Rintikan air hujan yang kian menerjang, menghantam kaca mobil Aydin, namun dengan cepat wiper mobil langsung menghapusnya.
"Kenapa kau diam saja? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Aydin pada Sonya yang duduk di bangku sebelahnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Sonya datar. Kepalanya itu menunduk, memandangi wajah bayi perempuan yang telah ia ambil secara diam-diam. Saat ini pikirannya dilanda kebingungan. Entah apa yang akan dia katakan pada orang-orang rumah kalau ternyata bayinya itu perempuan. Terutama Aydin, karena hasil pemeriksaan USG sudah jelas kalau anaknya akan lahir laki-laki.
"Oh iya, aku sampai lupa." Aydin mengambil ponsel di sakunya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya fokus pada kemudi.
"Ada apa?" tanya Sonya–kepalanya menoleh ke arah Aydin.
"Aku harus menghubungi Harun terkait tagihan rumah sakit," jawab Aydin. Lantas pria itu langsung mencari nomor Harun yang kebetulan ada di bagian terbaru paling atas. Ia langsung menekannya. Tak lama kemudian akhirnya Harun mengangkat teleponnya.
"Halo, Harun!" sapa Aydin.
"Iya, Aydin. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Harun dari seberang sana.
"Apa kau sudah melunasi tagihan rumah sakitnya?"
"Sudah. Dan pekerjaan di kantor juga sudah aku selesaikan. Ini aku sudah dalam perjalanan pulang, dan sepertinya sebentar lagi aku akan melewati rumah sakit itu. Aku menjenguk kalian sejenak."
"Tidak perlu," cegah Aydin. "Kami sudah keluar dari rumah sakit itu," imbuhnya.
"Sudah keluar? Aydin, apa ada masalah?" tanya Harun penasaran.
Aydin menoleh ke arah Sonya sebelum menjawabnya. Lalu ia menatap ke depan lagi. "Nanti aku ceritakan. Tapi, aku minta bantuanmu sebentar."
"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan?"
"Tolong kau tetap pergi ke rumah sakit itu, dan kau lunasi biaya tagihan seseorang. Ada seseorang namanya Elvan, istrinya juga sedang melahirkan. Kau urus semua biayanya," ucap Aydin. "Oh iya, kabari juga pihak rumah sakit kalau pasien bernama Sonya Alvendra sudah pulang. Sampaikan maaf juga karena pergi tidak bilang-bilang."
"Baiklah. Ada lagi?" tanya Harun.
"Tidak ada. Kita akan bertemu besok dan mengobrol. Sampai jumpa," pungkas Aydin.
"Sampai jumpa juga."
Aydin pun langsung mematikan panggilannya dan menaruh ponselnya di sakunya kembali.
"Siapa itu Elvan?" tanya Sonya penasaran.
"Aku akan menceritakan semuanya nanti setelah sampai di rumah," kata Aydin tanpa menoleh ke arah istrinya.
Sonya pun hanya terdiam dan kembali terfokus pada bayi yang dibopongnya.
Di rumah sakit, Aisha masih menangis pilu. Ia mendekap bayinya yang sudah tak bernapas itu dengan tubuh gemetar. "Tuhan, kenapa takdir sekejam ini. Kenapa kau uji hamba-Mu dengan cobaan seberat ini? Tolong kembalikan bayiku … aku mohon…." Air mata yang berlinang begitu derasnya hingga mengalahkan rintikan hujan yang mulai reda.
"Demi perbuatan baikku selama ini aku mohon tolong kembalikan bayiku. Tolong Tuhan. Tolong aku…." Mulut Aisha beradu gigit, tubuhnya gemetar hebat. Ia mengerjap, menahan pedih rasa sakit batin yang dideritanya.
"Aaaaaaghhh!" Teriakannya yang terakhir melengking, sampai ujungnya tak terdengar lagi. Kepalanya itu terus menggeleng, sementara matanya terus terpejam, membuat butiran air matanya menetes deras menyentuh pipi bayi yang di dekatnya.
Beberapa detik kemudian, suara ringkikan bayi terdengar nyaring. Sangat nyaring melewati telinga Aisha daripada suara hujan ataupun yang lainnya. Aisha langsung membuka matanya. Kepalanya spontan menunduk ke bawah, mengecek bayi yang didekapnya.
Keajaiban! Bayi itu terlihat meringkik. Tangan mungilnya melambai-lambai mencoba meraih sesuatu.
Aisha terkesiap. Buru-buru ia menutup bagian depannya dan mulai memberinya ASI. Dengan cepat bayi tersebut langsung menemukan jalan keluarnya ASI dan menyedot dengan kencangnya.
Aisha tersenyum gembira. Rasa sakit batinnya seketika lenyap. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan berdecak girang. "Bayiku selamat. Bayiku selamat. Bayiku hidup lagi." Aisha menciumi kening bayinya.
"Ya Tuhan, terima kasih atas anugerah ini ini. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untukku menjadi seorang ibu. Terima kasih, Tuhan." Aisha tiada henti mengucap syukur. Wanita itu kembali melanjutkan tangisnya. Namun kali ini merupakan tangis kebahagiaan.
Dua scurity yang melihatnya pun turut gembira. Mereka menghampiri Aisha, dan membantunya berdiri. "Ayo, Nona. Aku bantu berdiri," kata salah satu dari mereka.
"Terima kasih," ucap Aisha senang.
Aisha mendirikan tubuhnya. Ia memperhatikan bayinya yang sepertinya sudah kenyang setelah meminum ASI. "Elvan pasti akan senang melihat putranya hidup kembali. Aku harus segera pulang," ujarnya gembira.
Di waktu yang sama, tampak mobil hitam berhenti di ruang parkir. Harun membuka pintu dan keluar dari mobil tersebut. Dengan tangan yang ia gunakan untuk menangkis rintik kecil, pria itu memasuki teras rumah sakit. Dari sana ia melihat Aisha yang hendak meninggalkan rumah sakit.
"Nona, kau mau ke mana? Ini masih hujan?" sapa Harun bertanya.
"Aku mau pulang," ujar Aisha, sembari terus mencoba melindungi bayinya dari rintikan hujan.
"Tapi ini masih hujan, tunggulah sampai reda. Atau aku akan mengantarmu nanti, bagaimana?" tawar Harun.
Tak punya pilihan, sepertinya Aisha harus menerima tawaran pria yang tidak dikenalnya itu. Ia juga tidak mau jika sampai terjadi apa-apa dengan bayinya yang baru bangkit dari kematian.
Aisha mengangguk tanda setuju. "Baiklah, terima kasih."
"Aku selesaikan dulu urusanku, kau tunggu di kursi itu dulu, ya!" Setelah mengatakan itu, Harun segera bergegas masuk ke rumah sakit.
Pria itu mencari ruang resepsionis di lobby. Setelah menemukannya, ia langsung berjalan ke sana.
"Permisi," kata Harun begitu sampai di sana.
"Iya, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas resepsionis dengan ramah.
"Ada pasien yang melahirkan di sini. Keluarganya bernama, Elvan. Apa ada daftarnya?" tanya Harun.
"Sebentar, Tuan. Akan saya cek dulu." Pekerja resepsionis langsung terfokus pada layar monitornya. "Oh iya, Tuan. Atas nama Elvan Sehgal."
"Berapa tagihan rumah sakitnya?" tanya Harun lagi.
Sembari menatap layar monitornya, pekerja resepsionis itu menjawab, " Seluruhnya berjumlah sepuluh juta. Tapi dia hanya membayar tiga ratus ribu, masih ada sembilan juta tujuh ratus ribu lagi yang masih belum dibayar."
"Baiklah, anggap saja itu lunas. Aku akan membayarnya lewat perusahaan."
Para petugas resepsionis itu masih bingung dengan perkataan Harun.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Harun yang heran melihat wajah mereka.
"Oh tidak, Tuan."
"Kalau begitu tolong bebankan tagihan itu pada rekening perusahaan."
"Apa nama perusahaannya, Tuan?"
"PT Star Blue. Sama seperti yang tadi. Tadi aku juga sudah membayar tagihan pasien yang bernama Sonya Alvendra, kan?"
"Oh, iya, Tuan. Pembayarannya tadi sudah terdaftar."
"Satu lagi, pasien bernama Sonya Alvendra tadi sudah keluar rumah sakit. Dia meminta maaf karena tidak memberi tahu kalian. Sampaikan juga pada dokter yang menanganinya, ya. Selamat bekerja kembali." Setelah menyelesaikan tugas yang Aydin berikan, Harun langsung pergi dari sana.
Para pekerja resepsionis pun langsung berkerumun dan membicarakan soal Elvan.
"Pria yang songong tadi beruntung sekali, tagihannya dibayar atas nama perusahaan. Perusahaan gede lagi terkenal," ujar salah satu dari mereka.
"Kira-kira kenapa ya, pria berjas tadi membayar tagihan dia?"
"Mungkin dia menang give away!" jawab salah satunya asal.
Sesampainya di luar rumah sakit, Harun mencari-cari keberadaan Aisha. Namun pria itu tidak menemukannya. Harun menatap ke langit yang sudah berhenti menjatuhkan airnya. Kemudian ia berpikir, "Apa wanita itu sudah pergi?"
Harun beralih menuju ke arah Scurity. Ia pun bertanya padanya. "Maaf, Pak. Apa kau melihat wanita yang menggendong bayinya tadi?"
"Oh wanita malang tadi? Kurasa dia sudah pergi, Tuan."
"Ya sudah, terima kasih ya, Pak." Harun pun bergegas menuju mobilnya. Pria itu masuk ke dalam dan mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
***
Di bawah malam yang masih dinaungi awan hitam, serta udara sejuk yang menghantam, Aisha tampak melangkah menyusuri jalanan gang sempit nan sepi yang diapit bangunan-bangunan tua. Ia mendekap bayinya dengan kuat, untuk memberinya kehangatan dan melindunginya dari hawa dingin yang menyergap. Sesampainya di sebuah apartemen yang kumuh, wanita itu menghentikan langkahnya.
Ia mendongak ke atas, melihat tepat di lantai tiga. Itu merupakan tempatnya tinggal bersama kakak iparnya. Biasanya ada lampu yang terpancar dari dalam sana, namun kali ini jendela itu benar-benar gelap. Aisha tampak ragu untuk naik ke atas, tetapi ia tak punya pilihan lain. Hanya tempat itu satu-satunya yang mungkin bisa menaungnya saat ini.
Tok! Tok! Tok...!
Suara ketukan pintu terdengar nyaring hingga mengagetkan Nermin yang tengah berbaring di sofa yang sudah tampak lusuh. Wanita itu membangunkan tubuhnya, mengucek matanya yang sembab akibat menangis ditinggal adiknya pergi ke Australia.
"Itu pasti Elvan! Elvan pasti balik lagi, dia tidak mungkin tega meninggalkan kakaknya ini sendirian di sini," kata Nermin menebak. Wanita itu buru-buru menyalakan lampunya dan bergerak ke arah pintu.
"Mari kita lihat, Elvan. Sampai mana kau akan pergi. Kau tidak akan pernah bisa pergi jauh. Karena kau itu tidak punya duit, sok sok'an pergi ke Australia. Cih!" beo Nermin menghampiri pintu. Saat ia membukanya, wanita itu terkesiap melihat Aisha dengan bayi yang didekapnya tengah berdiri di depan pintu. Keadaan Aisha saat itu sangat berantakan.
"Aisha?"
"Kakak, bolehkah aku masuk?" tanya Aisha dengan wajah pucat dan tubuh yang menggigil kedinginan.
"Beraninya kau datang ke sini setelah membunuh--" Nermin tak jadi membocorkan mulut pedasnya saat mendengar suara tangis bayi yang Aisha bopong.
"Aisha? Bayi ini?" Nermin terkejut dan menengok bayi tersebut.
"Anakku masih hidup, Kak," ujar Aisha memberitahu.
"Benarkah? Kalau begitu masuklah. Ayo masuk. Jangan biarkan bayimu itu kedinginan." Entah kenapa hati Nermin luluh begitu mendengar suara tangis bayi tersebut.
Aisha melangkah masuk ke dalam sedangkan Nermin menutup pintunya kembali dan menguncinya.
"Elvan di mana?" tanya Aisha. Matanya itu menelisik pandang, mencari-cari keberadaan suaminya.
"Sudah lupakan pria bodoh itu. Dia tega meninggalkanku, Aisha. Dia sudah pergi jauh." Nermin menciptakan suasana wajah sedih saat mengatakan hal itu. "Kau tahu, dia pergi ke Australia meninggalkan kakaknya ini seorang diri. Dia bahkan tidak peduli dengan bayi dan istrinya. Dia memang benar-benar manusia laknat!" ucap Nermin mengumpat adiknya.
"Sudahlah jangan menangis, Kak." Aisha mencoba menenangkan Nermin. Padahal dia sendiri merasa sedih dengan takdir hidupnya.
"Bagaimana bayimu bisa hidup kembali?" tanya Nermin polos.
"Keajaiban Tuhan," jawab Aisha membuat Nermin meneguk ludah.
"Sudahlah lupakan, sini biar aku gendong keponakanku ini. Kau bisa membersihkan dirimu dulu." Nermin mengambil bayi tersebut dari Aisha dan menggendongnya. "Oh sayang, keponakanku yang tampan. Kau senang kan melihat bibimu ini?"
Bukannya diam, bayi itu malah menangis.
"Kenapa dia menangis? Padahal aku tidak menyakitinya."
"Mungkin dia kedinginan, Kak. Tolong kau bawa dia ke kamar dan beri selimut tebal. Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Aisha lantas berjalan menuju kamar mandi yang ada di ujung rumah.
"Yah, baiklah. Mulai sekarang aku akan menjadi pesuruhmu," kata Nermin terpaksa dengan nada malas.
***
TO BE CONTINUED