Bab 18: Rumor

1005 Kata
*** Rumor demi rumor berembus seperti angin topan yang tidak berhenti mengedarkan diri di udara. Rumor yang sebelumnya sudah membaik entah bagaimana menimbulkan cerita semakin dramatis. Harold tidak tahu bagaimana awalnya sampai banyak sekali artikel yang menggiring opini. Permasalahan awal mengenai keluarga Khadija yang memanfaatkan kekayaan Harold berubah menjadi drama orang ketiga. Harold dituding menduakan cintanya. Dua minggu berlalu, dan Harold belum pernah bertatap muka secara langsung dengan istrinya. Jadwal demi jadwal bernyanyi yang sempat tertunda kini harus direalisasikan oleh Harold. Membuat ia dan Khadija semakin jarang berkomunikasi. Setiap kali Khadija ingin bertemu, Harold selalu berada di luar kota, kadang ia sedang beristirahat. Lalu mereka mulai mengabaikan obrolan-obrolan yang seharusnya terjadi di antara mereka. Raffi dan seluruh staf manajemen Harold memilih untuk tidak memfokuskan diri menghadapi gosip yang beredar. Nyaris dua minggu mereka menghabiskan waktu untuk menyelesaikan rumor yang terus berkepanjangan. Namun, tidak ada kabar baik yang terjadi. Dari pada Harold dan tim manajemennya mengurusi rumor tidak baik itu. Rumor yang tidak akan pernah ada habisnya. Mereka memilih untuk fokus pada pekerjaan mereka. Terlebih, tidak ada masalah dengan kontrak yang sudah terjalin. Tiga brand yang kontrak dengan Harold sama sekali tidak memedulikan kehadiran rumor tidak baik itu. Ada kabar merebak bahwa Harold berselingkuh dengan penggemar beratnya. Walaupun Harold sudah melakukan klarifikasi, tetap saja gosip itu tidak berhenti dibicarakan. Parahnya malah semakin banyak cerita karangan yang terjadi. Lelah! Harold dan timnya sudah lelah dengan keadaan itu. Besok, Harold dan Raffi akan terbang ke Padang. Ada acara yang akan mereka isi di sana. Jadwalnya cukup banyak di sana. Raffi memberitahu Harold kalau estimasi yang akan mereka habiskan di Padang sekitar satu minggu lebih. "Apa Khadija sudah mengangkat panggilannya?" tanya Raffi yang sudah duduk di samping Harold. "Belum. Mungkin Khadija sibuk," ujar Harold. Dia tidak tahu seperti apa status rumah tangganya sekarang. Satu minggu sebelumnya, Harold tidak menginap di rumahnya. Ketika ia mulai pulang lebih sering, ia malah tidak menemukan istrinya di rumah. Pelayan di rumahnya yang bernama Santi bercerita kalau Khadija dan dua putranya sepakat tinggal di rumah orang tuanya. Alasannya karena ibu dari Khadija sedang sakit. Sulit bagi Khadija untuk bolak-balik ke rumahnya menuju studio Azzam. "Sibuk? Seharusnya dia ada waktu untukmu, Rold. Kamu akan terbang ke Padang. Satu minggu di sana. Apakah kamu harus pergi tanpa ada komunikasi dengan istrimu?" Raffi mulai berceloteh tak percaya. Hubungan Harold dan Khadija sebenarnya mulai rumit. Sebab gosip perselingkuhan yang dilakukan Harold semakin menjadi-jadi. Sementara Harold tidak memiliki waktu luang menjelaskan tentang kebenaran dari berita itu. Harold ingin menjelaskan kejadian itu secara langsung. Namun, selalu tidak ada kesempatan yang tepat. Mereka jarang bertemu. Harold sudah menawarkan diri bertemu Khadija di rumah orang tua wanita itu. Akan tetapi, Khadija menolak dengan alasan tidak mau Harold dam Randy membuat keributan. Akhirnya masalah semakin berlarut-larut, tanpa adanya kepastian. Hubungan mereka sebenarnya terancam. Hanya saja, mereka pura-pura bertingkah seakan tidak ada sama sekali hal yang terjadi di antara mereka. Seakan hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja. Mereka berdua, terutama Harold menyepelekan waktu. Menyepelekan keadaan yang terjadi di antara