Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalau Edwin bilang, yang datang pertama-tama adalah absensi, bukan penyesalan. Sama seperti Alin yang sedang menyesal. Menyendiri di kamarnya tanpa tahu mau berbuat apa. "Oh tentu aku bisa. Aku bisa pergi sekarang karena aku menginginkan kebebasan seperti kamu. Apa sekarang yang bebas hanya boleh kamu saja?" Perkataan itu terus mendengung di telinganya. Sorot matanya menunjukkan penyesalan. Dia sepertinya tidak sadar mengucapkan hal itu. Buktinya sekarang dia terus memikirkan omongan yang seharusnya bisa dia abaikan. Aku tidak pernah tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini. Semua karena egoku yang terlalu tinggi. Seharusnya Aku bisa mengontrol emosi agar tidak terjadi hal-hal seperti ini. Sederet pesan singkat sudah berhasil dia ketik di

