“Jadi… mau dimulai dari mana, Dek?” tanya Abang ketika ia, istrinya, dan Ayana sudah berpindah ke ruang tengah. Putranya telah terlelap selepas makan malam. Dan seusai mereka menunaikan Sholat Isya berjamaah, mereka berpindah ke ruang tengah.
Ayana menunduk malu. Semburat merah di pipi terlihat jelas. Untungnya ia sigap menunduk, bila tidak maka bully-an dari Abang dan Mbak pasti dengan cepat akan meluncur masuk ke indra pendengarnya.
“Tenang, Mas. Ayana butuh waktu buat menyusun kata. Dia juga kelihatan malu gitu,” sahut Mbak.
Ayana merasa Mbak membelanya. Namun ia juga peka akan godaan yang terselip dalam kalimat itu.
“Buatkan matcha hangat, Dek. Sekarang masih jam setengah 8, kan? Jadi masih ada waktu satu setengah jam untuk bercerita tentang mas-mas porter yang berhasil menjerat hati adik Abang yang cantik ini,” ucap Abang. Tetap dengan nada yang tenang. Padahal di dalamnya terselip godaan yang berhasil menciptakan semburat merah di pipi Ayana lagi.
Mbak mengayunkan kaki meninggalkan kakak beradik itu di ruang tengah. Wanita itu akan melakukan titah Sang Suami, membuatkan matcha hangat. Ia juga akan menggoreng kentang dan nugget ayam sebagai pendamping perbincangan mengenai Tama.
“Dek…” panggil Abang.
Ayana mengatur napasnya. Ia juga berusaha membuat dirinya tenang. Tidak ingin semakin mendapatkan serangan dari Abang karena terus menunduk. Lebih cepat bercerita akan lebih baik bagi kesehatan jantungnya.
“Alasan awalnya ya karena pingin refreshing, Bang. Ya seperti yang aku ceritakan ke Abang.”
Abang mengangguk. “Lalu?” tanyanya. Ia tak sabar. Menurutnya Ayana terlalu mengulur-ulur waktu.
Ayana kembali menunduk. Ia malu.
“Dek..” tegur Abang.
Ayana mengambil napas dalam. Ia berusaha menenangkan pikirnya. “Ya terus kita ketemu sama Mas Tama dan rombongan porter lain di depan Stasiun Malang Kota, Bang. Kenalan. Lalu mulai summit. Di tengah-tengah summit aku deket sama Mas Tama. Deket dalam hal ini ya akrab. Aku merasa teman-teman begitu mengentengkan semua tugas ke porter. Ya Ayana tahu sih kalau kita bayar porter buat itu. Namun Ayana nggak setega itu. Ayana bantu-bantu. Dan semenjak itu kita sering ngobrol banyak hal. Lalu berujung pada komitmen yang Mas Tama ucapkan,” jelas Ayana cukup singkat. Ia tak mungkin menjelaskan semuanya terlalu detail. Nanti ia akan semakin malu. Ia tak pernah menceritakan tentang laki-laki kepada Abang atau pun Bapak.
Abang mengangguk mengerti. “Apa yang membuat kamu yakin kalau Tama adalah laki-laki yang baik? Mungkin bukan baik, tepat buat kamu?”
Ayana diam. Ia memikirkan alasan itu. Lalu gadis itu mengedik. “Aku nggak tahu. Namun aku merasa Mas Tama laki-laki yang serius dalam komitmen. Kami memang saling kenal, tapi aku merasa cocok dengannya. Tak ada alasan khusus,” tandasnya.
Abang kembali mengangguk. “Kamu seyakin itu dengannya, Dek? Abang belum pernah bertemu dengannya. Abang tidak bisa menilai dia hanya dari foto yang pernah kamu jadikan sebagai profil w******p kamu.”
“Dia pernah lihat Abang. Waktu itu, Abang lagi sama Ayana. Ayana pun nggak tahu kalau ada Mas Tama waktu itu.”
“Oh ya? Kapan?”
“Waktu Abang datang ke kampus. Selepas aku seminar proposal. Katanya dia lihat semuanya. Kan Abang ingat kalau semproku kala itu hancur berantakan. Ya dia lihat aku nangis, terus Abang datang, pokoknya sampai aku ninggalkan tempat foto waktu itu,” jelas Ayana.
“Wah.. sayang sekali aku belum lihat dia. Kalau lihat kan aku bisa menilainya,” kata Abang seraya mengusap dagunya.
Bersamaan dengan itu, Mbak datang dengan membawa satu nampan yang berisi tiga gelas matcha hangat ditemani dengan nugget dan kentang goreng.
“Hm.. aromanya sedap banget. Bikin lambung yang sudah kenyang jadi lapar lagi,” kata Abang. “Terima kasih, Dek,” ucap Abang seraya mengusap lengan istrinya.
Ayana memutar bola mata malas. Ia benci Abang yang seperti itu. Pamer kemesraan di hadapannya. Meskipun hanya hal sederhana, tetapi tetap saja membuatnya sebal.
“Dimakan dan diminum, Dek,” tegur Mbak.
Ayana mengangguk. Ia memilih mencomot kentang goreng kemudian ia cocolkan pada saus pedas yang ada di piring itu.
“Terus kamu sudah pernah ketemu sama dia lagi setelah pendakian itu?”
Ayana yang sedang sibuk mengunyah nugget pun tersedak. Kerongkongannya sakit. Hingga hidungnya pun ikut kemasukan beberapa partikel nugget yang telah terkunyah halus.
Mbak gegas berlari ke dapur. Ia tak menyiapkan air putih di meja itu. Dengan langkah lebar, wanita itu kembali ke ruang tengah dengan segelas air.
“Minum, Dek.”
Ayana gegas meneguk air putih itu. Rasanya sungguh panas dan sakit. Dan air membantu melegakan semua rasa sakit di organ pernapasan juga pencernaannya itu.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Ayana setelah gadis itu meletakkan gelas kosong ke atas meja.
“Dari kejadian barusan, Abang bisa menyimpulkan bahwa kamu pernah bertemu dengan Tama setelah pendakian. Atau sering?”
Skak mat.
Intuisi seorang kakak memang begitu baiknya. Membuat Ayana tak mampu berkutik.
Ayana melirik Abang sebentar. Terlihat jika Abang sedang menatapnya dengan tatapan tegas. Alisnya bertaut, sedikit naik. Membuat nyalinya semakin ciut.
“Iya kan, Dek?” tanya Abang. Kali ini suaranya lebih dingin.
Mbak menegur Abang. Meminta Sang Suami agar tidak membuat Ayana merasa tersudut.
Abang pun menghela napas. Diambilnya gelas matcha miliknya. Ia teringat kata seseorang yang pernah berkata bahwa matcha mampu membuat perasaan seseorang menjadi lebih tenang. Dihirupnya aroma matcha yang khas. Pelan-pelan ia mulai menyeruput minuman berbahan teh hijau itu.
“Mau cerita atau dipendam sendiri, Dek?”
Saat ini suara Abang lebih tenang. Tak ada tuntutan yang berlebihan.
Sedikit membuat Ayana tenang. Namun tetap saja ia takut.
“Ehm.. seingat Ayana.. Ayana dan Mas Tama pernah keluar dua kali,” cicit Ayana.
Abang menghela napas lagi. Ia kecolongan.
“Kapan? Ke mana?”
Masih dalam posisi menunduk, gadis itu menjawab, “Waktu Ayana chat Abang kalau dekat sama cowok. Ayana keluar sama Mas Tama ke Ranu Manduro.” Ayana memainkan jari jemarinya. Tak berani mengangkat kepalanya menghadap Sang Kakak.
Terdengar helaan napas berat. Dan Ayana sadar bahwa kesalahannya sepertinya cukup besar.
“Bang..” panggil Ayana lirih. Masih tetap dengan kepala yang menunduk.
“Yang kedua ke mana? Kamu nggak lapor ke Abang lho, Dek!”
Jantung Ayana berdebat kencang. Dari suaranya, ia tahu Abang kecewa dan marah.
“Cari lumut untuk ambil data. Di Cuban Cangguh,” jawab Ayana dengan kepala yang semakin menunduk.
Abang kembali menghela napas lelah. Mau menyalahkan pun rasanya Ayana tak 100 persen salah. Namun ia tetap kecewa pada adiknya.
“Setiap hari sering komunikasi?”
Ayana mengangguk. Jari jemarinya masih saling bertaut.
Takut. Perasaan itulah yang kini ia rasakan.
“Bawa dia ke sini. Abang ingin tahu bagaimana Tama Tama itu! Jangan sampai Bapak tahu!” tegas Abang.
Ayana hanya mampu mengangguk pasrah. Sekalinya ia dekat dengan laki-laki, ia harus seperti ini. Tak apa. Baginya apa yang Abang lakukan adalah salah satu langkah melindunginya.
“Diminum dulu, Dek,” tegur Mbak.
Ayana kembali mengangguk. Ia mengambil gelas matcha untuknya dengan kepala yang masih tertunduk. Perlahan ia mulai meneguk pelan matcha-nya. Perasaannya pun terasa lebih tenang.
“Sambil dimakan, Dek.”
Ayana kembali mengangguk. Namun ia tak juga mengambil camilan yang Mbak sediakan.
“Abang nggak marah. Namun sejujurnya Abang kecewa sama kamu,” ujar Abang setelah hening di antara mereka.
Ayana tahu itu. Abang tak mungkin tenang-tenang saja mendengar ceritanya.
“Jangan pernah keluar lagi sama dia kecuali dengan persetujuan Abang!” tegurnya.
Ayana hanya mampu mengangguk. Ia tahu bahwa apa yang Abang lakukan demi kebaikannya. Demi menjaganya.
“Aku mau istirahat dulu. Besok harus ke kantor lebih pagi,” pamit pria itu.
Ruang tengah hening. Hanya menyisakan Mbak dan Ayana.
Mbak melangkah meninggalkan sofa yang semula ia duduki. Lalu menghempaskan bokongnya di samping Ayana. Diusapnya bahu Sang Adik Ipar.
“Abang hanya ingin kamu baik-baik saja, Dek. Abang tidak bermaksud mengekang kamu,” ucapnya lembut.
“Iya, Mbak. Ayana sadar akan kesalahan Ayana.”
Mbak mengambil tangan Ayana. Digenggamnya tangan Ayana yang sedikit lebih kecil dari tangannya. “Mencintai itu hak semua orang, Dek. Dan mencintai pun tidak memandang siapa yang kita cintai. Terkadang bahkan bisa menciptakan obsesi.” Mbak menghentikan ucapannya. Dipandangnya adik iparnya itu lembut. “Mbak percaya bahwa Tama adalah laki-laki yang baik. Dan semoga benar begitu adanya.”
Mbak dan Ayana sama-sama meng-aamiin-kan.
“Namun.. akan lebih baik lagi jika dia datang ke sini. Menemui Abang dan Bapak. Bukan masalah buru-buru untuk menikah. Tetapi sebagai bentuk dia menghargai keluarga kita. Kamu paham maksud Mbak, kan?”
Ayana mengangguk. Ia tentu paham akan hal itu. Beruntung sekali ia karena dikelilingi dengan keluarga yang selalu mendukungnya, juga mengingatkannya akan hal yang baik.
Bukankah memang seperti itu hakikatnya hidup? Saling memberikan manfaat bagi sesama.
“Sekarang kamu istirahat gih. Sudah jam 10 lebih.”
Ayana menengok pada jam yang terpasang di salah satu sisi dinding. Tak terkira bila ia telah berbincang dengan Abang dan Mbak selama itu. Setidaknya ia bisa sedikit mengembuskan napas lega karena telah menceritakan tentang Tama. Meskipun Abang menyayangkan sikapnya selama ini.
Ayana merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Ia menghadap langit-langit kamar. Pikirannya kembali memikirkan banyak hal.
“Jadi.. aku salah ambil sikap?” gumamnya.
Ia teringat akan wajah kecewa yang Abang tujukan padanya. Membuatnya menyesali sikap nekatnya yang pergi keluar bersama Tama. Ke luar kota tanpa memberi tahu pada Abang. Meskipun tak terlalu jauh, masih dalam satu provinsi. Tetap saja ada perasaan tak nyaman dalam dirinya.
Suara dering handphone-nya membuat Ayana tersadarkan dari kusutnya pikirannya. Hingga senyumnya seketika terbit kala melihat nama Sang Penelepon.