“Jadi semuanya udah mulai kelar masalahnya?” tanya Putra. Di hadapannya, Fikri sedang membaca buku yang tadi sempat dia pinjam di perpustakaan. Ruang kelas yang seharusnya sudah sepi, tidak lagi sepi sejak kehadirannya empat orang itu. “Kenapa selama ini lu nggak pernah cerita sama kita, sih?” tanya Edwin. Sudah sangat wajar jika ketiga temannya marah. Fikri mengurus permasalahan sepelik ini sendirian tanpa mereka bantu. Ya, mereka paham sekarang Fikri sudah memiliki istri, tetap saja mereka bisa membantunya. “Kalau emang lu nggak mau dibantu, setidaknya lu jangan buat Bu Alin sedih, dong!” sahut Fajar. Pernyataan itu membuat Fikri menoleh dan membalas tatapannya dengan tajam. Dia tersinggung. “Kapan gua buat dia nangis?” Seketika tawa dari mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.

