Bab 17: Keanehan

1029 Kata
*** Khadija berpikir bahwa dirinya harus lebih lama tinggal di rumah orang tuanya. Selain untuk merayakan hari-hari setelah Randy dan Silvia menikah. Khadija juga ingin menunjukkan dukungan kepada keluarganya. Randy sering menyindir Khadija dengan mengatakan Khadija tidak mendukung keluarganya secara penuh. Oleh karena itu, Khadija menahan keinginan untuk pulang ke rumah. Dia memilih tinggal di rumah ibunya lebih lama. Beruntungnya, semua keputusan yang diambil Khadija didukung penuh oleh Harold sebagai suaminya. Mereka benar-benar menjadi suami istri yang saling suportif. "Dek," panggil seseorang. Suara itu milik Randy. Khadija yang baru saja selesai sholat isya akhirnya menoleh kepada kakaknya. Dia melepas mukenah yang melekat di tubuhnya lalu mengganti dengan hijab berwarna biru muda. "Bang Randy! Ada apa?" Tumben sekali Randy berbicara dengan nada sopan. Terakhir kali lelaki itu berbicara dengan nada ketus, membuat Khadija takut-takut untuk sekadar menyapanya. Hari ini Randy berbeda. Dia seperti malaikat yang sedang memberikan cahaya ke keberuntungan kepada Khadija. "Azzam menunggu di luar," bisik Randy. "Azzam?" Khadija tertegun. Dia melirik jam di ponselnya. Sudah pukul 10:00 malam. Untuk apa Azzam datang ke rumah orang tuanya. Apakah ada hal yang mendesak? Umumnya Azzam datang ke rumah Khadija apabila ada urusan pekerjaan yang penting. Azzam sangat menghargai waktu orang lain. Dia tidak mungkin datang kalau tidak ada keperluan mendesak. Jika pun ia terpaksa menyita waktu seseorang. Azzam biasanya meminta maaf terlebih dahulu. Azzam adalah salah satu lelaki yang membudidayakan kata maaf setiap kali ia merasa melakukan sebuah kesalahan. "Ya. Dia ada di luar," ulang Randy. Khadija merasa ada yang salah dengan ekspresi bahagia abangnya. Mengapa Randy harus semringah dengan kehadiran Azzam? Khadija bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak mengungkapkan pertanyaan itu secara langsung. Khadija melipat mukenah dan sajadah yang sempat ia gunakan sebelumnya. Semua perlengkapan sholat itu ditata dengan rapi di atas meja. Setelah itu, Khadija memperbaiki jilbab yang baru saja ia pasang sembari memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukkan kakaknya. "Seandainya saja kamu menikah sama Azzam. Kamu pasti sangat bahagia, Dek. Azzam sangat perhatian kepada keluarga kita. Sangat berbeda dengan orang itu." Randy meringis. Menyebut Harold dengan panggilan 'orang itu' seakan-akan lidahnya tidak pantas mengucapkan nama Harold. Kebencian di hatinya sudah teramat dalam. Nama itu sudah menjadi tragedi bagi Randy. Dia sudah sangat membenci iparnya itu, dan akan melakukan segala cara agar Khadija terlepas dari pria itu. "Bang Randy," tegur Khadija. Wanita itu masih mencintai Harold. Dia tidak terima dengan kata-kata abangnya yang memberikan isyarat agar Khadija memilih berpisah dari Harold. Tidak! Khadija tidak akan berpisah dari suaminya. Paling tidak, itulah yang dipikirkan Khadija sekarang. Belakangan ini memang menjadi masa-masa tersulit mereka. Akan tetapi, Khadija percaya bahwa waktu akan memperbaiki segalanya. Dia dan Harold akan menemukan titik kebahagiaan yang mereka idamkan, yang mereka rasakan di awal-awal pernikahan mereka. Semoga Khadija bisa menguatkan hatinya. Itulah harapan Khadija. "Iya, iya. Abang minta maaf. Abang hanya merasa bahwa jika ada yang lebih baik, mengapa harus memilih yang tidak baik?" Khadija tidak membalas perkataan kakaknya. Dia merasa cukup malas apabila Randy mengungkit perceraian. Sesuatu yang tidak pernah Khadija pikirkan akan terjadi di masa depan. Khadija selalu mengingat anak-anaknya. Bagaimanapun rumitnya situasi, kebahagiaan anak-anak adalah prioritas Khadija. Tentu Zul dan Zander tidak mau orang tua mereka bercerai. Apalagi karena konflik keluarga. Zul dan Zander tidak akan menginginkan perpisahan orang tua mereka. Keduanya masih terlalu kecil untuk momen pahit semacam itu. Khadija keluar rumah karena ternyata Azzam ada di luar. Aneh sekali Azzam malah berada di luar padahal ia bisa masuk ke dalam rumah orang tua Khadija. "Mas Azzam ngapain di luar? Kenapa enggak masuk rumah?" tegur Khadija. Azzam sedang duduk di taman, memandangi langit malam. Pria itu sempat menendang botol air mineral yabg berserakan di dekat kakinya. Saat melihat Khadija, raut bahagia langsung terpancar di wajah pria itu. Azzam laksana menyaksikan bidadari cantik berdiri tepat di depan matanya. "Enggak apa-apa. Di sini juga bagus. Aku sempat mengobrol dengan Randy. Kupikir udara di luar sini sejuk, dan memang seperti itu." Azzam semringah. Khadija mengangguk. Dia mengambil posisi di samping Azzam. Mulai menghirup udara malam yang begitu sejuk. Khadija mengingat-ingat kenangan indah bersama Harold. Dahulu mereka suka pergi ke taman berdua. Masa itu sudah lama, dan masih terasa begitu nyata bagi Khadija. "Udara di sini memang sejuk," ujar Khadija membenarkan. Khadija mendongak ke atas sampai menyaksikan ribuan bintang berserakan di langit. Seakan mereka sedang berbaris mengantri untuk menunjukkan pesona mereka. "Mas Azzam mau apa ke rumah malam-malam begini?" Akhirnya Khadija bertanya. Selalu ada alasan di balik kedatangan Azzam. Biasanya alasan itu sangat penting. "Bang Randy yang minta. Abangmu berniat membuat usaha bersama." Oh, ini rencana Randy lagi. Khadija mengangguk, lalu dalam sedetik mengulang perkataan Azzam. Setahu Khadija, Randy bukanlah orang yang pekerja keras. Sangat mengherankan Randy mau membuat usaha kolaborasi dengan Azzam. Sebab Harold ingin membuatkan usaha untuk Randy. Namun, pria itu malah menolak mentah-mentah. "Usaha kolaborasi? Itu terdengar bagus, Mas." Akhirnya Randy mau membuat usaha? Itu membuat Khadija merasa sangat bahagia. Dia senang karena abangnya sudah mau membuka diri dalam mencari nafkah. Mungkin karena kehadiran Silvia sebagai istri Randy juga, yang mengubah Randy menjadi lebih bertanggung jawab. "Iya. Memang bagus. Kami sudah merencanakannya dengan matang." Sekali lagi, Azzam sangat pandai memulai bisnis baru. Dia rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk kesuksesan usahanya. Azzam sama sekali tidak takut pada risiko. Dia bekerja semaksimal mungkin sampai ia benar-benar berhasil membangun usahanya itu. "Karena aku sudah datang ke sini. Aku merasa tidak tenang kalau tidak bertemu denganmu." Azzam jujur. Khadija me.balas dengan tawa pecah. Kadang Azzam begitu konyol di hadapannya. Padahal jika sedang berhadapan dengan karyawannya yang lain. Azzam begitu profesional. Jiwa kepemimpinan dan ketegasan tidak bisa lepas dari sosoknya. Azzam adalah contoh pebisnis muda yang sukses. "Mas Azzam bisa saja." Khadija menggeleng. Dalam beberapa detik, Azzam dan Khadija bersitatap. Tatapan mereka begitu intens. Ketegangan pun tiba-tiba terasa di antara mereka. Ketegangan itu merebak sampai Khadija menolehkan wajahnya ke arah lain. "Maaf ya Mas Azzam. Aku tidak bisa berlama-lama. Zul dan Zander pasti menungguku di dalam." Pada akhirnya Khadija pamit. Wanita itu memiliki rencana malam ini. Jika kedua anaknya belum tidur maka Khadija akan memberikan materi pembelajaran tambahan. Yaitu dengan mengajari dua anaknya membaca dan belajar menulis abjad. "Tak apa. Aku pun sudah mau pulang. Terima kasih sudah menemani aku di sini malam ini." "Sama-sama, Mas." . Instagram: Sastrabisu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN