Takdir yang Kejam

2406 Kata
"Ada apa, Kak? Kenapa kau membawaku ke sini?" Elvan bertanya penuh keheranan saat kakaknya itu menyeretnya ke ruang resepsionis. "Kau ini kenapa?!" "Kau yang kenapa?!" Nermin kembali membentak adiknya. "Kenapa kau membiarkanku membayar semua biaya bersalin istrimu? Kau tahu berapa biayanya?!" "Berapa?" "Sepuluh juta! Dengar! SEPULUH JUTA!!!" Nermin mengambil dompetnya yang sudah tak berisi itu dan membeberkannya tepat di hadapan adiknya. "Lihat, uangku sudah lenyap!" "Kau punya uang sebanyak itu?" Bukannya prihatin, Elvan malah bertanya soal uang kakaknya. "TENTU SAJA TIDAK!" kata Nermin bernada tinggi, membuat para pekerja resepsionis terfokus pada mereka. "Maaf, tolong jangan buat keributan di sini. Ini rumah sakit, bukan taman bermain!" tegur salah satu pekerja resepsionis. Bukannya meminta maaf, Nermin malah menghampirinya. Tak lupa ia menyeret lengan adiknya untuk ikut bersamanya. "Tuan pekerja resepsionis yang terhormat, tolong jelaskan pada adikku yang bodoh ini berapa biaya yang harus dikeluarkan!" pinta Nermin dengan nada sedikit pelan namun penuh penekanan. Bahkan urat keningnya sampai menonjol. "Kau baru membayarnya tiga ratus ribu, masih ada sisa sembilan juta tujuh ratus ribu yang belum dibayar," jelas pekerja resepsionis yang seorang pria. Mendengarnya, Nermin sesak napas. "Sudah jangan katakan lagi … jangan-" ucap Nermin bernada berat, sembari menekan dadanya. Sedangkan Elvan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya membuat raut wajah panik. "Kau denger itu, Bodoh?" kata Nermin pada Elvan. Di waktu yang sama, tampak Aydin dan Sonya tengah berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar. Sepintas Aydin melihat Elvan di sana dan mendengarkan percakapan mereka dengan pekerja resepsionis. Saat Aydin hendak menghampirinya, Sonya memaksanya untuk segera buru-buru keluar dari rumah sakit. Elvan menatap pekerja resepsionis dengan tatapan emosi. Pria itu berkata, "Bagaimana biayanya bisa semahal itu? Apa kau ingin memeras kami?!" "Tuan, biaya tagihan Anda ini termasuk yang paling murah." "Apa?!" Sontak Nermin dan Elvan terkaget bersamaan. "Ini adalah salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota ini, tentu saja biayanya juga mahal. Masih untung kalian mendapatkan tagihan yang paling murah. Kalau kalian tidak cukup mampu untuk membayarnya, kenapa kalian membawanya untuk bersalin di rumah sakit ini?" jelas pekerja resepsionis penuh penekanan lantaran sudah tak sabar menghadapi sikap mereka. "Kau tanyakan saja pada wanita ini. Kenapa dia dengan bodohnya membawa istriku itu ke rumah sakit ini. Memangnya dia kira dia ternak emas, apa?" ujar Elvan menunjuk kakaknya. Nermin langsung menoyor kepala adiknya itu. "Hey, bego! Istrimu itu pecah ketuban di sekitar sini, tentu saja aku langsung membawanya ke sini. Memangnya aku harus membawanya ke dukun beranak yang rumahnya di ujung jalan setapak sana? Apa aku harus menggendong istrimu yang beratnya lima ton itu? Aku ini manusia, bukan truk!" cerocos Nermin tak mau disalahkan. "Kalian bisa diam atau aku panggil scurity ke sini?!" tegas salah satu pekerja resepsionis itu, sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepala heran melihat kakak beradik yang sudah seperti kucing dan tikus saat bertengkar. Beberapa saat kemudian, seorang suster menghampiri mereka dan bertanya, "Maaf, kalian keluarga pasien bernama Aisha?" "Aku suaminya, Sus!" jawab Elvan cepat. "Kau bisa menemui istri dan juga bayimu di sana," kata Suster. "Bayiku?" Elvan terlihat bersemangat kembali saat mendengar tentang bayinya. "Kakak, ayo cepat. Putraku sudah menunggu kita!" ajak Elvan pada Nermin. "Elvan, selesaikan dulu pembayarannya. Siapa yang akan membayar sisanya?" Nermin masih saja membahas tagihan rumah sakit. "Ah, kau tenang saja-" "-tenang bagaimana? Sembilan juta tujuh ratus ribu! Tagihan sebanyak itu dan kau masih menyuruhku tenang?!" Elvan sudah mulai muak dengan celoteh kakaknya itu. Ia mengambil martabak di kantung plastik yang dipeganginya dan langsung menjejelkan ke mulut Nermin begitu saja. "Ini makan dulu, biar mulutmu itu tidak ngoceh terus!" Nermin hampir tersedak saat Elvan hampir memasukkan sepotong martabak itu langsung ke mulutnya. "Apa kau sudah gila," ucapnya sembari menguyah martabak tersebut. "Luar biasa, sedang makan saja kau masih sempat-sempatnya mengoceh. Kau ini benar-benar mulut corong," cerca Elvan. Nermin melahap semua martabaknya yang tersisa, dan menelannya. "Ini enak sekali, Elvan," katanya sembari menjilati jemarinya. "Di mana kau membelinya?" "Di tempat sampah," jawab Elvan seenaknya. "Apa?!" Nermin terkejut dan hendak memuntahkan makanan yang sudah masuk di perutnya itu. "Apa kau ingin meracuni kakakmu ini?" "Sudah diam. Aku membelinya di restoran mahal. Khusus untukmu dan juga bayiku." Elvan menarik tangan Nermin. "Sudah, ayo kita temui Aisha dan bayiku. Mereka pasti menunggu kita!" "Ya baiklah. Tapi…." Nermin meroyok sekantung martabak yang dipegangi Elvan. "Biar aku saja yang membawanya. Kasihan kau capek-capek pergi ke restoran hanya untuk membelikan ini untukku. Hehe." "Dasar. Kalau soal makanan saja langsung semangat." Mereka pun masih saja mengoceh sembari berjalan menuju ruangan tempat Aisha dirawat. Suster dan orang-orang yang melihatnya menggelengkan kepalanya heran. Entah mimpi apa mereka sampai bertemu dengan mahkluk semacam Nermin dan Elvan. "Sumpah, Elvan. Ini enak sekali," beo Nermin sembari terus memakan martabaknya. "Kau memang adikku yang baik hati dan tidak sombong. Katakan di restoran mana kau membelinya?" tanya Nermin dengan nada lembut. "Memangnya… kau sungguh percaya kalau aku membelinya di restoran?" ucap Elvan balik tanya. "Asal kau tahu, aku membelinya penjual martabak keliling di pinggir jalan," imbuh Elvan membuat Nermin menghentikan kunyahannya. "Kau memang kampreet, Elvan. Sia-sia aku memujimu tadi." "Sudah diam. Apa ini ruangannya?" Elvan memperhatikan ruang bersalin. "Iya, memang ini," kata Nermin yakin. Mereka pun akhirnya membuka pintu dan mulai masuk satu persatu. Di dalam sana terlihat Aisha di atas ranjang yang tengah memangku bayi. Wanita itu hanya dia menunduk. "Aisha. Istriku … bagaimana keadaanmu?" tanya Elvan sembari berjalan ke arahnya. Begitu sampai, Elvan langsung terfokus pada bayi dipangkuan Aisha. "Oh putraku…. kau sudah lahir. Aisha, bolehkah aku menggendongnya?" Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Elvan langsung mengambil bayi tersebut begitu saja. Pria itu melihat jenis kelaminnya dan semakin bertambah girang. "Kakak, sudah kubilang kalau bayiku akan lahir laki-laki," decaknya gembira memberi tahu kakaknya. "Oh benarkah?" Nermin ikut merasa senang. "Ah, selamat adikku. Kau sudah menjadi seorang ayah sekarang." Wanita itu mendekat ke arah Elvan. "Bolehkah aku juga menggendongnya?" "Jangan, nanti dia akan takut melihat wajahmu yang jelek seperti penyihir," ejek Elvan. "Iya, kan. Anakku. Putraku yang tampan. Jagoanku. Kelak aku akan menjadikanmu orang hebat dan sukses, kalau perlu aku jadikan kau presiden!" Elvan kembali mencium bayi tersebut. "Aisha, coba lihat putra kita. Kenapa dia diam saja? Apa dia lapar?" tanya Elvan yang tak melihat gerakan apapun dari bayi tersebut. "Apa kau lapar, Nak? Aku akan memberimu martabak." Elvan menoleh ke arah Nermin. "Kakak, cepat kau berikan sedikit martabak untuknya, jangan kau habiskan semua!" "Orang kalau sejak lahir tidak punya otak ya begini," gumam Nermin sembari terus memakan martabaknya. "Bayi mana yang akan makan martabak? Memangnya bayimu itu bayi genderuwo, apa! Ada-ada saja kau ini." "Lalu apa yang harus dia makan?" tanya Elvan polos. "Suruh ibunya memberinya ASI!" jawab Nermin setelah menghabiskan martabak terakhirnya. "Kalau begitu, Aisha cepat kau beri putra kita ASI. Aku yakin dia sangat lapar." Elvan menatap istrinya yang masih diam membisu dengan wajah menunduk. "Aisha, ada apa denganmu?" Pria itu mendekati istrinya. "Aisha, ayo cepat beri putra kita ASI. Mungkin setelah itu dia akan tersenyum pada kita," kata Elvan lagi. Sontak Aisha langsung menggigil tangis. Tangannya meremas sprei dengan gemetar. Wajahnya masih sama, tidak berani untuk menatap suami ataupun kakak iparnya. "Aisha, kau kenapa?" Nermin ikut bertanya. Wanita itu berjalan mendekati mereka. "Aisha, kenapa kau menangis?" tanya Elvan lagi yang melihat istrinya mulai menangis. "Ah aku tahu, itu pasti air mata kebahagiaan, iya kan?" Elvan menyodorkan bayinya pada Aisha. "Lihat, putra kita. Kenapa dia diam saja. Apa semua bayi seperti ini?" Aisha semakin mengencangkan tangisnya, membuat Nermin dan Elvan keheranan. "Kakak, coba kau takuti dengan muka jelekmu itu. Siapa tahu setelah melihatmu putraku ini akan menangis. Aku ingin melihatnya menangis, Kak," pinta Elvan. Perasaan mulai tidak enak. "Coba kulihat." Nermin mendekat ke arah Elvan dan melihat bayi tersebut yang hanya diam tak berkutik. "Bayi yang lucu, ayo lihat wajahku. Bukalah suaramu ayo!" "Aku rasa dia tertidur," pikir Elvan. "Dia tidak akan bisa bangun." Beberapa patah kata yang terlontar dari mulut Aisha membuat mereka berdua semakin heran. Aisha menderaskan air matanya. "Apa maksudmu, Aisha?" tanya Elvan dengan nada suara bergetar. Aisha mulai mendongakkan kepalanya. Menatap suaminya dengan tangis yang terus membanjir. Mulutnya itu bergetar, tak kuasa melepaskan kata-kata yang akan dia ucapkan. "Bayi kita … dia …" "Dia kenapa, Aisha?!" Elvan bertanya dengan suara membentak. Matanya mulai tercipta kaca-kaca bening. "Ada apa dengan bayi kita?" "Iya, Aisha. Bicara yang jelas. Kenapa dengan bayi ini?" Nermin ikut menginterogasinya. "Dia...." Aisha masih tak mampu untuk berbicara. Wanita itu mengerjap, meloloskan tangis yang mengalir ke pelipis. "Bayi kita sudah tiada." Akhirnya kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan lolos dari kerongkongannya. "Apa?!" Elvan dan Nermin terkejut bersamaan. "Tidak mungkin!" Lantaran gemetar mendengar kabar buruk, tangan Elvan tak sengaja melepaskan bayi yang tadi dibopongnya. "Elvan!" Nermin dengan cepat menangkap bayi tersebut. "Bayiku tidak mungkin meninggal. Tidak! Aisha kau pasti bohong!" Elvan bergerak ke arah istrinya. Ia menggoyang-goyangkan bahunya. "Katakan padaku kau pasti bohong, kan? Putraku tidak mungkin meninggal kan? Putra kita baik-baik saja kan?" Aisha hanya menunduk dengan terus mengurai tangis. "Dia memang sudah tidak bernafas," kata Nermin setelah mengecek hidung dan d**a sang bayi. Elvan menoleh sejenak ke arah bayi yang dibopong Nermin, lantas menatap istrinya kembali. "Kau sudah membunuhnya! Kau membunuh putra kita!" Elvan menumpahkan segala amarahnya pada Aisha. Kedua tangannya itu memegangi bahu Aisha dan mencengkeramnya. "Kenapa kau membunuh putraku! Kenapa?!" "Elvan, teguhkan hatimu. Bukan aku-" "-kau membunuhnya!" teriak Elvan membuat telinga Aisha seperti terbakar. Lantas pria itu melangkah kakinya mundur. Kepalanya menggeleng dan wajahnya memerah. Air mata turun pelan dari sudut pupilnya. "Aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak bisa. Kau telah membunuh putraku. Aku tidak ingin lagi bersamamu!" Setelah mengatakan itu, Elvan langsung keluar dari ruangan dengan marah. "Elvan tunggu!" Nermin hendak menghentikannya, namun pria itu sudah melewati pintu. Nermin memberikan bayi tadi pada Aisha dan mulai mengejar adiknya. "Elvan, jangan pergi!" Aisha menangis pilu. Ia mendekap bayi tadi dan beringsut dari ranjang. Wanita malang itu berjalan mengejar suaminya. "Elvan, jangan pergi!" teriak Aisha yang suaranya hampir tak terdengar lagi. Tiba di luar rumah sakit, Elvan mendapati hujan turun begitu deras. "Elvan, kau mau kemana?" Nermin yang sudah sampai di luar menghampiri adiknya. "Aku akan pergi dari sini, Kak. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Aku tidak ingin melihat Aisha ataupun bayi itu lagi." Elvan menyeka air matanya, namun linanganya semakin deras. "Kakak, kenapa semua ini terjadi padaku. Kenapa Tuhan mengambil bayiku yang aku dambakan kelahirannya?" Elvan menangis dan Nermin memeluknya. Wanita itu juga ikut meneteskan air mata. "Aku juga tidak tahu kenapa hidup kita begitu buruk. Setelah kematian orang tua kita, sekarang kita harus menyaksikan satu kematian lagi." Nermin mengelus punggung Elvan bermaksud memberinya kekuatan. "Elvan, jangan tinggalkan aku!" Suara Aisha kembali terdengar, membuat Elvan dan Nermin menatap ke arahnya. "Kakak, kenapa wanita pembunuh itu masih ada di hadapanku," ucap Elvan menyebut Aisha sebagai wanita pembunuh. Aisha berjalan lunglai mendekati mereka. "Elvan, tolong jangan katakan itu. Aku bukan pembunuh. Bukan aku yang membunuh bayi kita," ujarnya mengiba. "Jangan dekati aku! Jangan coba-coba mendekatiku, Aisha!" teriak Elvan dengan mengarahkan kelima jarinya pada Aisha. Aisha tetap berjalan mendekat. "Aku juga terpukul atas kematian bayi kita. Tapi kita harus sama-sama saling menguatkan. Jangan tinggalkan aku seperti ini, Elvan. Apa kau akan mengingkari janji pernikahan yang telah kau ikrarkan?" ucap Aisha mencoba menghentikan Elvan, termasuk mengingatkan akan janji yang pernah Elvan ucapkan di hari pernikahannya. "Kau sendiri telah membuat hatiku hancur, Aisha. Kau telah menikah denganku, tapi kau tidak pernah mencintaiku! Kau masih saja mencintai mantan pacarmu itu!" Elvan memaki dengan suara tinggi, mengalahkan sambaran petir di atas sana. Bahkan dua orang scurity yang berjaga di pintu rumah sakit sampai terfokus pada mereka. Elvan kembali menumpahkan amarahnya. "Aku sudah bilang padamu untuk tetap diam di rumah. Jangan ke mana-mana, setidaknya sampai bayi kita lahir. Tapi tetap saja, kau membangkang perintah suamimu ini. Ini adalah karma atas kelalaianmu, dan kita semua yang harus menanggungnya!" "Jadi ini semua hanya salahku?" Aisha tampak membela diri. "Apa kau tidak bercermin pada dirimu sendiri? Kau tidak pernah pulang ke rumah, kau juga tidak pernah menafkahiku. Sampai aku harus terpaksa turun tangan untuk mencukupi kebutuhanku. Aku harus bekerja walau dalam keadaan hamil. Dan sekarang sesuatu yang buruk terjadi kau hanya menyalahkanku saja? Pria macam apa kau?!" teriak Aisha dengan nada suara tinggi. Mendengarnya, semakin membuat Elvan naik pitam. "Lancang!" Pria itu mendekati Aisha dan langsung menamparnya hingga membuat Aisha tersungkur ke lantai. Aisha menggigil tangis sembari terus mendekap bayinya. "Berani sekali kau mengatakan itu padaku?!" Elvan mengarahkan telunjuknya pada Aisha. Dua scurity yang melihat adegan tersebut langsung menghampiri Aisha. "Hey, Tuan. Jangan menyakiti wanita!" tegur salah satu dari mereka. "Berhenti!" Elvan menghentikan langkah mereka. "Jangan coba-coba ikut campur dengan masalah keluargaku!" "Kau bisa masuk penjara karena telah melakukan KDRT!" ancam salah satu scurity. Nermin yang mendengarnya langsung mendekati adiknya. "Elvan, tenangkan dirimu. Jangan buat keributan di sini, atau polisi akan menangkapmu." Nermin mencoba meredam amarah Elvan. "Dengarkan ini, Aisha!" Elvan kembali berteriak pada istrinya. "Mulai sekarang, aku tidak lagi menjadi suamimu. Hubungan kita sudah putus. Pergilah bersama mantan kekasihmu. Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu itu! Semuanya sudah berakhir!" Kata-kata yang keluar dari mulut Elvan membuat Aisha hancur. Elvan menoleh ke arah Nermin dan berkata, "Kakak, aku akan pergi jauh dari sini. Kau jaga dirimu, kita tidak akan lagi tinggal satu atap." "Kau mau ke mana, Elvan?" tanya Nermin. "Aku akan pergi ke Australia dan tidak akan pernah kembali lagi!" "Apa?!" Nermin terkejut mendengarnya. "Jangan tinggalkan kakakmu ini, Elvan. Aku hanya punya dirimu satu-satunya keluargaku di dunia ini. Kalau kau pergi, aku akan tinggal dengan siapa. Aku tidak mau lagi tinggal dengan Aisha. Tolong jangan pergi, Elvan!" Tak mau mendengar kata kakaknya, Elvan lekas berjalan menuju ke halaman parkir. Tubuhnya itu langsung dihantam hujam. Nermin bergerak mengikutinya, sedangkan Aisha hanya terdiam menangis. "Elvan, jangan tinggalkan kakakmu ini!" Nermin masih mencoba mencegah kepergian adiknya. Tangannya itu menarik baju Elvan. "Memangnya kau punya uang sampai mau pergi ke luar negeri?" "Temanku punya tiket ke Australia. Aku akan memintanya dan pergi dari sini." Elvan melepaskan pegangan tangan kakaknya dari bajunya. "Kakak, aku akan pergi malam ini juga. Jaga dirimu baik-baik, ya!" ucap Elvan. Lantas pria itu berlari menuju pinggir jalan raya dan mencegat taksi. "Elvan tunggu!" Nermin menangis dan berlari mengikuti Elvan. Sedangkan Aisha masih berdiam di tempat dengan posisi tersimpuh di lantai. Dua scurity tadi hendak membantunya berdiri, namun Aisha menyuruh mereka pergi. Wanita itu memandangi bayinya yang masih saja terdiam. Tangisnya semakin pilu, mengalahkan derasnya air juga. "Ya Tuhan … cobaan apa ini!" Aisha berteriak dengan kepala yang mendongak ke atas. "Kenapa takdir begitu kejam padaku, Tuhan. Kenapa!!!" *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN