Satu hari sebelumnya.
"Kalian di mana?"
Jordan mengirimkan pesan pada teman-temannya. Ini seperti peringatan bagi mereka kalau dibutuhkan.
Dengan segera Wilman membalas, dia di rumah. Jika Jordan butuh bantuan dia siap berangkat.
Baguslah. Jika teman-temannya bisa diandalkan begitu.
Beberapa menit kemudian Riki juga membalas kalau dia juga tidak ada kesibukan.
Kalau begitu, Jordan akan mengirimkan alamat tempat di mana mereka harus bertemu dan dia tidak mau teman-temannya terlambat walau hanya semenit.
"Kita mau party di sini?"
Sementara Wilman masih tengok-tengok dia tidak mengerti kenapa diajak pen house milik Jordan.
Yang dari pengamatannya ini bukan party, walaupun mereka semua disuguhkan dengan berbagai macam fasilitas yang bisa membuat mereka betah.
Jordan duduk di kursi yang berbentuk sangkar burung. Dia menopang satu kaki ke atas kemudian menunjukkan ponselnya. "Kalian tahu gara-gara kasus yang kemarin, juga dibantu dengan komentar-komentar kalian yang membuat Kasa semakin tersudut, Pecundang itu sekarang butuh bantuanku."
"Bantuan yang bagaimana, maksudnya?"
Jordan tertawa cukup keras. "Hidupnya sekarang ada di tanganku."
Kedua teman Jordan tidak mengerti dengan apa maksudnya.
"Bayangkan, betapa bodohnya dia mendatangi Evelyn meminta gadis itu supaya mau membuat klarifikasi kalau dia tidak bersalah."
Lelaki sombong itu mencebik berapa kali. Kepalanya menggeleng tidak habis pikir dengan tindakan Kasa.
"Aku beri sempatan untuk mencium kakiku supaya masalahnya selesai, tapi dia terlalu sombong."
"Kita membuat Kasa dalam masalah?
Jordan mengangguk untuk pertanyaan Wilman barusan. Biar dia tahu, tapi lain kali bisa lebih tahu diri."
Jordan menjelaskan tentang kondisi Kasa saat ini. Tentu saja dia habis dimaki oleh bos tempat kerja dan juga orang-orang di sekitarnya.
Wilman dan Ricky saling tatap.
"Serius, sampai separah itu?" tanya Ricky. Padahal, awalnya dia cuma mau iseng-iseng saja.
Wilman merasa bersalah sedikit. Kasa sama sekali tidak pernah mengganggu dia. Namun berhubung dia berteman dengan Jordan dan juga mereka adalah musuh sejak lama, memang dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kata Jordan.
"Oke." Ricky menyingkat waktu. "Jadi apa yang harus kita kerjakan sekarang?"
Jordan senang temannya punya inisiatif.
"Aku mau buat rekaman video, pastikan kalau aku melakukannya dengan baik." Seringai laki-laki itu membuat bulu kuduk merinding.
Wilman tidak banyak bicara, dia langsung siapkan ponsel milik Jordan.
Ricky bergurau, "Aku rasa kita ini sudah mirip sutradara dadakan."
Jordan mengangkat bahunya. "Anggap saja begitu dan kalian dapat keuntungan juga dari ini."
Ya, mereka paham. Selama Jordan senang dia bisa menghamburkan uang begitu banyak untuk mereka.
Orang tuanya pengusaha yang cukup sukses di kota ini. Uang seakan akan terus mengalir padanya, sehingga dia tidak peduli betapa berapa banyak yang dihabiskan.
Jordan memulai videonya setelah berbasa-basi sedikit kemudian dia mulai mengatakan bahwa ada kesalahpahaman di sini.
Dengan begitu memelas dia menunjukkan rasa bersalah, untuk apa yang menimpa Kasa.
Dia mengatakan bahwa hubungan antara mereka berdus kurang baik, itu karena Jordan hanya laki-laki bodoh yang tidak sebanding kepintarannya dengan Kasa.
Ini sebabnya dia mudah asal bicara dan mungkin jadi hal yang menyebabkan emosi kasa tersulut.
Rekaman selesai Wilman dan Ricky sama sekali tidak menyangka kalau Jordan bisa acting sebagus itu.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku rasa, kalau semua orang yang lihat ini mereka pasti langsung iba padamu."
Wilman mengembalikan ponsel milik Jordan. Dia tidak bicara apa-apa lebih banyak diam. Merasa tenggorokannya kering, dia minum.
Jordan melihat ada yang berbeda dari temannya itu. "Kenapa diam terus?"
Wilman sempat gelagapan. Dia banyak diam karena ada rasa bersalah dalam hatinya untuk semua tindakan mereka pada Kasa. Namun, tidak mungkin mengungkapkan itu pada Jordan.
Dia tersenyum kaku.
"Aku harap kamu tidak coba-coba berkhianat di sini."
Wilman menggeleng. "Tenang, Jo."
