60. Kejamnya Hidup

1575 Kata
Ayana baru saja turun dari kereta. Ia memilih istirahat sejenak di selasar musholla Stasiun Wonokromo. Salah satu stasiun di Surabaya itu penuh dengan manusia. Bagaikan semut yang baru saja keluar dari sarang untuk berkeliling mencari serpihan gula. Berhamburan ke segala ruang. Ayana menghirup udara khas Surabaya. Udara pagi ini masih cukup segar. Membuat perasaan Ayana ikut tenang. Merasa sudah cukup untuk bersantai, Ayana mengambil handphone-nya. Perempuan itu berniat memesan ojek online. Kernyitan di dahi tercetak jelas. Alis Ayana pun mulai menyatu. “Kok aneh,” gumamnya seraya memandang layar handphone-nya. Aplikasi untuk memesan ojek online di handphone-nya tak kunjung menemukan driver. “Apa karena sinyalnya nggak masuk sini?” gumamnya lagi. Ia mulai melangkah keluar area stasiun dengan handphone yang berada dalam genggamannya. Area stasiun sudah mulai sepi. Banyak penumpang yang turun bersamanya telah meninggalkan kawasan stasiun menuju tempat tinggal atau tempat kerjanya masing-masing. Ayana pun memilih duduk di pembatas taman. Hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Aplikasi pemesan ojek online di handphone-nya akhirnya berhasil mendapatkan driver. Ayana mengembuskan napas lega. Namun hal itu tak bertahan lama, tertulis nama Sang Driver, tetapi nomor polisi sepedanya tidak tercantum. “Kok aneh sih? Padahal biasanya aman-aman saja,” decaknya heran. Ayana pun mulai kembali melangkah menuju pintu luar. Pintu di mana pintu itu tepat berada di tepi Jalan Wonokromo. Bahkan menyatu dengan Jalan Wonokromo. Sembari menunggu driver ojek online yang dipesannya, Ayana mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Banyak becak yang berjajar di hadapannya. Ada pula taksi—taksi konvensional, bukan taksi online—yang parkir dengan rapi. Di tepi jalan ada beberapa warung penjaja makanan yang berdiri. Hal itu menciptakan keramaian di Jalan Wonokromo selain padatnya kendaraan yang memenuhi jalan raya itu. Ayana sesekali mengecek handphone-nya. Masih belum muncul juga nomor polisi Sang Driver. Ayana menyegarkan aplikasi itu dengan menggulir layar handphone ke bawah berulang kali. Namun masih tetap tidak ada perubahan. Ayana mengembuskan napas panjang. Ia sudah sangat ingin beristirahat di kasur kosnya. Ingin merehatkan punggungnya yang lelah karena hanya duduk saja di kereta. “Mbak..” Tetiba seorang bapak memanggil Ayana. Ayana melihat penampilan bapak tersebut, pria itu berdiri di samping becak. “Kenapa, Pak?” tanya Ayana heran. “Itu dipanggil,” kata Si Bapak seraya memandang pada seorang bapak lain yang duduk di atas motor matic berwarna merah. Dahi Ayana berkerut. “Apa Bapak itu driver-nya?” gumamnya. “Mbak.. Itu dipanggil lho,” tegur Bapak pemilik becak lagi karena Ayana hanya diam saja, tidak merespons. Meskipun bingung, Ayana tetap melangkahkan kakinya menuju Bapak berjaket hitam itu. “Naik, Mbak,” tegur Si Bapak. Ayana masih dilanda kebingungan. Jika biasanya ia diberikan helm, kali ini tidak. Namun entah apa yang merasuki Ayana, perempuan itu tetap duduk di jok belakang. Meskipun perasaan ganjil masih menghantuinya. “Mbak, handphone-nya dimasukkan ke dalam tas saja. Saya takut kena tilang polisi,” tegur si Bapak Driver. Handphone yang semula berada dalam genggaman, kini Ayana pindahkan ke dalam ranselnya yang berwarna biru dengan motif kotak-kotak. Ranselnya pun sejak tadi berada dalam dekapan tubuhnya. Tidak terpikirkan olehnya, kenapa si Bapak Driver tidak memikirkan jika polisi lalu lintas akan menilang mereka karena Ayana tidak mengenakan helm? Di persimpangan jalan, di bawah fly over, seharusnya motor diarahkan ke kanan, ke arah Rumah Sakit Islam NU. Sayangnya, motor terus melaju melewati jalan Ahmad Yani. Perasaan Ayana diliputi kekhawatiran. Aneh. Namun Ayana tak mampu berkutik. Batinnya hanya mampu berontak. “Dari mana tadi, Mbak?” “Oh.. Dari Jombang, Mbak,” jawab Ayana dengan antusias. Entah mengapa dirinya bisa begitu antusias ketika diajak berbicara. Entah karena memang pribadinya yang suka diajak berbicara atau karena faktor lain. Yang jelas, Ayana sampai lupa dengan ketakutan dan kekhawatirannya. Mereka terus berbincang mengenai tempat kelahiran Ayana. Ayana begitu ceria dan antusias menjelaskan tentang perkembangan kotanya. “Mbak, gimana kalau tasnya di taruh depan sini saja? Daripada sampeyan megangi gitu?” tawar Si Bapak Driver. Depan yang dimaksud Si Bapak Driver adalah pijakan kaki yang ada di depan jok. Di mana pijakan itu memiliki ruang yang cukup luas. Biasanya ibu-ibu sering memanfaatkannya untuk menempatkan barang belanjaan. Motor matic dengan kelebihannya. Tanpa ragu Ayana mengangsurkan ranselnya tersebut. Tidak ada perasaan curiga atau apa pun. Ia hanya merasa percaya pada Si Bapak Driver. Tepat di salah satu belokan di Jalan Ahmad Yani, sebenarnya dari arah Surabaya tidak boleh berputar pada jalan itu, karena jalan tersebut hanya boleh dilalui oleh kendaraan dari arah timur, Si Bapak Driver meminta Ayana turun. “Mbak.. sampeyan turun dulu, ya. Di depan kan ada pos polisi. Sedang sampeyan nggak ada helm. Kalau misal nanti ketilang malah jadi panjang urusannya. Saya tunggu di depan sana,” ujar Si Bapak Driver seraya mulai menurunkan laju stang motornya. Ayana pun turun. Ia tak peduli dengan pengendara kendaraan bermotor lainnya. Fokusnya seakan-akan hanya ada pada suara Si Bapak Driver. Ibaratnya, dunia hanya milik berdua. Hanya milik Ayana dan Si Bapak Driver yang tidak memberikan helm pada Ayana. Ayana mengawasi motor Si Bapak Driver. Benar saja, Si Bapak Driver itu berhenti di persimpangan jalan. Jalan masuk ke Surabaya terdiri dari dua jalur, jalur jalan baru dan jalan lama. Dan persimpangan itu menghubungkan dua jalur tersebut. Ayana melihat pos polisi yang berdiri tegak di seberang jalan. Saat sepi, ia menyeberang jalan, berniat menghampiri motor Si Bapak Driver. Namun sungguh sayang, Si Bapak Driver tiba-tiba menarik gas motornya. Menyebabkan motor matic merah itu melaju kencang masuk ke jalur baru Jalan Ahmad Yani. Ayana diam terpaku. Netranya fokus memandang pada laju motor matic itu. Tidak berteriak atau pun meminta tolong. Hingga beberapa waktu, kakinya mulai melangkah. Tujuannya hanya ingin tiba di kos. Pikirannya masih dipenuhi dengan hal tak terduga yang baru saja menimpanya. Apa ini yang namanya digendam? Atau ini adalah kebodohannya? Tidak bisa membaca gerak-gerik orang yang mencurigakan. Ayana melangkah dengan pikiran yang berusaha ia atur untuk tetap waras. Dalam benaknya meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukan hanyalah sebuah prank. ‘Mungkin nanti ranselku akan diantarkan ke depan kos sesuai dengan alamat pada aplikasi.’ Namun tentu saja hal itu tidak terjadi. Ayana naik di boncengan motor itu tanpa adanya hubungan di aplikasi. Ayana tertipu. Ayana seakan dihipnotis. Ayana masih melanjutkan langkahnya dengan pikiran yang linglung. Mulai melangkah di jalan samping Royal Plaza Mall dengan pikiran yang ia coba atur bahwa ini semua bukan hal buruk. Ayana tidak menangis. Tidak ada keinginan untuk menangis. Ia pun seakan abai dengan peristiwa yang baru saja menimpanya. Seakan semuanya baik-baik saja. Seakan apa yang menimpanya adalah hal yang normal, bukan sebuah tindakan kriminal. Hampir setengah jam berjalan kaki, tanpa ditemani dengan ransel, akhirnya Ayana tiba di kos. Merogoh pada salah satu ruang flatshoes yang ada di rak depan kamarnya, ia menemukan kunci kamarnya. Tanpa tenaga ia membuka pintu kamar kosnya itu. Bukan mimpi. Apa yang menimpanya benar-benar nyata. Ia kehilangan dompet yang berisi uang ratusan ribu, handphone beserta charge-nya, buku catatan, dan dompet beserta kartu-kartu penting miliknya. Dan tidak ketinggalan satu kotak bekal makan siang yang ibunya siapkan. Ayana meluruhkan tubuhnya di lantai kamar. Dan tiba-tiba suara tangis meraung memenuhi kamarnya. Ia telah tertipu. Dan ia merasa bodoh. Benar-benar bodoh. Ia terus menangis. Meratapi nasibnya yang sedang tidak berjalan baik. Mungkin ini teguran dari Allah. Mungkin ini jalan dari Allah agar Ayana semakin meningkatkan ibadahnya juga sedekahnya. Ayana menangis dengan sesenggukan yang menyesakkan d**a. Kehilangan duniawi. Namun siapa yang tak sedih? Akhirat memang perlu, tetapi untuk menabung demi kehidupan yang baik di akhirat juga dilakukan di dunia. Dengan segala tenaga juga harta yang halal dan berkah. Ayana masih terus menangis. Ia masih terkejut. Benar-benar tidak pernah diduga bahwa ia akan mengalami hal buruk seperti pagi ini. Hal yang akan selalu diingatnya dan akan menjadi peringatan baginya. Asti yang baru saja selesai mandi dapat mengenali suara tangisan Ayana. Kondisi kos yang sepi membuat suara tangis Ayana terdengar menggema. Gegas Asti berjalan cepat menuju kamar Ayana setelah melemparkan handuknya ke kamar dengan terburu dan asal lempar. Derap langkahnya pun terdengar memenuhi bangunan kos yang pagi ini begitu sepi. “Ay..” panggil Asti dengan khawatir. Sahabat Ayana itu melebarkan daun pintu agar tubuhnya dapat masuk ke ruang kamar Ayana. “Ada apa, Ay?” tanya Asti. Gadis itu benar-benar khawatir. Tak pernah dilihatnya Ayana menangis sehebat ini. Saat bercerita tentang hubungannya dengan Bapak pun Ayana tak menangis sehebat ini. Ayana semakin menangis saat Asti mendekap tubuh Ayana. Dengan tangis sedu sedan, Ayana menjelaskan semuanya. Meskipun napasnya tersengal dan penjelasannya sering terpotong karena tangis, Asti dapat menangkap hal apa yang terjadi pada sahabatnya. Asti semakin mengeratkan pelukannya. Ia terkejut, sangat terkejut saat mendengar cerita Ayana. Dunia sangat kejam. Ia pun memberikan tepukan pelan di punggung Ayana. Netranya pun ikut berkabut. Rasa tak percaya dan marah yang Ayana rasakan ikut tersalurkan padanya. Ia tidak habis pikir dengan cara orang-orang hidup yang bertindak kriminal demi seonggok kenikmatan dunia. Asti tak mengucapkan apa pun. Ia takut apa yang ia ucapkan akan semakin membuat Ayana sakit. Cukup sudah Ayana ditipu, lebih tepatnya digendam. Ia tak ingin berkata sok bijak yang akan berakhir pada timbulnya luka baru di hati Ayana. Ia memang menyayangkan tindakan impulsif Ayana yang dengan bodohnya mau duduk di boncengan Si Bapak Driver gadungan itu. Dan ia tak ingin semakin membuat Ayana merutuki dirinya semakin dalam. Dengan peristiwa yang baru saja menimpa Ayana, ia bisa mengambil pelajaran agar lebih hati-hati. Dan ia pun berharap semoga Ayana juga dapat mengambil hikmah dari peristiwa naas yang menimpanya. “Doakan yang terbaik untuk Bapak itu. Jangan mendoakan keburukan pada orang lain. Karena doa, baik atau pun buruk, akan kembali pada yang mendoakan,” peringat Asti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN