55. Pagi Bersama Bapak

1462 Kata
Rasa rindu yang menumpuk memang baiknya dilepaskan dengan bertemu. Tak nyaman rasanya memang bila rasa rindu itu terus menerus dipendam. Rasa sesak menggerogoti. Dan pertemuanlah obat akan rasa rindu itu sendiri. Ayana rindu Ibu. Rindu Bapak. Rindu kehangatan keluarga. Rindu masa ia menghabiskan malam selepas keluar dari stasiun untuk menceritakan hari demi hari yang berjalan selama perkuliahannya di Surabaya. Ia rindu dengan respons Ibu dan Bapak atas ceritanya. Ia juga rindu akan binar bahagia yang selalu terpancar di netra kedua orang tuanya. Pagi menuju siang itu, Ibu berkunjung ke rumah Abang. Sesuai dengan apa yang Abang katakan tadi pagi sebelum berangkat bekerja. Ayana menangis tersedu dalam pelukan Ibu. Menumpahkan segala rindu dengan pelukan hangat. Tangis itu menunjukkan akan besarnya rasa rindu yang terpendam. Dan tangisnya semakin hebat kala usapan lembut tangan Ibu menyapa punggungnya. Air mata terus berderai lebat. Tak akan ada habisnya rasa rindu itu. “Ayana kangen Ibu,” ucapnya tersedu. Suara serak karena tangis yang belum berhenti, tak menyurutkannya untuk gegas menyatakan rasa rindu yang terpendam dalam. “Ibu juga kangen kamu, Nduk,” balas Ibu tak kalah sedih. Seorang Ibu terpisah dengan anaknya. Tak sakitkah segalanya? Tentu saja sakit. Sesak dalam d**a menahan rindu. Pikir dipenuhi dengan berbagai spekulasi karena mengkhawatirkan buah hati yang harus terpisah. “Alhamdulillah kamu baik-baik saja, Nduk,” ujar Ibu seraya mengusap air mata yang membanjiri pipi Ayana. Ayana mengangguk dalam pelukan. “Ibu sehat? Bapak juga sehat?” “Alhamdulillah Ibu dan Bapak sehat, Nak. Kamu tidak perlu khawatir,” jawab Ibu dengan tangan yang setia mengusap punggung putrinya lembut. Ayana kembali mengangguk. Meskipun ia tentu saja ia khawatir kepada Ibu dan Bapak. Terbiasa pulang satu atau dua minggu sekali ke rumah, lalu harus terpaksa dipisahkan karena sebuah titah seorang ayah maka membuat semuanya berjalan berbeda. Semua rasa itu berbeda. Tak lagi sama. Dan Ayana berusa beradaptasi. Walaupun semuanya sulit. Ayana memeluk Ibu cukup lama. Berada dalam dekapan Ibu membuat perasaannya menjadi tenang. Seperti ada semilir angin segar yang berhembus dan menyegarkan pikirnya yang dipenuhi dengan spekulasi juga pikiran negatif. “Skripsinya sudah sampai mana, Nduk?” tanya Ibu dengan tangan yang mengusap surai hitam panjang putrinya. Ayana merasa tenang. Hal inilah yang selalu membuatnya rindu dengan rumah. Rindu untuk bisa bermanja-manja dengan Ibu. Jika ditambah dengan Bapak maka rasa rindu itu akan semakin kuat. “Seperti yang Adek sampaikan melalui sambungan telepon, sekarang fokus di bab empat. Sudah bimbingan sama dosen berulang kali tapi ya begitu, Bu..” Ayana mengembuskan napas lelah. “Masih saja diminta revisi. Padahal kadang yang direvisi itu sudah direvisi pertemuan selanjutnya. Atau nggak ya diminta buat nambah beberapa sumber rujukan,” lanjutnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ibu dengan lengan yang mengapit lengan Ibu erat. “Dinikmati saja, Nduk. In shaa Allah kamu akan segera sidang,” kata Ibu. “Sekarang memang masanya kamu mengalami hal-hal seperti ini. Namun.. beberapa waktu ke depan, bisa saja kamu rindu masa sekarang. Rindu keriwehan mengurus skripsi, juga rindu dengan rekan-rekan kamu,” imbuhnya dengan lembut. Ayana mengangguk. Benar apa yang dikatakan Ibu. Ia pasti rindu itu semua. Namun ia juga rindu kehangatan keluarganya yang seperti dulu. “Adek boleh ketemu Bapak kapan, Bu?” tanya Ayana setelah mereka saling berbicara banyak hal. “Besok, ya? Besok kan Minggu, ada Abang juga. Semoga hati Bapak mudah terbujuk karena banyaknya kepala yang berdiskusi,” kata Ibu dengan tatapan lembut. Ayana hanya mampu mengangguk. Ia pun tak ingin nekat dan memaksa. Belum tentu apa yang ia paksakan juga menghasilkan sesuatu yang baik. Karena banyak hal yang didasari dengan keterpaksaaan tidak akan membuahkan hal baik. *** Hari ini seperti yang dijanjikan kemarin, Ayana melangkah di belakang Abang dan Mbak. Ia melangkah beriringan bersama Andreas, menggandeng bocah berusia dua tahun itu. “Gak usah nervous gitu, Dek. Kita mau ke rumah Ibu dan Bapak,” kata Abang menenangkan. Ucapan motivasi itu tak berefek apa pun pada Ayana. Kegugupan masih menguasainya. Bagaimana bisa ia tenang bertemu dengan Bapak bila terakhir bertemu Bapak menolaknya? Ditambah dengan deretan beberapa masalah yang tak sengaja ia torehkan dari jarak jauh. Ia takut Bapak semakin murka. Ia memang rindu, tetapi ia sadar akan kecilnya peluang pengampunan dari Bapak. Tiba di halaman rumah yang dipenuhi bunga jantung Ayana semakin berdegup kencang. Ia serasa berada di halaman gedung persidangan. Hatinya tak siap bila mendengar banyak ucapan yang mungkin akan menyakitinya. Ia tak siap bila Bapak kembali murka padanya. “Assalamu’alaikum,” salam Abang dan Mbak kencang. Andreas pun mengikuti. Sedang Ayana hanya mampu mengucap salam dengan lirih. Sungguh ia begitu takut. Berbanding terbalik dengan semangatnya kemarin. Sahutan salam terdengar dari dalam. Suara Ibu dan Bapak. Air mata Ayana tetiba merebak. Sungguh ia begitu rindu suara serak dan berat itu, suara Bapak. Namun di baliknya, ia juga takut akan kemurkaan yang bisa saja meledak hari ini. ‘Bapak? Bapak harus selalu baik-baik dan sehat, ya! Ayana akan segera sidang,’ lirih batinnya. ‘Ya Allah.. Permudah segalanya dengan ridho-Mu. Mohon jangan Engkau persulit,’ doanya dengan tulus dan penuh permohonan. “Masuk, Bang,” kata Ibu. Langkah Abang, Mbak, dan Andreas menyadarkan Ayana dari lamunannya. Dengan langkah berat ia masuk ke rumah yang sudah dua bulan ini tak ia kunjungi. Semuanya masih sama. Ruang tamu itu masih sama seperti dalam ingatannya. Kursi dengan pahatan khas Jepara mengisi ruang tamu. Dengan spons duduk seperti bantal duduk orang Jepang berada di atas kursi kayu jati itu. Plitur warna cokelatnya masih segar dan bagus. Meja dengan ukiran yang sama berada di tengah-tengah kursi itu. Dindingnya pun masih sama, bercat warna krem. Lukisan berukuran besar berupa bunga menjadi penghias salah satu sisi dinding. Di seberang sisi yang lain, pahatan kaligrafi bertuliskan ayat kursi mengisi bagian tengah dinding. Di samping kanan ada lafad Allah dan Rasul-Nya. Ayana menghirup oksigen dengan perlahan dan dalam. Ia rindu aroma rumahnya yang khas. Aroma ketenangan dan kehangatan. Mbak menggandeng lengan Ayana, ia tahu bila adik iparnya merasa tak nyaman di rumahnya sendiri. Ia pun menuntun pelan Ayana. “All will be fine. Don’t worry. Just believe that every moment will be fine. Okay?” kata Mbak menenangkan. Ayana mengembuskan napas pelan. Lalu mengangguk. Ia berusaha meresapi setiap kata yang Mbak ucapkan. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Dan ia berharap Bapak masih menerimanya. Menerima segala permintaan maafnya. Abang memimpin masuk ke ruang tengah kala mendengar perintah Ibu untuk masuk. Ayana dengan dituntun Mbak pun melangkah pelan. Jantung bertalu kuat. Ia benar-benar merasa berada di tempat yang begitu menegangkan. “Ayana pulang, Pak,” ucap Abang. Bapak yang semula sedang menikmati teh hangat manis buatan Ibu pun menghentikan kegiatannya. Menghentikan penciumannya yang sibuk menghirup aroma khas teh. Baginya, menghirup aroma yang keluar dari minuman yang berbahan daun itu membuat perasaannya tenang. Cangkir besar yang terbuat dari alumunium itu diletakkan Bapak di atas meja. “Kenapa pulang? Skripsinya sudah selesai? Sudah mendapat gelar sarjana pendidikan kah dia?” Pertanyaan Bapak berhasil menyayat hati Ayana. Air mata kembali menumpuk di bola mata yang selama ini selalu tampak cerah ceria. “Pak,” tegur Ibu lembut seraya menggeleng pelan. Sayangnya Bapak tidak peduli. Ia pun enggan memandang Ibu, apalagi Ayana. Hening. Ruang tengah itu diselimuti hening. Tak ada yang berani membuka mulut. “Duduk, Le, Nduk,” kata Ibu menginterupsi keheneningan. Wanita paruh baya itu lupa mempirsalakan putra, putri, menantu, dan cucunya untuk duduk. Abang duduk di single sofa. Mbak duduk bersebelahan dengan Ayana dan Andreas. Sedang Ibu duduk di samping Bapak. “Mana Ayana? Katanya pulang? Kok Bapak tidak mendengar suaranya? Bapak juga rasa-rasanya lupa jika memiliki anak perempuan! Dia bahkan melangkahiku untuk meminta ijin pergi. Pergi bersama laki-laki pula,” dengus Bapak tajam. Sayatan di hati Ayana semakin terbuka lebar. Ia tak kuasa menahan tangis. Tumpah sudah air mata yang sejak tadi menggenang di telaga matanya. Suara isakan menyayat pun terdengar memenuhi ruang tengah. “Hanya bisa menangis,” gumam Bapak seraya sibuk memandang dinding di hadapannya. Tidak mempedulikan perasaan luka yang sedang dirasakan anak gadisnya. Mbak mengusap lengan adik iparnya. Ia juga memeluk adik iparnya itu lembut. Ibu berulang kali mengingatkan dengan mengusap lembut lengan Bapak. Namun Bapak enggan peduli. Ia benar-benar ingin membuat anak gadisnya sadar bahwa apa yang tengah dilakukan anak gadisnya bukanlah hal terpuji. Sedang di kamar Ayana yang ada di rumah Abang, handphone-nya sedang berdering berulang kali. Pesan pun beruntun masuk ke handphone Ayana. Adji Pratama Saputra: Bagaimana? Perasaanku nggak tenang. Adji Pratama Saputra: Everything gonna be okay kan, Dek? Semalam Ayana menceritakan semuanya. Juga menceritakan tentang apa yang akan terjadi hari ini. Hal itu yang membuat Tama tak tenang di tempatnya. Terkadang orang baru, di luar keluarga, kehadirannya begitu berarti. Bukan berarti melupakan akan keberadaan keluarga, tetapi seseorang itulah yang membantu agar kita tetap waras. Orang itu yang menemani di ruwetnya hidup yang sedang menimpa keluarga. Dan Ayana menyukuri pertemuannya dengan Tama. Sosok laki-laki yang membuatnya begitu bahagai dan mendewasakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN