Aydin mendudukkan pantatnya di kursi. Menatap istrinya yang berdiri di seberang meja dengan bersedekap serta wajah penuh kemurkaan. "Ada apa sehingga membuatmu datang ke sini dan mengganggu rapat pentingku?" Aydin menaikkan alisnya. Sonya mendekat, menggebrak meja dan siap meledakkan amarahnya. "Berani sekali kau memberikan restoran kita pada wanita miskin itu?!" Aydin menyudutkan senyumnya, seolah tak terkejut lagi dengan apa yang akan istrinya itu lampiaskan. "Aydin, aku peringkatkan padamu jangan–" "–jangan berteriak, Sonya!" Aydin mendirikan tubuhnya. "Ini adalah kantor, bukan rumah. Jadi pelankan nada bicaramu atau semua orang akan mendengar pembicaraan kita." "Ini juga perusahaanku, Aydin. Aku bebas mau ngapain saja di sini." "Oh, ya? Baiklah kalau begitu mari kita berdebat di