mereka. "Entahlah. Kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini." Pada dasarnya, dua bulan terakhir ini Harold dan Khadija memang jarang bertemu. Hanya dua kali bertemu dalam seminggu. Namun, situasi saat ini berbeda. Harold tidak merasakan perubahan itu. Dia lebih percaya kalau dia dan Khadija hanya tidak memiliki waktu sekadar duduk bersama. "Tapi Khadija seharusnya meluangkan waktu. Apa dia bekerja jam seperti ini? Dia seharusnya mengangkat panggilan teleponnya." Lagi-lagi Raffi memberikan pendapatnya. Harold tidak berkata-kata lagi. Dia lebih percaya pada kesetiaan Khadija. Dia yakin Khadija sama sekali tidak terhasut oleh berita aneh tentang dirinya yang semakin hari semakin liar. Entah siapa dalang di balik itu semua. Harold tidak menolak apabila ada penggemar yang meminta foto, dan saat itu, Harold tidak ada kegiatan. Namun, anehnya foto-foto penggemar itu dijadikan bahan berita. Bahwa Harold mengencani banyak penggemarnya. Berita itu mulai tidak masuk akal. Harold sudah meluruskannya. Akan tetapi, sekali lagi berita itu tidak pernah surut. "Kau dan Khadija baik-baik saja kan?" tanya Raffi yang mulai bersimpati. Jika seandainya Khadija terus menonton update terbaru dari rumor di internet. Khadija bisa saja cemburu, dan memercayai kebohongan tentang Harold tersebut. Istri mana yang rela suaminya berselingkuh? Tidak ada. Begitu pun dengan Khadija. "Aku dan Khadija baik-baik saja. Kami masih saling komunikasi." Harold bergeming sesaat. Matanya memerhatikan obrolan w******p antara dirinya dan Khadija. Pria itu baru menyadari bahwa setiap.kalia ia mengirimkan pesan kepada istrinya. Khadija akan membalas di hari berikutnya. Komunikasi Harold dan Khadija sebenarnya tidak terlalu baik. Lihatlah, obrolan mereka bahkan tidak se-intens dulu. Apakah di rumah orang tuanya, Khadija dihasut seseorang? Agar Khadija semakin membenci Harold? Tiba-tiba Harold menanyakan itu pada dirinya sendiri. "Tidak! Khadija wanita yang setia. Khadija selalu percaya padaku!" batin Harold menghibur dirinya sendiri. Pria itu optimis akan hubungan rumah tangganya. Semua akan baik-baik saja. Dia hanya perlu berbicara langsung kepada Khadija jika mereka sudah memiliki kesempatan. Satu minggu lagi. Itu bukanlah waktu yang lama. Waktu itu tidak akan terasa berlalu. "Baguslah. Aku mulai mengkhawatirkan rumah tangga kalian," ujar Raffi bersimpati. "Dan aku bersyukur semuanya baik-baik saja." Harold mengangguk tanpa arti. Dia bangkit berdiri lalu pamit pulang ke rumahnya. Meskipun Khadija jelas tidak ada di rumah, Harold tetap.akan pulang. Paling tidak ia menyusun pakaian yang akan ia bawa ke Padang. Dia akan melakukan perjalanan yang cukup lama. Dia tentu saja memerlukan lebih banyak pakaian. Harold melakukan tos dengan Raffi sebelum keluar dari gedung manajemen. Harold berjalan serius menuju rumahnya. Selama perjalanan pulang ke rumah, Harold memutar lagu miliknya. Salah satu lagu kesukaannya adalah "Song of My Life", sebuah lagu yang ia tulis dengan mengisahkan hubungan percintaan Harold dan Khadija sebelum menikah. Masa-masa itu sangat indah. Harold seperti sedang membaca diari lamanya setiap kali memutar lagu ciptaannya sendiri itu. Dia seakan-akan masuk ke dalam mesin waktu lalu menikmati perjalanan ke masa lalu yang indah. Tanpa sadar Harold tidak berhenti tersenyum mana kala ia ingat perjuangan cintanya demi mendapatkan cinta Khadija. Itu adalah masa-masa yang menegangkan baginya. Namun, di sisi lain sangat menyenangkan. Sejenak Harold bisa melupakan permasalahan di dunia nyata demi menjelajahi dunia masa lalu. . Instagram: Sastrabisu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN