56. Abang Terbaik

1705 Kata
Sakit. Luka yang disayatkan dalam hati—perasaan—dan berbekas pada pikiran semakin menganga lebar. Menangis untuk melampiaskan semua sesak sudah dilakukan Ayana sejak melangkah dengan setengah berlari menuju rumah Abang. Gadis itu sadar atas kesalahannya. Namun kenapa Bapak tak bersedia mendengarkan penjelasannya sedikit pun? Mengapa tak disediakan waktu sebentar saja untuk anak gadis Bapak itu menjelaskan semuanya? Menjelaskan bagaimana rapuhnya ia—perasaannya, bagaimana ia butuh sandaran akan segala kisah di hidupnya ini? Semua bayangan akan kehangatan Bapak padanya musnah. Sekarang menimbulkan bekas luka yang semakin menumpuk, yang mungkin akan terus menggumpal dan bisa meledak satu waktu. Ketukan pintu menghentikan tangis Ayana. Hari sudah malam. Dan gadis itu menghabiskan banyak waktunya untuk menangis. Menangisi segala perkataan Bapak yang menyakitinya. Juga membuatnya bertanya-tanya akan hal apa yang harus ia lakukan. Apa kesalahan yang ia perbuat begitu besar? Apa menyelesaikan skripsi harus semakin menjadi beban untuknya? “Dek..” Ayana tahu suara siapa itu, Abang. Abang dan Mbak tak henti memanggil Ayana sejak Ayana masuk ke kamar itu. Kamar itu tak ia kunci, hanya saja Ayana masih merasa butuh waktu sendiri. Ia masih ingin meluapkan tangisnya. Dan ia pun bersyukur karena Abang dan Mbak tak membuka pintu itu. Abang dan Mbak begitu menghargainya. “Makan malam yuk, Dek. Abang mau bicara sama kamu,” kata Abang di balik pintu. “Kita bicara pelan-pelan. Mungkin ini bukan solusi atas segala hal yang terjadi pagi tadi, tapi mungkin bisa menenangkan segala perasaan resah dan kecewa di hati,” imbuhnya lembut. How lucky she is. Ia memiliki keluarga yang begitu luar biasa menyayanginya. Keluarga yang mampu memahaminya dan menjadi sandaran akan rasa luka yang tergoreskan oleh anggota keluarga yang lain. Ayana masih bertahan dalam posisinya. Gadis itu meringkuk seraya memiringkan tubuhnya. Kakinya ia tekuk. Tak lupa selimut bulu ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya. Ia memeluk dirinya sendiri. “Dek..” Abang sekali lagi memanggil. “Abang boleh masuk?” Ayana tak bergeming. Air matanya memang telah mengering, tapi ia masih ingin sendiri. Abang akhirnya membuka pintu. Pria beranak satu itu tak akan membiarkan adiknya berdiam di kamar dengan segala hal buruk yang mungkin berada dalam pikiran adiknya. Abang duduk di belakang tubuh Ayana yang meringkuk. Tangan kokoh pria itu mengusap rambut Ayana yang panjang. Rambut itu halus sehingga tatanannya tak begitu berantakan meskipun seharian gadis itu memeluk dirinya di atas pembaringan seraya menangis. “Sudah sholat?” tanya Abang dengan tangan yang masih setia mengusap lembut surai hitam Ayana. Gadis itu mengangguk. Selain menangis dan meringkuk di atas kasur, gadis itu hanya sholat. Selebihnya ia tak keluar sama sekali dari kamar. Dan Ayana pun selalu keluar kamar untuk menuju kamar mandi kala Abang, Mbak, dan Andreas sibuk dengan aktivitas mereka. “Nggak mandi? Abang merasa ada bau khas orang yang belum mandi,” kata Abang. Tak ada nada gurauan. Nada bicaranya sama seperti ketika berbicara hal serius. Ayana menggeleng. Ia tahu bahwa Abang hanya ingin mengajaknya berbicara. “Abang minta maaf. Maaf karena tidak bisa melindungi kamu dari segala ucapan Bapak yang terlontar.” Kali ini nada bicara Abang masuk ke pendengaran Ayana dengan nada yang sendu. Hal itu membuat genangan air mata kembali berkumpul di bola matanya. “Abang bukan kakak yang baik, ya, Dek?” Lirih sekali Abang berbicara. Seakan ia memang pria lemah yang tidak dapat melindungi adiknya. Ayana dengan gegas menggeleng tegas. Refleks ia pun memutar posisi miringnya menghadap Abang. “Enggak! Abang adalah kakak terbaik bagi Ayana! Abang jangan bicara seperti itu!” protes Ayana tak suka. “Nyatanya Abang nggak bisa membela kamu, Dek. Abang hanya bisa diam saja di depan Bapak. Padahal harusnya Abang jadi tameng untuk kamu.” Ayana kembali menggeleng. Air matanya pun menetes. “Abang jangan bicara seperti itu!” mohon Ayana dengan suara seraknya. “Ayana nggak suka!” tegasnya. Ayana menggenggam tangan abangnya. Netranya yang berkabut karena terhalang air mata menatap netra abangnya dengan segala kekuatan yang tersisa. Tampak netra Abang yang lemah. Netra itu tampak seperti netra seorang prajurit yang kalah dalam peperangan. “Nyatanya Abang tidak bisa membela kamu, Dek.” Ayana kembali menggeleng tak suka. “Abang is my best brother. Stop merasa bahwa Abang bukan kakak yang baik. You will always be my best brother. The one and only,” tegas Ayana. “Bukan masalah Abang satu-satunya saudara Ayana, tetapi nyatanya Abang memang kakak terbaik. Abang harus selalu ada untuk Ayana, ya?” pinta Ayana. Ia meringsek masuk ke dalam pelukan Abang. Menumpahkan air matanya. Tidak peduli kaos hitam yang dikenakan Abang akan basah karena air matanya. Inginnya saat ini adalah melampiaskan segala sesak dalam d**a. “In shaa Allah, Dek. Abang akan selalu berusaha menjadi kakak terbaik untuk kamu,” jawab Abang dengan mengusap punggung Ayana lembut. “Kamu jangan mudah menyerah. Percaya bahwa Bapak akan selalu sayang sama kamu. Percayalah bahwa sikap Bapak saat ini hanyalah sebagai satu protes beliau atas sikap kamu yang Bapak tidak sukai. Dan percayalah bahwa Bapak pasti akan selalu memikirkan dan mendoakanmu,” jelas Abang. “Tapi tetap saja rasanya sakit, Bang,” sahut Ayana yang suaranya teredam di balik d**a Abang. “Karena kamu terbiasa disayang Bapak. Bapak selalu memanjakan kamu. Dan ketika ucapan juga sikap Bapak berubah membuat kamu syok, terkejut. Ibaratnya kamu sedang terserang culture shock. Culture shock sikap dan ucapan Bapak,” jawab Abang. Ayana tertawa kecil mendengar istilah yang digunakan Abang. Namun pikirnya tak berhenti bekerja. Kenapa ia tak pernah memikirkan hal itu? Sepertinya dirinya memang mengalami apa yang Abang katakan. Dalam pelukan Abang, pikirnya sibuk berputar ke masa di mana ia mulai merekam segala momen bersama Bapak. Semuanya adalah momen baik. Bapak memanjakannya, menggendongnya, membelikan segala apa yang ia inginkan tanpa menunggu ia merengek, mengajarinya bersepeda, mengajarinya banyak hal—terutama pelajaran hidup. Bahkan hingga ia masuk bangku sekolah menengah atas pun Bapak masih bersikap seperti itu. Hingga ia merantau pun juga. Tak pernah sekali pun Bapak tak memikirkannya. Namun, semuanya berubah ketika ia memasuki tahun akhir perkuliahan. Teringat akan malam di mana Bapak menjemputnya di stasiun dengan wajah datar, berbeda dengan momen lain saat Bapak menjemputnya. Bukan lagi senyum hangat juga tatapan yang penuh kerinduan. Semua itu hilang, ditelan dengan tuntutan akan skripsi. Ditambah dengan tindakan bodohnya yang mementingkan mendaki gunung dengan dalih refreshing tanpa meminta persetujuan Bapak. Ia pikir dengan izin kepada Ibu dan Abang semuanya akan baik-baik saja. Ternyata ia salah besar. Ia telah durhaka dan tidak menghormati juga menghargai Bapak. Wajar adanya bila Bapak marah sedemikian dahsyat padanya. “Dek..” Panggilan Abang membuatnya sadar dari lamunan dan pikirnya yang berkelana mengingat semua. Ia mendongak menatap Abang yang juga sedang menatapnya dengan pandangan hangat. “Abang akan berusaha melindungi kamu semampu Abang. Abang akan membantu kamu membujuk Bapak. Kamu percaya sama Abang?” Ayana menggeleng. Membuat Abang menatap Ayana tak percaya. Netranya membola pertanda tak mengerti dengan gelengan Ayana. “Kamu marah sama Abang?” Ayana kembali menggeleng. Hal itu membuat alis Abang menukik tajam. Kerutan di dahinya tampak banyak. “Ayana nggak mau hanya mempercayai Abang. Kita berjuang bersama, ya, Bang? Ayana ingin membujuk Bapak. Ah tidak tidak. Lebih tepatnya ingin meminta maaf pada Bapak. Kita bersama-sama bergerak karena Ayanalah yang menjadi permasalahannya. Abang bantu Ayana sesuai dengan porsi Abang. Ya, Bang?” “Siap, Sayang. Tetap cerita seperti biasanya. Jangan habiskan tenaga kamu untuk menangis! Bapak memang sedang marah. Namun masih ada Ibu, Abang, Mbak, dan Andreas yang akan mendampingi kamu. Kamu tidak sendiri? Paham?” Ayana mengangguk. Ia tidak akan lagi menyalahkan sikap Bapak padanya. Karena di sini dirinyalah yang menjadi sumber masalah ini. Ia yang harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Ia harus mampu mengembalikan kepercayaan Bapak padanya. Ia tidak boleh menjadi anak gadis Bapak yang pembangkang. Ia janji. “Kalau begitu ayo kita makan malam. Mbak sudah masak nasi goreng Jawa. Nasi goreng Jawa salah satu menu makan malam kesukaan kamu bukan?” ajak Abang. “Nggak pake saos atau bumbu instan, kan, Bang?” tanya Ayana memastikan. “Tidak. Sudah. Ayo kita makan. Kamu nggak bosen di dalam kamar terus?” Ayana pun bangkit dari duduknya. Diraihnya tangan Abang yang terulur padanya. Mendengar nasi goreng Jawa, membuat lambungnya berbunyi keras. Pertanda protes karena tak diberi asupan sejak tadi siang. Ayana melangkah keluar kamar dengan tangan yang terkalung di lengan Abang. Abang pun tak protes. Pria itu juga menyadari bila sudah lama mereka tak seperti ini. Semenjak ia menikah dan Ayana merantau demi mendapat gelar sarjana, mereka tak pernah lagi bermesraan seperti ini. “Hmmm.. aroma daun jeruk purutnya menggoda lambungku untuk segera diisi,” gumam Ayana saat kakinya melangkah masuk ke dapur. Mbak yang sedang memotong telur rebus pun tertawa geli mendengar ucapan adik iparnya. Ia pun mengembuskan napas lega karena akhirnya Ayana keluar dari kamar. Sejak gadis itu masuk ke kamar dan tak keluar untuk makan, perasaannya dilanda kekhawatiran dan kegelisahan. Ia pernah muda. Ia pernah berada pada fase di mana lelah menjalani hidup karena semesta yang seakan terus mengujinya dengan banyaknya ujian yang datang menghampimpiri. Membuat pikirnya banyak memikirkan hal buruk. Ia takut Ayana bertindak nekat. “Mbak.. Aku mau ijin ambilkan makan malam buat Abang, ya?” ujar Ayana ketika gadis itu melesatkan bokongnya di salah satu kursi. Mbak kembali dibuat tertawa geli. Ia tentu tak akan cemburu. Ia tahu bahwa hubungan Ayana dan Abang sejak dulu selalu mesra. Toh mereka saudara kandung. “Iya, Dek. Hitung-hitung latihan ya kalau nanti sudah punya suami.” Mendengar kata suami, tiba-tiba pikirnya diingatkan dengan Tama. Dan hal itu membuat bola matanya melebar. Teringat jika ia belum membuka ponsel sejak ke rumah orang tuanya. “Kenapa, Dek?” tanya Abang kala melihat tangan Ayana yang menggantung di udara dengan centong nasi yang telah terisi nasi goreng. Ayana menggeleng. Ia tak mungkin merusak momen hangat ini dengan ijin tak ikut makan malam. “Oh iya.. Nanti jangan lupa ceritakan pada Abang dan Mbak siapa laki-laki yang menjadi porter kamu dalam pendakian menuju Semeru.” Ayana dibuat diam tak berkutik. Ia kira Abang lupa akan Tama. Nyatanya salah. Ia pun merutuki dirinya. Seandainya saja ia tak terlihat bodoh karena mengingat Tama, mungkin Abang tak akan menginterupsinya nanti. Bukan ia tak suka. Hanya saja ia malu. Ini adalah pertama kalinya ia dekat dengan seorang laki-laki. Dan semoga saja, Abang tidak menciptakan drama baru dan memprotes akan hubungannya yang sedang terjalin dengan Tama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN