"Kenapa diam?" Jordan menaikkan sebelah alis, menatap Kasa dengan angkuh. "Bukannya tadi kamu yang bilang kalau mau masalah ini cepat selesai? Aku rasa satu-satunya cara supaya ini semua bisa berakhir adalah dengan membuat hatiku senang. Dan ...." Laki-laki itu menyorot lagi pada telapak kakinya, aku baru bisa senang kalau kau berlutut di bawah lalu mencium kakiku."
Alih-alih menuruti apa katanya, Kasa malah menyimpulkan senyum.
"Jo, aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikirmu bagaimana."
Sialan. Jordan menggeramenggeran berani sekali Kasa membantah kata-katanya. Rupanya dia masih berani bersikap angkuh. Lihat bagaimana Jordan akan membuatnya semakin terlihat bagaikan sampah.
Jordan tertawa-tawa. Dia menepui bahu Kasa. Aku hanya bercanda jangan terlau dianggap serius
Kasa menepis tangan Jordan yang berada di pundaknya.
Jordan melihat telapak tangannya yang baru saja ditepis oleh kasar sepertinya sebentar lagi Dia harus di tangan yang bersih karena pasti bakteri-bakteri yang ada pada laki-laki kumuh itu menempel di tangannya.
Ah menjijikan sekali. Sayangnya, Jordan tidak bisa menunjukkannya karena di depannya ada Evelyn saat ini. Tidak mungkin dia menunjukkan rasa jijik.
"Aku hanya minta hentikan fitnah yang kamu sebar saat iniit!"
Jordan berlagak pilon. "Fitnah? Fitnah apa yang aku buat?"
Kasa belum menjawab pa-apa, Evelyn memegang lengan pria itu. 'Tolong kasihani dia. Kasa butuh pekerjaan untuk bertahan hidup jangan buat hidupnya semakin sulit "
"Evelyn ...." Jordan sampai memegang dadanya. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kalian bahas saat ini. Soal berita yang sedang ramai dibicarakan itu?" Dia menaikkan sebelah alis. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka katakan. Semua itu bukan berasal dariku, tapi dari mata kepala mereka sendiri sudah bisa menyimpulkan."
Kasa berang. Kenyataan yang tidak seperti itu. Namun, muncul Jordan sengaja menggiring opini masyarakat supaya mengarah seperti yang diinginkan.
Sayang ,sekali kedatangan Kasa kali ini akan sia-sia belaka dilihat dari Evelyn yang sama sekali tidak membantu. Padahal hanya sedikit saja gadis itu mau bicara--setidaknya mengatakan yang sebenarnya-Kasa bisa selamat.
"Aku minta maaf kalau sudah mengganggu waktumu, Ev.'' Kasa tidak mau harga dirinya diinjak-injak terutama di hadapan Jordan. Lebih baik dia pergi.
Bibir Evelyn berkedut, dia sepertinya akan mengatakan sesuatu. Namun, Jordan sengaja menyela ucapannya.
"Kasa, jangan begitu. Apa kamu sama sekali tidak malu membuat Evelyn merasa gugup seperti ini."
Kasa melihat Evelyn. Tadinya dia mau membantah apa kata Jordan, tetapi di depan mata kepalanya sendiri Evlyn memang tampak gugup dan dia menyadari kalau mungkin itu adalah salahnya.
Sayangnya Jordan tampak memanfaatkan situasi dengan mendekati Evelyn. "Ck! Dari dulu kamu memang selalu Jadi Pecundang yang memanfaatkan perempuan baik hati seperti Evelyn."
Jordan menempatkan kedua tangannya di bahu Evelyn memberi pijatan lembut seakan-akan dia begitu perhatian.
Evelyn merasa risih jadi dia memintanya untuk menyingkir. "Jangan berlebihan, aku tidak apa-apa."
Laki-laki itu hanya mengangkat pundak sembari mengulum bibit. Namun, ketika menatap Kasa pandangannya berubah menjadi sinis.
Jordan memang memiliki segalanya. Namun, asal tahu saja dalam hati Kasa sama sekali tidak rasa takut sama sekali.
Bahkan, hati Kasa selalu berkata bahwa Jordan tidak ada apa-apa dibandingkan dengan dirinya. Walaupun, Kasa tidak tahu dari mana alasan dia bisa berpikir seperti itu.
Melihat reaksi Evelyn bagaimana dan juga tingkah Jordan, Kasa tidak mau lama-lama lagi di sana.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi."
Jordan mendengkus. "Kenapa tidak bilang dari tadi," desisnya. Sementara Evelyn tidak bereaksi apa-apa.
Tidak memikirkan apa-apa lagi, termasuk soal jika besok harus berhadapan dengan bosnya dan menerima kenyataan bahwa hidupnya akan hancur sebentar lagi, Kasa memilih pergi.
Tentu saja dengan kondisi motor yang sudah tidak sama dengan dia baru datang tadi.
Kasa pergi dengan perasaan kecewa. Bukan karena Evelyn tidak mau membantunya, tetapi soal kenyataan yang dikatakan Anggun benar.
Termasuk soal hadiah yang kemarin diberikan olehnya. Dari yang ditunjukkan gadis itu membuktikan bahwa dia sama sekali tidak memakai pemberian Kasa.
Motor Kasa telah berlalu. Evelyn dan Jordan masih berdiri di depan pagar. Setelah menahan ekspresinya dari tadi sekarang perempua itu berani menunjukkan kekesalannya pada Jordan.
"Jo, kamu sudah keterlaluan pada Kasa."
"Apa?" Jordan masih berharga tidak merasa bersalah dengan segala tingkahnya.
"Pertama, soal kenapa kamu menabrakkan motornya sampai rusak begitu? Bukannya itu keterlaluan?"
Jordan mengaku tidak sengaja. "Aku tidak melihat rongsokan itu ada di sana. Lagi pula, aku sudah minta maaf. Kalaupun ada kerusakan dari yang aku buat, pasti aku kasih uang untuk menggantinya."
Jordan selalu saja begitu menilai segala sesuatu bisa digantikan dengan uang.
"Dan juga soal tindakanmu menyebar video perdebatan kalian." Evelyn tersenyum sinis, "aku rasa itu sama sekali tidak etis. Karena kelihatannya kamu memutar balikkan fakta."
"Ev, ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba jadi sibuk membela Jordan seperti ini?"
"Jaga kata-katamu." Evelyn sinis. "Aku sama sekali tidak peduli dengannya. Hanya saja aku tidak suka dengan tindakanmu sampai sejauh ini. Memangnya ada masalah apa dengan dia?"
Tentu saja jordan tidak bisa mengatakan kalau ini ada kaitannya dengan evelyn. Kasa bisa lebih dekat dan akrab dengan gadis itu tanpa rasa canggung.
Sementara Jordan butuh pendekatan khusus dan sulit baginya untuk membuat Evelyn nyaman.
Dan, semua ini tidak mungkin dia katakan pada perempuannya di dekatnya ini karena bisa menjatuhkan harga dirinya.
"Dia hanya lelaki biasa yang tidak mengganggu sama sekali."
Jordan membujuk Evelyn. "Aku hanya bercanda soal kemarin. Lagi pula soal isu yang beredar di masyarakat itu tidak ada kaitanya denganku. Mereka melihat dan menyimpulkan tentang apa yang ada di video, aku sama sekali tidak bisa mengendalikan."
Baik, kalau begitu katanya Evelyn tentu tidak akan memaksa jordan untuk membuat semuanya tampak nyata.
"Jika aku meminta satu permintaan, apa kamu mau mewujudkannya?"
Jordan membusungkan dadanya. Apa yang susah dari itu. Dia bisa dilakukan apa pun untuk Evelyn.
"Katakan apa maumu?"
"Bebaskan Kasa dari masalah ini."
Kasa bergeming untuk sejenak. Dia tidak menjawab apa pun untuk pertanyaan barusan sampai Evelyn merasa kesal kemudian dia mendengkus sebelum berbalik untuk masuk ke rumah.
"Kalau tidak sanggup untuk melakukannya lebih baik pergi saja dari sini."
"Jangan marah." Jordan menyusul Evelyn masuk ke rumah. Berhubung tidak dianggap, dia nekat mengambil beberapa langkah lebih dulu kemudian menghadang Evelyn.
Evelyn meminta Jordan menyingkir. "Jangan halangi jalanku."
Jordan mencebik. "Aku baru tahu kalau kamu bisa begitu perhatian pada Kasa.
"Sudah kubilang, ini bukan perhatian pada Kasa!" Evelyn terus mengelak.
Ya, Jordan akan memercayainya. "Baik kalau memang kamu mau aku mau membuat Kasa selamat. Tapi, dengan satu syarat."
Evelyn meliriknya sinis.
"Kalau aku bisa membuat hidup Kasa kembali seperti biasa, kamu harus mau jalan denganku. Paling tidak selama satu bulan ke depan."
Evelyn memicingkan matanya. "Jo, apa yang kamu rencanakan dengan semua ini?"
Jordan mengangkat pundak. "Tidak ada aku hanya ingin jalan-jalan saja. Kamu tahu, 'kan, belakangan ini kamu susah diajak pergi denganku? Makanya aku pakai cara seperti ini."
Evelyn tidak bisa percaya pada Jordan begitu saja.
"Ayolah satu bulan saja. Hanya hubungan biasa, tidak akan apa-apa, janji," katanya begitu.
Evelyn tidak suka sebenarnya dengan Jordan. Namun, untuk membalas kebaikan Kasa sebelumnya dia mau lakukan satu hal saja.
Lagi pula, laki-laki itu tidak akan berani melakukan apa-apa padanya karena Evelyn bukan orang sembarangan.
"Baik, aku akan menuruti. Hanya satu bulan, tidak ada macam-macam atau aku akan membuatmu membusuk di penjara."
"Oke."
Kesepakatan sudah dibuat dan dia tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.
.
.
Kasa sudah berusaha untuk menghentikan berita yang beredar tentangnya sejauh ini. Namun, sayang sekali itu bagai bola api yang bergulir yang semakin lama semakin besar.
Anggun selalu bilang padanya untuk bersabar. Dia juga sudah terus membalas orang-orang yang berkomentra pedas dengan kata-kata lebih menohok.
Bahkan, Kasa harus meminta gadis itu untuk menghentikan semua tidakannya karena dia tidak mau Anggun jadi kena masalah.
Heru--bosnya--terus-terusan memarahi Kasa karena merasa sebagian besar pendapatannya menurun karena ulah Kasa.
Selainserangan secara verbal, Kasa juga sering dipandang sinis oleh beberapa orang yang mengetahui masalahnya.
Ketika Kasa ke toko buku beberapa orang remaja seperti berbisik menggujingnya ataupun para ibu-ibu muda yang seperti menuntun anak-anaknya erat supaya tidak dekat dengan Kasa.
Mereka bersikap seakan-akan Kasa ini adalah manusia pembawa virus yang bisa merusak sistem kekebalan tubuhnya janda hitungan detik. Padahal, itu hanya sebuah kebohongan.
Tadi siang saat bekerja, dompetnya ketinggalan. Memang uangnya tidak banyak, tetap kartu mahasiswa di dalamnya cukup penting.
Bisa repot kalau dia besok memerlukan kartunya.
Kasa ke rumah Anggun saat hari sudah mulai gelap. Saat perempuan itu menemuinya, dia sedang makan malam dengan keluarga.
Kasa hanya berdiri di luar, sungkan untuk masuk.
"Dompetmu ketinggalan." Kasa mengulur tangan memberi dimpet milik Anggun.
Anggun menepuk jidat. Astaga bagaimana dia bisa begitu ceroboh.
"Untung kamu baik mau antar ini." Anggun sampai memeluk dompetnta. Ada banyak benda penting di dalam sini kalau sampai besok tidak ada, dia pasti kena masalah besar.
"Lain kali hati-hati, Gun."
Anggun hanya menyeringai dinasihati.
"Anggun, masuk!" Suara bariton membuat obrolan mereka terhenti.
Anggun menoleh, ternyata itu kakaknya.
"Sebentar," sahutnya. Bagas, kakaknya memang selalu cerewt kalau adiknya ini nogobrol lama sedikit dengan laki-laki.
Dia mengajak bicara Kasa lagi, "Ayo, Ka, masuk."
"Aku mau langsung pulang, sudah malam."
"Ibuku masak makan malam lumayan banyak, kamu bisa ikut makan malam dengan kami."
Kasa menolak. "Lain kali saja. Aku tidak bawa oleh-oleh malam ini."
"Esh, memangnya aku orang lain." Anggun sudah semangat mau menarik Kasa.
"Aku pulang saja."
Tidak bisa menolak, Anggun sudah menarik Kasa untuk masuk ikut makan malam bersamanya.
"TARAAANG!" Dia menyerukan itu seakan Kasa ini barang istimewa yang baru diantar kurir. "Ini atasanku di kantor, dia mau ikut makan malam."
Kasa tidak enak dengan beberapa orang yang ada di sana. Kakaknya yang terkesan dingin, ibunya, ayahnya. "Gun, aku--"
Namun, melihat keramahan mereka Kasa sepertinya tidak bisa menolak.
Apalagi, saat kursi sudah disiapkan dan dia harus ikut makan malam.
Ya sudah, nikmati saja. Kasa anggap ini rezeki.
Setelah malam yang dilewati bersama keluarga Anggun, paginya Kasa menjalani hari lebih semangat.
Bertahun-tahun hidup sendiri, kini dia merasakan lagi hangatnya sebuah keluarga.
Saat pagi baru sampai di tempat kerja, Simon tahu-tahu mendekatinya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan kamu selamat atau malah tambah kena masalah. Tapi, coba cek video yang lagi ramai dibahas ini."
Kasa melihatnya, seketika jantungnya terasa seperti disengat ratusan serangga.