Cium Kakiku!

1867 Kata
"Apa-apaan ini, aku dengar dari yang semua orang bicarakan kalau kamu berkelahi dengan pemuda dalam video itu." Kasa ditunjukkan sebuah video yang sedang diputar dalam layar personal komputer milik bosnya. "Ini salah paham, Pak." "Salah paham bagaimana! Apa kamu kira mata semua orang ini salah lihat!" Kasa menghela napas panjang. "Ini bukan yang seperti Bapak kira." "Kalau bukan seperti yang saya kira, jelaskan bagaimana ini terjadi!" Pria tua itu menunjuk-nunjuk pada bagian saat Kasa melempar Jordan sampai mengakibtkan laki-laki ith jatuh. "Tindakan yang kamu lakukan ini sungguh di luar batas, Kasa! Kelakuanmu ini membuat kantor kita diberontakan negatif kenapa kamu masih memakai ID kantor saat keluar!" Kasa tahu dia salah. Makanya hanya menunduk. "Kamu tahu siapa pemuda yang kamu buat babak belur begitu?" Kasa hanya mengepal tangan sungguh dia tidak bisa menjawab apa-apa dengan semua tudingan yang diarahkan padanya. "Dia putra pebisnis ternama di kota ini gara-gara kamu bertindak sembrono seperti ini dia mencabut iklannya di situs berita kita! Kamu bisa hitung berapa banyak kerugian perpisahan hanya karena kecerobohanmu ini!" Kasa menunduk. "Saya minta maaf, Pak. Saya janji akan membersihkan nama baik saya." "Nama baik?" Kasa ditertawakan. "Pemuda seperti kamu ini hidup dalam dunia khayalan, rupanya. Orang miskin dan rendahan seperti kamu ini tidak bisa membersihkan nama baik. Yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf padanya dan latikan nama baik kantorku kembali!" Kasa dipaksa meminta maaf untuk fitnah yang sudah disebar Jordan. "Keluar dari ruanganku!" "Baik, Pak." Kasa keluar. Sekali lagi. Sebagai orang tidak punya, Kasa hanya bisa menerima dirinya diperlakukan tidak adil. Diusir dan dihina di tempat dia bekerja selama ini. Huh, memang hatinya sakit. Namun, dia memilih diam dan membiarkan dirinya tampak seperti pecundang. Kasa duduk kembali di meja kerjanya. Sebelum bisa melakukan apa-apa dia hanya meremat kepala menahan pusing. Anggun mendenkati. Sejak sepuluh menit yang lalu dia jadi orang yang/paling khawatir dengan 'keselamatan' Kasa. "Kamu dipecat?" tanyanya sangat frontal. Anggun tahu bos di tempat mereka bekerja bukan tipe yang sabar atau bjsa memaklumi kesalahan. Apalagi, ini ada kaitannya dengan performa, bisa habis dimaki. "Aman." Kasa masih berusaha tersenyum. Anggun langsung bernapas lega. "Syukur kalau begitu. Kamu tahu, masalah dari semua masalah adalah kehilangan pekerjaan. Jangan sampai itu terjadi." Kasa menipiskan bibir mendengarnya. Bunyi tuts keyboard yang sedang dipakai terdengar saling bersahutan di ruangan itu. Simon sedang bekerja. Laki-laki itu memang selalu bersikap dingin. Mana pernah dia mau ikut campur dengan urusan orang lain, walaupun itu hanya senda gurau. Termasuk untuk masalah Kasa kali ini, tetap saja dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sebelum lanjut tanya-tanya Anggun sudah siapkan sebotol minuman untuk Kasa. Dingin seperti biasa karena menurutnya air dingin itu bisa membuat relaks. "Aku beli untuk persiapan, tapi belum aku minum. Lumayan untuk bikin hari lebih relaks." Kasa menolak. "Jangan repot-repot aku bisa cari sendiri nanti." Anggun memaksa Kasa untuk menerima. "Walau minuman murah, tapi lumayan rasa manis dan dinginnya lumayan untuk bikin pikiran lebih tenaga. Kasa pikir yang Anggun bilang itu benar. Apalagi perempuan itu susah membuka botol untuknya, mana mungkin Kasa menolak lagi." Sebetulnya, masih ada banyak hal yang mau Anggun tanyakan pada Kasa mungkin saja bisa bantu. Namun, posisinya mereka masih sibuk kerja pagi ini. Jadilah hanya bisa menemaninya minum, setidaknya dia tahu kalau ada teman yang membela. "Jangan terlalu dipikirkan." Perempuan itu menyemangati Kasa. "Aku tahu mana yang benar dan salah kalau butuh bantuan bilang saja padaku." Kasa menyunggingkan senyuman. Anggun melihat jam. "Aku ada jam kuliah pagi ini. Jangan lupa setoran artikel yang semalam aku kasih periksa dan bikin rangking naik biar gajiku dobel dia menyeringai." Kasa mengangguk. "Aku usahakan sebisanya." "Bye!" Anggun pergi. Simon akhirnya menoleh. "Kamu kena masalah besar, Ka." "Hem." "Selesaikan karena aku juga akan ikut kena masalah kalau mood bos kurang bagus." "Aku usahakan secepatnya." Simon mengangguk. Dia harap yang dikatakan jadi benar. . . Jordan merasa mendapat rezeki besar ketika tahu CCTV kafe Septian kemarin menujukkan sudut di mana Kasa benar-benar tampak seperti pencinta yang kasar melemparnya. Pria itu senang menikmati harinya yang begitu indah dengan musik yang menghentak keras, ruang gelap ditaburi lampu berwarna-warni yang berkelip. Di mana lagi kalau bukan klub malam, tempat favoritnya. "Aku kaget Kasa bisa melakukan itu." Wilman salah sorang teman Jordan yang juga dulu satu jurusan dengan Kasa mengomentari soal berita yang beredar dalam beberapa hari ini. "Kasa bisa melakkan tindakan bodoh." Jordan mendecih. "Dia memang selalu bodoh." "Tapi, aku tahu Kasa bukan orang yang gampang terpancing amarah." Jordan bilang, "Jangan terlalu percaya dengan apa yang kalian lihat ada pada dia. Kasa itu tetap seorang pecundang." "Tapi--" "Apa aku harus menendangmu keluar, supaya berhenti membela laki-laki itu dan bersikap lebih sopan!" Wllman menunduk. Dia meminta maaf pada Jordan karena terlalu banyak tanya. Jordan mengatakan kalau tidak ada siapa pun yang bisa membandingkan dia dengan Kasa. Di mataku dia tetap saja seorang pecundang. Jordan meneguk minumannya, menikmati musik yang begitu memekakkan telinga. Dia ingin menari menikmati masa di mana Kasa sebnntar lagi akan menangis penuh penyesalan dan minta maaf padanya. Di seberang sana ada sepeang gadis cantik yang tampak memperhatikan jordan sedari tadi. Perlahan dia membawa gelas minumnyaa kemudian mendekati pria bertubuh tinggi tersebut. Dia mengajak berkenalan. "Aku Monica." Jordan menyimpulkan senyum. "Jordan." Perempuan bernama Monica itu menengok ke sekitar. Ternyata memang tidak ada teman wanita yang menemaninya malam ini. "Di mana pacarmu?" "Pacar?" Jordan tertawa cukup keras mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak punya pacar dan sama sekali tidak tertarik dengan kata itu. Kalau aku mengingnkan seorang wanita, aku akan menjadikannya miliiku, bukan pacar." Monica dibuat kagum dengan ucapan Jordan barusan. "Mejaku kosong, mau minum denganku?" Perempuan itu sampai melenggokan tubuhnya dengan gemulai ketika mengajak jordan ke mejanya. Jordan mengangkat pundak daripada di sini dengan dua temannya yang tidak berguna, minum dengan nona manis di depannya ini. "Oke." Dengan senang hati. Ketika berjalan menuju mejanya tangan Jordan sudah menempel di pinggang si wanita. "Sinting." Wilman sampai memaki sendiri. Sementara Riki hanya tersenyum saja melihatnya. Lima menit yang lalu Jordan masih mengemis-ngemis saat menelepon Evelyn meminta maaf untuk apa yang terjadi kalau membuatnya kesal dia juga selalu mengejar peremmpuan itu. Namun, baru lihat perempuan seksi sedikit dia seakan sudah lupa dengan semua ucapannya. "Bagaimana kalau Evelynn tahu malah senang-senang dengan perempuan lain?" Riki menatap ke arah Jordan. Baru beberapa menit berkenalan mereka sudah akrab saling tertawa bersama bahkan sudah mulai berpegangan tangan "Jangan ikut campur kalau mau hidupmu aman. Tahu sendiri, kan? Jordan orangnya seperti apa Wilman hanya bisa membenarkan . "Ya biarakan saja dia dengan segala kelakuannya. paling tidak kita bisa traktiran setiap hari." Riki mendecih. "Itu salah satu manfaat berteman dengannya." . . Sudah berhari-hari lewat sejak fitnah yang dilakukan Jordan, berita tentang Kasa sama sekali tidak surut. Malah semakin ke sini semakin sering gencar membicarakan soal tindakan Kasa yang dinilai brutal. Mereka menuntut kekerasan seperti itu seharusnya ditindak. "Aku rasa sebaiknya kamu datang ke Jordan dan minta maaf." Kasa mengerutkan alis mendengar saran Anggun Anggun memintanya untuk dengar dulu. "Aku pikir ini sudah bukan lagu untuk memikirkan harga diri. Tahu, 'kan, bos setiap bari marah-marah, kerjaanmu dikurangi dan juga semua orang mencibir kamu." Anggun tahu beberapa pemberi komentar negatif pasti teman-temannya Jordan juga. Kasa menggeleng. "Kalau aku minta maaf ke dia yang ada malah semakin membuktikan kalau Jordan itu benar." "Terus mau apa lagi?" Ada Evelyn dan sepupunya Jordan berbeda dari dia, mereka pasti bisa bantu jelaskan. Anggun malah mengikik. "Kamu, tahu kita tinggaln di antara manusia-manusia yang seperti apa?" Kasa menatapnya. "Kita hidup di tempat di mana orang-orang akan lebih memercayai sesuatu yang sudah telanjur viral ketimbang fakta." "Jangan terlalu naif, Ka. Kamu harus pikirikan kalau mau begini terus, yang ada kamu malah mati kelaparan karena kehilangan kerja." Kasa mendesah panjang. "Aku harus pergi." Laki-laki itu sudah siap mengenakan helm. "Mau ke mana?" "Aku mau menemui Evelyn, dia pasti mau bantu untuk menjelaskan semuanya." Anggun menahan Kasa. "Jangan begini, Ka." Ini bukan selesaikan masalh malah bikin sakit hati Kasa mengerut alisnya "Aku tahu kamu memang lagi kasmaran dengan perempuan itu. Tapi, coba lihat siapa dia." Anggun mengingatkan. Selain masalah hadiah dari Kasa yang sama sekali tidak dipakai dia juga terbayang-bayang soal tatapan gadis itu yang begitu dingin. Kasa menarik sudut bibirnya. "Aku tahu siapa Evelyn dia beda dari yabg lain." Mendengarnya malah membuat anggun mendecih. "Aku rasa dia bisa babtu untuk selesaikan masalah ini." Kasa tidak peduli dengan yang orang katakan di luar sana. Yang dia butuhkan hanya sedikit bantuan untuk memberishkan nama baik dan membuatnya bisa bekerja normal lagi. "Aku pergi." Kasa berlalu meninggalkan Anggun yang masih berharap dia mau mendengarkan. Pria itu sudah duduk di motor Anggun berencana untuk menyusulnya. Jaga-jaga kalau ada apa-apa lagi. Namun, perutnya terasa lapar dan dia juga tidak mau malah membuar Kasa tidak nyaman. Hah, sepertinya dia cuma bisa mendoakan. Kasa menuju rumah Evelyn. Beruntungnya karena gadis itu ada di rumahnya dan mau menerima kedatangannya. "Kamu?" Evelyn tidak paham kenapa Kasa berani datang ke rumahnya. Ya, meski bukan teman yang pantas untuk diajak masuk ke dalam rumah, Evelyn tidak mungkin membiarkannya di luar. "Ayo, masuk." Harusnya Kasa mau diajak masuk, tetapi kali ini dia menolak. "Aku bisa minta batuanmu?" Evelyn melipat tangan di d**a. "Bantuan apa? Kasa menjelaskan niatnya datang kemari dan masalah apa yang sedang di hadapannya. "Aku butuh bantuanmu untuk bisa membuat semua orang tahu kalau yang dikatakan dalam video itu tidak benar." Evelyn membuang muka ke samping sejenak sebelum dia berani menatap Kasa. "Maaf ya, Ka. Aku memang tidak tahu apa-apa soal itu. Kasa memohon dengan sangat. Di dalam video itu dikatakan kalau Kasa cemburu dann menyerang Jordan padahal bukan seperti itu. Kasa hanya butuh bantuan supaya Evelyn mau mengatakan yang sebenarnya. "Faktanya, Ka, kamu memang sudah ketahuan menaruh perasaan padaku dan lagi kamu malah meladeni Jordan. Kasa tidak percaya Evelyn akan berkata demikian Dia ... gadis yang Kasa kagumi begitu lama selalu memiliki tutur kata yang baik, anggun bagai ratu, tetapi hari ini Kasa meihat dia begitu dingin dan angkuh. "Eve--" Deru mobil terdengar Kasa menoleh dan di depan matanya sendiri motor yang sudah diparkir di pinggir malah sengaja di tabrakkan sampai roboh. Bagian belakang motornya rusak ringan sementara spionnya pecah. "Ups, maaf aku tidak tahu kalau itu motormu." Seseorang melongokan kepala saat Kasa mendirikan motornya jatuh. Mobil menepi seorang laki-laki turun. Siapa lagi kalau bukan Jordan. "Maaf, Ka, aku kira Evelyn membuang rongsokan tadi. Kasa tertawa pahit. "Ternyata punya uang banyak tidak jadi jamina kalau matamu sehat. "Apa!" Jordan akan maju untuk menghajar mulut Kasa yang selalu berani melawan kata-katanya. Namun, Evelyn mencegah. "Ada apa kamu datang kemari?" Jordan mendekat pada Evelyn. "Tentu saja aku mau menongok bidadari hatiku yang seharian ini tidak bisa ditelepon." Evelyn mendesah. "Aku sakit kepala makanya cuma mau istirahat." Jordan mengangguk. "Kalau begitu, aku akan meminum. Dan ...." Jordan berbalik pada Kasa yang berdiri di sana, "ada apa kamu datang ke sini?" Evelyn menjelaskan. "Jo, Kasa kena masalah dengan video yang beredar itu. Hentikan saja." Jordan tertawa keras. Sekarang Kasa bisa tahu dengan siapa dia berhadapan, bukan? "Aku bisa saja mengampuninya," ujar Jordan setelah tawa renyahnya berhenti. "Dalam hitungan detik pun semua akan kembali normal. Tapi, dengan satu syarat." Kasa tidak bertanya apa syarat itu, Jordan melakngkah perlahan untuk mendekatinya. Dia menyeringai di depan Kasa lalu menairik sedikit bagian telapak kakinya yang yang dibungkus sepatu kulit mahal. Matanya mengisyarat ke bawah sehingga refleks Kasa melihatnya ke sana juga. "Cium kakiku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN