59. Kembali Semangat

1552 Kata
Ayana duduk termenung di kursinya. Menyandarkan kepalanya di sisi kirinya, pada kaca jendela kereta api KRD jurusan Surabaya yang sedang melaju kencang. Bila melihat ke sisi kiri dan kanan kereta, suasana di sekitar masih gelap. Pewaktu baru saja menunjukkan pukul 05.15. Ayana harus menukar jadwal keberengkatannya menjadi lebih pagi. Bu Puspa meminta para mahasiswa bimbingannya untuk bimbingan pukul 09.00. Maju empat jam dari jadwal sebelumnya. Beruntungnya Ayana masih mendapatkan tiket kereta dengan kursi yang kosong. Kebanyakan kereta pagi akan penuh, sehingga banyak penumpang yang mendapat tiket tetapi tanpa tempat duduk. Air mata Ayana kembali meluruh kala mengingat hari kemarin. Bapak memintanya dengan tegas untuk tidak masuk ke dalam rumah sebelum ia menyelesaikan sidang skripsi. Hal yang tidak dapat Ayana pastikan kapan hari itu datang. Tidak peduli dengan seorang ibu juga pemuda yang duduk di kursi di depannya, Ayana kembali menangis. Ditutuplah wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak ingin semakin menarik perhatian penumpang lain. Sakit sekali rasanya. Apalagi ketika mendengar suara Bapak yang cukup keras meminta Ayana tidak masuk melangkah ke halaman rumah. Suara lirih dan permohonan Ibu pun diabaikan Bapak. Menciptakan tangis Ayana dan Ibu yang saling bersahutan. *** Ayana membuka gerbang rumahnya pelan. Dirinya sendirian. Mbak tidak dapat menemani karena Andreas sibuk merengek tidak mau mandi. Membuat Mbak terus membujuk bocah laki-laki itu agar mau mandi. Hari itu masih pagi. Abang pun baru saja berangkat. Dengan debar jantung yang menggila, Ayana perlahan melangkahkan kakinya menuju rumah kedua orang tuanya yang hanya berjarak lima rumah dari rumah Abang. Setelah tubuh Ayana masuk ke halaman rumah, ia kembali menutup gerbang. Kemudian mulai melangkah melintasi aneka bunga yang Bapak tanam. Bunga adalah salah satu penyegar mata Bapak. Dan menanam aneka tanaman itu adalah salah satu hobi Bapak sejak Ayana merantau untuk mengejar gelar sarjana. “Assalamu’alaikum,” salam Ayana ketika tiba di depan pintu yang terbuka. “Wa’alaikumsalam.” Tubuh Ayana seketika berdiri kaku. Ia mengedarkan pandangan, mencari Bapak. Tampak Bapak duduk dengan kursi kecil yang terbuat dari kayu di salah satu sisi taman. Bapak tampak sibuk memindahkan bibit aglonema dari polybag ke pot plastik. “Ngapain ke sini? Bukankah Bapak pernah bilang kalau kamu jangan menginjakkan kaki di sini sebelum kamu sidang skripsi,” ucap Bapak tegas. Tangan Bapak masih sibuk memindahkan bibit aglonema itu, tidak menoleh untuk memandang anak gadisnya. “Pak,” lirih Ayana. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju Bapak, berniat mencium punggung tangan Bapak. Tangan yang penuh dengan banyaknya kekuatan karena mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya hingga ia bisa berkuliah. “Berhenti di situ. Bapak nggak mau dekat sama anak yang nggak nurut sama orang tua.” Seketika langkah Ayana berhenti. Ia berdiri kaku seraya menatap punggung Bapak dengan netra yang terluka. “Ayana ingin menjelaskan semuanya, Pak,” ucap Ayana lemah. “Menjelaskan? Apa yang mau dijelaskan? Semua sudah berlalu. Bapak terlanjur kecewa. Lagi pula, masa lalu ya sudah biarkan berlalu. Tidak perlu lagi dirisaukan.” Tangan Bapak tampak sibuk memindahkan tanah ke pot. Lalu memindahkan pot ke sisi taman yang penuh dengan aglonema. “Dek..” tegur Ibu. Mendengar suara salam, Ibu yang sedang sibuk membuat bakwan jagung pun menghentikan aktivitasnya. Ia mengenali suara Ayana. Gegas ia melangkah lebar menuju depan. Nyatanya ia terlambat, suaminya telah mengatakan beberapa kalimat yang mungkin akan semakin menyakiti hati putrinya. Dalam langkahnya ia mendengar apa yang suaminya katakan. Ikut sesaklah dadanya. Hati ibu mana yang tak ikut sakit saat anaknya mendapatkan kata-kata yang tak mengenakkan pendengaran. Ayana memutar tubuhnya. Menghadap Ibu. Air matanya tiba-tiba meluruh, sesak yang sedari tadi ditahannya kini mulai memgucur deras. Melihat ibunya sama dengan menunjukkan kerapuhannya. “Suruh dia pergi dari sini, Bu. Dia belum bisa menepati janjinya. Dan janji harus ditepati terlebih dahulu sebelum Bapak mengijinkan dia melangkahkan kakinya masuk ke sini,” tegas Bapak. “Pak,” kata Ibu tak kalah tegas. Sayangnya ketegasan dalam suara Ibu tetap masih tegas suara Bapak. “Ibu tentu masih ingat dengan permintaanku, bukan? Aku akan mengijinkan dia kembali ke rumah kalau dia bisa melaksanakan perintah itu. Lagipula perintah itu juga demi kebaikannya,” kata Bapak seraya memindahkan pot yang telah tertanami polybag. “Pak… Beri kesempatan Ayana untuk menjelaskan. Dia juga sudah selesai mengambil data. Selangkah lagi dia akan sidang skripsi,” jelas Ibu. Bapak memutar tubuhnya seraya menatap istri dan putrinya. “Kapan dia sidang? Sudah jelaskah waktunya?” Ibu dan Ayana saling diam. Mereka sama-sama tidak memiliki jawaban. Bapak pun mendengus. “Segera bawa dia pergi dari halaman rumah ini, Bu. Bapak harap Ibu bisa mengerti permintaan Bapak ini,” ujar Bapak pelan tetapi penuh dengan intimidasi. “Bu..” rengek Ayana dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Netra Ibu menatap Ayana dengan pandangan lemah. Ia bagai berada di ujung jurang. “Kamu ke rumah Abang dulu, ya. Ibu antar?” “Bu.. Tapi Adek belum menjelaskan pada Bapak,” rengek Ayana dengan isakan yang mulai menyertai. “Minggu depan lagi ya kamu bicara sama Bapak,” ucap Ibu. Ayana menggeleng. “Bu..” mohonnya. Ibu memeluk Ayana. Dalam pelukan itu, ia juga menuntun Ayana untuk mulai melangkah meninggalkan rumah yang selama ini selalu menjadi saksi akan kebahagiaan, kesedihan, dan keceriaannya. Ayana menggeleng. Ia juga berusaha menahan tubuhnya agar tetap berdiri di halaman rumah. Namun Ibu menegur putrinya dengan lembut. Dan sekuat tenaga akhirnya Ibu bisa mengantar Ayana kembali ke rumah Abang. *** Tangis Ayana semakin pecah kala mengingat hal itu. Rasa sesaknya kembali terasa. Bahkan Ibu pun tak bisa membujuk Bapak. Lalu harus meminta tolong pada siapa agar ia bisa meluluhkan hati Bapak? Seorang ibu dan pemuda yang duduk di kursi hadapan Ayana saling pandang. Namun mereka sama-sama menggeleng karena tidak memahami akan hal yang terjadi pada Ayana. Menangis hingga hampir 20 menit, akhirnya Ayana mulai merasa sedikit lega. Meskipun rasa sesak masih ia rasakan. Ia beranjak dari duduknya, lalu melangkah dengan menunduk dalam. Kamar mandi pada gerbong kereta menjadi tujuannya. Mengabaikan bau yang kurang sedap, ia mulai membasuh mukanya dengan air. Dirasa sudah lebih baik, ia pun membenahi kerudungnya kemudian mulai melangkah meninggalkan kamar mandi yang berukuran kecil itu. “Ngapunten nggih, Bu, Mas. Saya tiba-tiba nangis. Mohon maaf juga karena membuat tidak nyaman,” ucap Ayana seraya memandang seorang ibu dan pemuda yang duduk di kursi depannya. Sedang di nomor kursi sampingnya, tidak ada penumpang yang menduduki. “Nggak papa, Mbak,” jawab Si Ibu dan pemuda itu hampir bersamaan. Ayana pun membalasnya dengan senyum terima kasih. Bersamaan dengan itu, dering pada handphone-nya membuatnya gegas mengambil alat komunikasi itu. “Assalamu’alaikum, Mas,” sapa Ayana dengan suara yang masih sedikit serak. “Wa’alaikumsalam. Sudah di kereta?” “Sudah, Mas. Ini keretanya dalam perjalanan ke Stasiun Mojokerto.” Terdengar helaan napas lega. “Maaf tadi Mas nggak tahu kalau kamu telepon. Everything gonna be okay? Kamu habis nangis, Dek?” “Ya terkadang merasa oke. But sometimes merasa gak oke juga, Mas,” jawab Ayana dengan tawa kecil. “Kenapa nangis? Kemarin malam kamu sudah nangis lama juga, Dek.” “Keinget sama kejadian kemarin pagi.” “Semangat, yuk. Bapak ingin kamu cepat lulus. Dan Mas rasa, cara inilah yang beliau pilih supaya kamu gegas menyelesaikan skripsi,” kata Tama dengan lembut. Ayana mengangguk. “Namun rasanya tetep sakit, Mas.” Ayana berkata jujur. Ia hanya sedang berusaha menenangkan perasaannya. Mungkin dengan bercerita pada orang ia akan merasa lebih tenang. Beban yang ditanggungnya akan terasa lebih ringan. “Mas harus bantu apa?” “Ehm.. belikan es krim,” seru Ayana dengan suara bahagia. “Masak Mas harus ngirimkan es krim dari Pasuruan ke Surabaya, Dek? Yang ada esnya keburu leleh.” “Kalau Mas yang ke sini gimana?” Tama menghela napas panjang. “Kan Mas belum ketemu sama Abang dan Bapak,” ucapnya mengingatkan. Wajah Ayana tamapak sendu. “Kalau gitu kirimin cokelat yang banyak, ya.” “Di Surabaya kan banyak cokelat, Dek. Ada juga toko kue yang jual aneka roti cokelat. Mas transfer uang saja ya?” “Ya sama aja kayak Ayana yang beli. Kan Ayana pinginnya Mas yang beli,” ucap Ayana merajuk. Tawa Tama berderai. Mengundang Ayana untuk ikut tersenyum. Tama selalu berhasil membuat beban yang Ayana pikul serasa ringan. “Kamu kirim alamat kos kamu, ya. Nanti Mas kirimkan cokelat terkhusus untuk gadis yang paling Mas cintai.” Pipi Ayana bersemu. Meleleh sudah perasaannya. Tidak hanya Ayana, Tama pun ikut malu. Sejak dekat dengan Ayana, ia seakan berubah menjadi seorang pujangga cinta. Tidak masalah baginya, yang paling penting ia bisa selalu membuat Ayana senang. “Cepet kirimin, ya. Mas mau sarapan dulu. Bunda sudah manggil.” “Oke, Mas. Semangat ya kerjanya!” “Kamu juga harus semangat! Ada Mas yang akan mendukung kamu dari sini. Semoga segera mendapat ACC dari dosen pembimbing kamu supaya kamu bisa segera sidang. Dan gelar sarjana pendidikan akan menyertai nama kamu,” harap Tama tulus. “Aamiin. Terima kasih, Mas Tama. Semoga Mas Tama juga akan selalu diberi kesehatana. Sehingga kita bisa selalu bersama.” “Aamiin. Mas tutup, ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Ayana kembali menata suasana hatinya. Awal yang semula berisi dengan air mata, kini dengan cepat berubah dengan keceriaan dan semangat. Ia percaya bahwa keyakinan yang kuat akan membawanya pada takdir yang baik. Harapan yang kini ia semogakan adalah segera mendapat ACC untuk sidang. Tidak hanya demi melaksanakan permintaan Bapak, tetapi juga untuk menunjukkan pada diri bahwa ia mampu melewati ini semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN