“Aku ganggu?”
Suara serak dan besar di seberang sana seketika membangkitkan rasa rindu di benak Ayana. Rindu dengan laki-laki yang selalu baik dan mampu menenangkannya. Bahkan rindu yang terkumpul itu membuatnya tak ingin tidur. Ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling menyapa melalui telepon.
Ayana menggeleng. “Enggak. Maaf dari tadi aku nggak pegang handphone, Mas.”
“It’s okay. Semuanya oke kan, Dek?”
Suara Tama yang lembut itu membuat Ayana seketika dilanda perasaan sedih. Ayana seakan kembali ke rumah kedua orang tuanya, ke perasaan ketika ia duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Air matanya kembali berkumpul di pelupuk mata. Siap mengalir deras bila ia sampai membuka mulutnya.
“Dek…” Tama seakan menyadari jika semuanya tak baik-baik saja. Keterdiaman Ayana membuatnya mengambil kesimpulan itu. “Hal besar apa yang terjadi?” tanya Tama lembut.
Bukan jawaban berupa kalimat yang masuk ke telinga Tama. Melainkan tangisan. Mendengar tangis yang terdengar menyayat itu, ia paham jika semuanya tak sesuai dugaan. Atau mungkin lebih berat dari yang dipikirkan?
Tama diam. Ia tak menginterupsi tangis Ayana. Ia mencoba meresapi sakit yang Ayana salurkan dari tangisan itu. Membuatnya ingin mendekap gadis itu. Meyakinkan bahwa ada dirinya yang akan selalu ada di sampingnya.
Tama diam mendengarkan tangisan yang menyayat itu. Tak sedikit pun ia mengusik tangis Ayana. Membuat pikirnya banyak berandai-andai.
‘Andai aku di sana. Aku pasti akan mendampingi kamu, Dek. Menjadi pelindung bagi kamu. Menjadi laki-laki selayaknya sayap pelindung, yang membentengi tubuh dan perasaan kamu dari segala hal yang menciptakan tangis pada gadis manis sepertimu.’
Tak terasa air mata ikut menumpuk di pelupuk mata yang selama ini sering tampak dingin dan tajam. Ia ikut terbawa dalam rasa sakit yang berasal dari tangisan Ayana. Seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya. Seorang gadis yang mampu membuka tirai hatinya dari kehampaan.
Hampir pukul 11 tangis Ayana akhirnya reda. Ia merasa lebih lega. Diusapnya air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan. Diaturnya napasnya untuk menetralkan perasaannya.
“Mas..” Ayana memanggil Tama dengan suara serak, khas seseorang yang baru saja selesai menangis.
Dengan cepat Tama mengusap air mata yang hendak meluncur bebas ke pipi. Ia memang ikut terbawa dalam rasa sakit yang Ayana rasakan. Namun ia harus kuat. Demi Ayana.
Gegas disambarnya sebotol air mineral yang sering ia letakkan di nakas samping dipan pembaringan. Ia meneguk beberapa teguk air putih. Ia tak ingin Ayana menyadari jika ia hampir saja menangis.
“Mas,” panggil Ayana lagi. Gadis itu takut Tama tertidur. Ia menjadi merasa bersalah karena membuat Tama hanya mendengar suara tangisnya, hingga mengantarkan lelaki itu tidur. Seakan-akan suara tangisnya adalah nyanyian pengantar tidur. Padahal ia ingin menceritakan banyak hal pada Tama.
“Hm?” sahut Tama.
Ayana mengembuskan napas lega. “Maaf membuat Mas mendengar tangis Ayana. Ayana kira Mas Tama tadi tertidur,” ucap Ayana dengan suara yang masih sedikit serak.
“Enggak, Sayang. Maaf tadi Mas minum dulu.”
Ayana ber-oh ria. Lalu gadis itu mulai menceritakan semuanya. Hingga pada perbincangan Ayana dengan Abang dan Mbak.
Tama di seberang sana merasa tertampar kala mendengar permintaan Abang dan Mbak. Membuatnya tersadar bahwa ia telah menjadi laki-laki pengecut.
“Maaf,” lirih Tama.
“Kenapa minta maaf?” tanya Ayana bingung. Bahkan gadis itu mengganti posisinya. Semulai ia berbaring menghadap langit-langit, kini ia menengkurapkan badannya.
“Maaf karena tidak menjadi laki-laki baik. Maaf karena Mas terbutakan oleh perasaan bahagia sehingga mengajak kamu keluar tanpa persetujuan dari Abang atau Bapak,” jelasn Tama dengan tulus. Suaranya lirih. Hatinya benar-benar sakit. Seakan dipukul bertubi-tubi.
“Kenapa minta maaf? Ayana yang salah di sini, Mas,” jawab Ayana.
“No!” tegas Tama. “Mas Tama yang salah jalan, Dek. Harusnya Mas mengajak kamu dengan cara yang benar.”
“Cara Mas sudah benar,” ucap Ayana tak habis pikir dengan pola pikir Tama.
“Dek…” lirih Tama memanggil Sang Pujaan Hati.
“Ya, Mas?”
“Mas harusnya datang menemui Abang atau Bapak. Memperkenalkan diri sebagai laki-laki yang sedang menjalin komitmen dengan kamu,” kata Tama pelan dan penuh kelembutan. “Bukan mengajak kamu keluar, bahkan ke luar kota tanpa persetujuan mereka,” lanjutnya.
“Tapi kita kan nggak pernah melakukan sesuatu yang dilanggar, Mas?”
“Bukan masalah itu, Sayang.”
Seketika pipi Ayana bersemu kala mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir Tama. Meskipun mereka terpisah jarak, semburat merah tetap tercipta sebagai wujud akan rasa malu juga senang. Bahagia rasanya dimiliki oleh Tama.
“Ini masalah benar dan tidaknya sikap seorang pria dalam meminta ijin. Kamu paham maksudku, kan?”
Ayana mulai mengangguk mengerti. Benar apa yang dikatakan Mbak. Harusnya laki-laki yang baik seperti itu. Harus datang meminta ijin secara langsung.
“Kamu kapan pulang ke Jombang lagi?” tanya Tama.
Kening Ayana berkerut. ‘Kenapa Mas Tama tiba-tiba bertanya hal itu?’ Alisnya pun mulai menyatu.
“Mas nggak mungkin datang ke rumah besok, Dek. Besok Senin. Hari di mana jadwal pekerjaan sangat padat. Jadi nggak mungkin aku ke sana untuk menemui Abang dan Bapak besok,” jelas Tama.
“Oh,” sahut Ayana. Gadis itu pun tertawa lirih ketika mendengar penjelasan Tama.
“Kita berjuang bersama, ya, Dek untuk hubungan ini. Jangan pernah merasa kamu sendirian. Mas akan selalu di samping kamu. Tidak di depan atau pun di belakang kamu! Kita sama-sama saling berjuang. Jadi tidak ada yang mendominasi. Kita masih belum membahas tentang rumah tangga. Beda kasus jika hal itu.”
Mendengar kata rumah tangga membuat pipi Ayana kembali bersemu. Entah mengapa Tama selalu bisa membuatnya malu dan tersipu.
“Dek..” panggil Tama. “Kamu sudah tidur?”
“Belum, Mas,” jawab Ayana tergeragap. ‘Dasar pikiran! Kalau mikirkan rumah tangga saja langsung terang benderang. Ingat skripsi!’
“Tapi kamu dengar apa yang Mas katakan tadi, kan?”
“Dengar kok.”
“Mari kita sama-sama saling menguatkan. Agar langkah kita ke depan semakin dimudahkan. Bisa, Dek?”
Pipi Ayana kembali bersemu. ‘Kenapa rasanya seperti diajak menikah?’
“Adek Ayana..” Tama kembali memanggil. Dan hal itu membuat Ayana semakin tersipu malu.
“Iya. Bisa, Mas,” jawab Ayana setelah berulang kali mendapat interupsi dari Tama.
Sedang Tama di kamarnya merasa perasaannya ringan. Ia akan mulai menitih ke babak yang lebih tinggi. Bukan hanya sebuah komitmen akan dua orang yang berbeda gender saja. Melainkan ia harus lebih berani untuk menyampaikan pada Abang dan Bapak. Bukan masalah mereka akan terburu-buru melangkah ke hubungan yang lebih serius. Namun bukankah laki-laki gentle harus seperti itu jika ingin menjalin hubungan dengan seorang perempuan? Memilih jalan yang gentle dan benar.
‘Semoga dimudahkan.’ Harapan Tama tak muluk-muluk. Ia berharap segalanya dimudahkan. Dan ia berencana akan menyampaikan jalinan hubungan ini pada Bunda. Agar semuanya bisa berjalan lebih baik dan lancar.
“Masalah sama Bapak jangan terlalu dipikirkan berlebihan, Dek. Beliau adalah orang tua kamu. Seorang ayah yang pasti akan selalu menyayangi kamu,” ucap Tama pelan memperingatkan. “Beliau hanya menyampaikan kekecewaannya.”
“Iya, Mas. Aku mungkin besok akan berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu. Setidaknya aku ingin menunjukkan pada Bapak, bahwa anak gadisnya gigih, tidak mudah menyerah.”
“Bagus itu. Semangat. Semoga dimudahkan.”
“Aamiin.”
“Dan yang harus kamu ingat, ada Mas yang akan selalu mendampingi dan mendoakan kamu dari jauh.”
Senyum lebar tercetak di wajah Ayana. “Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus dengan pipi yang kembali bersemu.
“Sekarang kamu istirahat. Sudah jam 11 lebih. Jangan memikirkan hal-hal yang belum pasti. Allah pasti sudah mengatur takdir terbaik bagi hamba-Nya,” pesan Tama.
“Iya, Mas. Terima kasih karena kamu telah mendukungku. Telah mendampingiku sejauh ini. Maaf mengganggu waktu istirahat Mas Tama.”
“No! Kamu tidak mengganggu. Sekarang ayo kita istirahat dengan pikiran yang tenang. Supaya besok bisa menjalani hari dengan tenang juga,” ucap Tama.
“Siap, Bos! Assalamu’alaikum, Mas Tama,” tutup Ayana.
“Wa’alaikumsalam, Sayang. Good night and have a nice dream.”
“You too,” cicit Ayana.
Ayana mendekap handphone-nya dengan senyum yang tak kunjung hilang dari bibirnya. Rasanya lega dan tenang. Memiliki seseorang untuk saling berbagai cerita adalah satu hal yang menyenangkan. Ada tempat untuk bersandar dan meminta pencerahan. Membuat Ayana menjadi lega. Ia juga tenang karena pikiran-pikiran negatif yang sempat hinggap dalam pikirnya perlahan melangkah pergi.
Ayana memutuskan untuk ke kamar mandi sebelum tidur. Selepas berwudhu dan sikat gigi, ia mengambil air untuk melegakan kerongkongannya yang kering. Terdengar suara televisi yang menyala. Padahal ketika ia ke kamar mandi, ia melihat dengan jelas jika televisi di sana layarnya hitam.
“Abang.. katanya mau tidur?” tanya Ayana sembari duduk di samping Abang. Tampak di hadapannya kini tayangan sepak bola yang sedang bergulir.
“Tadi haus terus bangun. Sekalian mau nonton bola.”
“Besok kesiangan bangunannya lho.”
“Enggak. Sudah biasa. Kalau kesiangan kan bisa dibangunkan sama Mbak.”
Ayana memutar bola mata jengah. Selalu saja Abang dan Mbak pamer kemesraan di hadapannya.
“Kamu belum tidur? Habis telponan sama Tama?”
Kini netra Ayana membola. ‘Bagaimana Abang bisa tahu?’
“Abang juga pernah kasmaran, Dek. Pernah juga berada di usia kamu itu. Jangan sampai terlalu larut malam kalau telponan!”
“Iya, Bang.”
“Sekarang buruan tidur. Sudah hampir tengah malam. Kamu pasti capek.”
“Iya, Bang. Ayana ke kamar dulu.”
Abang mengangguk. Ayana pun melangkah meninggalkan Abang sendiri. Meninggalkan berbagai pikir yang berkecamuk di benak pria dengan anak satu itu. Rasa khawatir dan takut menggerogoti diri. Namun sekuat tenaga ia meyakinkan diri bahwa Tama adalah laki-laki yang baik. Dan ia berencana untuk mencari tahu informasi tentang Tama. Ia tak ingin Ayana salah memilih kekasih.