan menanyakan hal yang tidak dipahami.
"Kamu ini kenapa? Coba tarik napas dulu dalam-dalam, bicara pelan-pelan jangan buat aku pusing."
Anggun menepuk jidat. Tidak banyak bicara dia tunjukkan pada Kasa apa yang sedang beredar di jagat maya.
'Seorang editor dari situs berita online diduga melakakan penyerang terhadap pengunjung kafe.'
"Apa!" Kasa mendelik membaca barisan kalimat itu di video terlihat jelas kalau dia menarik lengan baju Jordan dan melemparnya sampai lelaki itu jatuh.
Kenyatannya tidak demikian. Kasa masih ingat, Jordan yang menarik tangannya kemudian dia menjatuhkan diri sendiri.
Karyawan lain berdatangan di saat Kasa masih berpikir.
"Kasa apa video itu benar?" Simon tanya tanpa basa-basi, Kasa tidak tahu harus menjawab apa.
Anggun yang menjawab. "Bohong, aku ada di sana. Video itu cuma rekayasa!"
"Aku harap begitu." Simon duduk di bengkunya, sembari menyalakan komputer dia ingatkan Kasa sebagai seorang editor senior. "Karena sepertinya identitasmu sebagai pekerja di sini sudah ketahuan jelas. Jangan sampai kantor kecil kita ini jadi terkena imbasnya."
Belum kering Simon bicara, bos memanggilnya.
"Kasa, ke ruanganku sekarang!"