Jordan menatapnya tajam. Detik berikutnya dia lebih memilih fokus pada handphone-nya sendiri.
Jordan telah melakukan apa yang Evelyn mau. Sebentar lagi, gadis itu tidak bisa menolak kalau harus jalan dengannya.
Sementara yang dilakukannya, sama sekali tidak menyelamatkan harga diri Kasa.
Huh, bukan urusannya, 'kan?
Setidaknya Jordan sudah membuat Kasa selamat dari cibiran sebagai perundung.
Jordan menunjukkan 'kejeniusannya'pada teman-teman.
Ricky santai saja menanggapinya, sementara wilman sedikit tidak kooperatif.
"Bagaimana kalau setelah ini kita berhenti saja? Aku rasa Kasa tidak punya salah apa-apa. Lagi pula dia hidup sudah susah, kasihan kalau kita--"
Kalimat itu belum selesai, Jordan langsung mencengkeram kerah baju Wilman bahkan sampai menggunjangnya.
Laki-laki kurus tersebut tampak ketakutan. Selain badan Jordan yang lebih besar dia juga bukan siapa-siapa di matanya.
Tidak mau melihat Wilman disakiti, Ricky dengan cepat dia meminta Jordan sabar.
"Wilman mungkin cuma mau kasih nasihat, Jo."
"Berengsek!" Dia menghempas Wilman. "Lain kali kalau berani bicara macam-macam atau sok pahlawan, aku akan merobek mulutmu!"
.
.
"Kamu lihat dengan mata kepalamu, 'kan?"
Kasa dipaksa untuk memperhatikan lagi, bagaimana sikap Jordan. Dia mau bersikap baik. Dan, Kasa yang terlihat tidak tahu diri.
Faktanya, yang dilakukan Jordan sama sekali tidak menyelamatkannya.
Malah semakin membuat Kasa terlihat buruk.
"Anda percaya dengan dia, Pak?" Ksa berani bersikap tegas pada bos-nya.
"Kurang ajar!" Kasa nyaris dilempar binder file oleh bos.
Namun, laki-laki itu tetap bergeming. Tangannya sudah mengepal. Dia merasa dirinya tidak pantas diperlakukan seperti ini.
Tidak peduli apakah dirinya hanya orang miskin atau bukan manusia sekalipun, ada hak bagi Kasa untuk membela dirinya.
"Dengar, ya. Aku tidak peduli ada apa dengan urusanmu yang jelas aku mau kamu tidak membuat masalah lagi."
Kasa terpaksa mengangguk.
Apakah dia terlalu bodoh sampai tidak bisa mengatakan untuk mengundurkan diri saja?
Sayangnya, Kasa terikat kontrak yang mewajibkannya membayar denda jika berhenti melanggar kontrak
Heru sang Bos, sengaja menekannya secara mental begini.
Harusnya, jika dia merasa rugi atau tidak suka dengan Kasa pecat saja dia dengan begitu, akan lebih mudah bagi Kasa untuk angkat kaki.
"Kita sudah dapat suntikan dana dan orang tua dari pria yang beseteru denganmu itu bersedia memasang iklan lagi. Sekarang aku mau temui dia secara pribadi dan pastikan kalau masalah kalian beres."
Kasa bergeming.
"Cih!" Pria paruh baya bertubuh gemuk itu sinis pada Kasa. Dia menggumam soal sikap Kasa yang terlalu sombong.
"Lain kali, ukur dirimu sebelum mencari masalah. Dengar ya." Sembari menunjuk-tunjuk Kasa dia mengingatkan, "aku mau kamu membawa kabar baik setelah ini atau siap-siap aku membuatmu sengsara!"
Kesialan hidup Kasa tidak berhenti hanya sampai di situ. Beres urusan dengan bos, Jordan menghubungi Kasa meminta dia untuk menemuinya.
Seharusnya Kasa menolak karena Jordan pasti akan membuat masalah. Apalagi itu jelas ada siasat terselubung dari Jordan.
Masalahnya, Kasa tidak punya daya untuk menolak.
Jika dilakukan dengan terang-terangan, akan semakin menyulitkan Kasa.
Dengan amat sangat terpaksa menerima tawaran Jordan untuk menemui dia yang katanya saat ini berada di Kafe tempat biasa dia berkumpul dengan teman-temannya.
Kasa menemui Jordan, itu membuat pemuda yang mengejar Evelyn dengan cara licik tersebut bertepuk tangan di depannya.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa tetap nekat datang ke sini sekalipun sudah tahu aku bisa membuatmu malu."
Kasa tersenyum sinis. "Aku pikir Setelah semua kebohongan yang kamu ciptakan dan juga hinaan, itu sudah membuatmu puas. Ternyata belum."
Jordan memandang Kasa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada apa sih, dengan diri dia?
Satu pun tidak ada yang bisa menyainginya. Kenapa sikapnya bisa membuat Jordan merasa kalau dia adalah pesaing terberat yang harus disingkirkan?
Jordan menawarkan minum.
"Tidak usah basa-basi, aku tidak banyak wakt. Lagi pula aku ke sini karena tidak mau kamu membuat masalah lagi dalam hidupku."
Jordan tertawa cukup keras. Sembari menunjuk-nunjuk dia mengatakan, "Aku tidak tahu dari mana asalnya keberanianmu untuk bicara seperti itu."
Kasa menghela napas. "Kalau sudah tidak ada yang dibjcarakan, aku akan pergi."
"Sabar dulu, Ka." Jordan menampilkan senyum licik. "Sebagai bukti kalau kita sudah berdamai, aku mau mengundangmu di acara besok."
"Terima kasih untuk undangannya. Tapi, aku akan lebih bersyukur jika tidak dapat undangan itu."
Kasa tahu kedatangannya di sini memang hanya untuk dikerjai Jordan.
"Ayolah jangan begitu. Apa kamu mau membuat Evelyn kekasihku sedih karena laki-laki yang dibelanya tidak mau memenuhi undangan?"
Kasa menegang.
"Evelyn sudah jadi milikku, berhenti mengemis padanya karena itu memuakkan!"
Kasa ingin sekali menghujamkan pukulan pada Jordan.
Pergi saja lebih baik.
Jordan sedikit menaikkan mata, beberapa detik kemudian sisa-sia minuman sudah membasahi baju Kasa.
"Nah, dengan begini aku memaafkanmu." Jordan tersenyum puas melihat Kasa telah basah dan kotor.
.
.
Seharusnya Kasa bisa membalas. Namun, kenyataannya cuma bisa menahan kekesalannya.
Laki-laki itu mendesah panjang. Kenyataan bahwa dia hanyalah laki-laki miskin yang bahkan tidak berharga untuk hidup membuat dadanya sakit.
Kasa ingin menenangkan diri. Deburan ombak di pantai, embusan angin dan jiga ombak yang bergulung membuatnya merasa nyaman.
Sendiri Kasa di sana. Memejamkan mata, menikmati waktu di mana tidak ada orang yang memandang sebagai pecundang.
Tampaknya yang dikatakan Jordan memang benar. Kasa adalah seorang pecundang.
Mempertahankan gadis yang disuka saja tidak bisa. Dia bahkan menyebabkan Evelyn berada dalam masalah besar karena harus membiarkannya masuk dalam perangkap si Licik Jordan.
Kasa merebahkan tubuhnya di pasir pantai. Tangannya menekuk ke belakang.
Dia memejamkan mata ....
"Ayah, aku harap kamu tidak malu melihat keadaanku yang begini di alam sana."
Kasa tidak punya ingatan masa kecil yang banyak tentang orang tuanya. Dia hanya tahu, laki-laki berjanggut tipis dan juga perempuan bertubuh ramping yang selalu menggoreng telur mata sapi untuknya adalah orang tuanya.
Entahlah, bagaimana Kasa melewati masa kecil itu. Tidak ada yang bisa dia ingat.
Sesekali memang dia pernah bermimpi tentang masa kecilnya di mana ada banyak orang yang membungkuk padanya.
Seorang perempuan bermata indah mengajaknya bermain. Tangannya yang lembut menggenggam tangan Kasa.
Mereka kelihatan bagai tuan dan nyonya dari keluarga berada.
Mimpi yang indah.
Sayangnya, di kenyataan Kasa hanya orang yang selalu diinjak oleh mereka yang katanya orang terpandang.
Kasa melihat kalungnya. Di sana terukir namanya dengan jelas. Perkasa.
Hei, dia sungguh tidak mengerti kenapa harus diberi nama seperti itu.
"Aku merindukan kalian," katanya pada kalung tersebut seakan-akan itu adalah orang tuanya sedang diajak bicara. Dia harap ayah dan ibunya ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan.
Kasa asyik saja melamun. Dia tkdak sadar sejak kapan ada seorang pria yang ikut duduk di sana.
Saat Kasa menoleh, laki-laki itu juga tengah menatapnya dengan senyuman hangat.
Jika diperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki, kelihatannya dia bukan orang sembarangan. Semua pakaian yang dikenakan dibuat dari bahan-bahan berkualitas yang tentunya memiliki harga sangat mahal. Jika ayah Kasa masih hidup, mungkin pria itu seusia dengan ayahnya.
Dari semua yang dirasakan saat ini hal yang paling mengejutkan adalah ketika dia tiba-tiba memegang kepala Kasa kemudian mwngusapnya penuh kasih sayang.
Kasa ingin menepis tangan laki-laki tersebut. Namun, dia merasa nyaman
Seakan-akan baru saja menemukan orang tua yang telah lama pergi meninggalkannya.
"Kamu bukan pecundang." Pria itu bicara dengan suaranya yang berat.
Bibir Kasa terkatup rapat. Padahal, dalam hatinya ada banyak kata yang diungkapkan.
Dia tersenyum. "Karena kamu adalah anakku."