Ayana sibuk menemani Andreas bermain. Bocah laki-laki itu sedang asyik menata lego menjadi bentuk pagar.
“Andreas mau bikin apa, Sayang?” tanya Ayana seraya membantu memasang lego.
“Mau bikin benteng istana. Kayak yang digambar puzzle,” jawab Andreas dengan bahasa bayi yang masih dapat Ayana pahami.
Ayana mengangguk. “Puzzle-nya di mana sekarang? Tante pingin lihat,” pintanya.
“Sebentar.” Bocah laki-laki itu beranjak dari duduknya. Ia kemudian melangkah ke lemari plastik yang terletak tidak jauh dari posisinya sekarang.
“Kayak gini, Tante.” Andreas menunjukkan puzzle yang tadi ia maksud.
“Wah, puzzle-nya bagus, ya? Kita harus buat pager dari lego ini yang bagus juga kalau gitu, Ndre,” ucap Ayana penuh semangat.
“Siap, Tante.”
Lalu, manusia beda generasi itu disibukkan dengan lego berukuran cukup besar menjadi bentuk pagar.
“Ndre, kamu sering main ke rumah Mbah Uti dan Mbah Kakung?” tanya Ayana. Perempuan itu ingin mengulik tentang Ibu dan Bapak melalui Andreas. Setahunya, anak kecil cenderung akan jujur jika ditanya.
“Sering. Minggu kemarin setiap hari ke rumah Mbah Kung dan Mbah Uti,” jawab Andreas seraya terus memainkan legonya. Sesekali bocah itu juga melirik tantenya sejenak.
Alis Ayana naik. Jawaban Andreas menciptakan beragam pertanyaan di benaknya. “Tumben, Ndre. Kan biasanya kamu ke rumah Mbah beberapa hari sekali.”
“Mbah kan..”
Belum selesai Andreas menjawab, istri Abang sudah memanggil mereka. “Ayana, Andre.. kita sarapan dulu, yuk,” ajak wanita itu.
“Yeay.. Nasi goreng, Bun?” tanya Andreas antusias.
“Iya, Sayang.”
Bocah laki-laki itu semakin bersorak senang. Nasi goreng adalah salah satu makanan favoritnya.
Ayana hanya mampu menghela napas pasrah. Ia akan mencoba bertanya lagi pada Andreas nanti.
Ayana dan Andreas pun berjalan beriringan menuju dapur. Lalu mereka mulai sibuk dengan piring yang berisi nasi goreng.
***
“Mas.. aku kangen rumah,” kata Ayana saat Abang hendak berangkat kerja. Netra Ayana tampak sendu. Abang pun memahami bagaimana perasaan adiknya itu. “Aku boleh ketemu Ibu?”
Sungguh, Ayana tidak tahu harus bagaimana. Bahkan untuk bertemu dengan Ibu saja apa harus ia sembunyi-sembunyi dari Bapak? Apa Bapak tidak merindukan putrinya itu?
Abang mengembuskan napas pelan. Diusapnya puncak kepala Ayana dengan lembut. Pagi ini gadis itu menyimpan kerudungnya di salah satu kamar di rumah Abang. Kamar yang ia gunakan sebagai tempat istirahat selama ia menginap di rumah itu. Ayana baru akan memakainya saat keluar rumah. Begitu pula ketika ia di rumahnya sendiri atau saat di kos.
“Nanti Ibu ke sini. Kamu tunggu, ya. Atau telepon dulu sama Ibu buat melepas rindu,” jawab Abang menenangkan dengan senyum yang terlukis di wajah kakak laki-laki Ayana.
Kesenduan menghiasi wajah Ayana yang sering tersenyum bahagia. Dalam hati ia berusaha mengikhlaskan ini. Tak boleh menyalahkan siapa pun. Entah skripsinya, dirinya sendiri, Bu Puspa, atau bahkan Bapak. Ini semua memang suratan dari Allah. Takdir yang telah Allah gariskan untuknya.
“Abang nggak mau nganter aku ke rumah gitu?” bujuk Ayana.
Melihat wajah sedih Ayana, tentu saja Abang ikut prihatin. Pria dengan satu putra itu tentu iba melihat kesedihan yang terpancar pada wajah yang selama ini selalu ceria. “Dek.. kamu tahu kan kalau Sabtu adalah hari kerja buat Abang?” tanyanya. “Yah meskipun hanya setengah hari,” lanjutnya.
“Jadi.. tunggu di rumah dengan sabar. Main sama mbakmu atau Andreas sembari menunggu Ibu ke sini. Ibu pasti akan ke sini, kamu jangan khawatir,” ujar Abang menenangkan.
Ayana menghela napas pasrah. Percuma ia membujuk Abang.
“Abang nggak sayang sama Ayana,” tandas Ayana seraya menghentakkan kaki lalu melangkah memasuki kamar.
Abang menghela napas panjang. Ingin mengejar Ayana dan menjelaskan semuanya, tetapi ia urungkan kala pewaktu semakin bergerak ke kiri.
“Dek… tolong jelaskan pada Ayana, ya. Mas harus segera berangkat. Ingat pesan Mas kemarin,” kata Abang pada istrinya.
Sang Istri mengangguk mengerti. Lalu gegas dikecupnya punggung tangan suaminya itu. Tak lupa ia mengantarkan Abang hingga mobil yang dikendarai Abang melaju menjauhi rumah. Sebelum masuk ke rumah dan membujuk Ayana, ia mendoakan kebaikan untuk suaminya dalam bekerja.
Sedang Ayana di kamarnya kini sedang tengkurap seraya menangis sesenggukan. Menurutnya, Abang tak mengerti perasaannya. Tidak peduli dengan luka dan rindu yang saling berebut mengisi kalbu. Ia begitu rindu dengan rumah. Rindu Ibu dan Bapak dengan porsi yang sama. Tidak ada rindu yang lebih besar ke sisi Ibu atau pun Bapak. Porsi rindunya sama.
“Dek..” Panggilan dari balik pintu disertai dengan ketukan pintu itu membuat tangis Ayana sejenak berhenti. Ia tahu akan siapa yang memanggilnya, kakak iparnya.
Ayana mengusap air mata yang membasahi pipi dengan cepat. Lalu membenahi penampilan wajahnya yang ia yakin terlihat tidak baik-baik saja.
“Iya, Mbak,” jawab Ayana seraya melangkah menuju pintu.
Pintu telah terbuka. Ayana dapat melihat sosok kakak iparnya. Sosok kakak perempuan yang selama ini belum pernah ia rasakan kasih sayangnya. Ia baru merasakan kehadiran sosok kakak perempuan setelah Abang menikah dengan wanita yang kini berdiri di depan Ayana.
“Bisa kita bicara, Dek?” tanya Mbak dengan lembut. Tidak ada tatapan mengintimidasi atau menuntut, tatapan itu lembut. Tidak ada tatapan kasihan atau tatapan lain. Yang Ayana lihat dari netra Mbak adalah tatapan sayang seorang kakak kepada adiknya.
“Di sini saja, Mbak?” tanya Ayana. Tidak ada dalam benaknya niat untuk menolak. Rasa-rasanya ia harus patuh pada kakak iparnya itu.
“Boleh,” balas Mbak dengan senyum lembut.
Ayana melangkah kembali masuk ke dalam kamar, dengan Mbak yang mengikuti langkahnya. “Mbak mau bicara apa?” tanyanya saat ia sudah duduk berhadapan dengan Mbak.
“Kamu marah sama Abang?” Mbak bertanya to the point, tidak basa-basi. Seperti biasanya. Wanita itu bukan wanita yang suka mengulur banyak kalimat untuk sebuah topik yang memang ingin dibicarakan.
Ayana diam. Dirabanya hatinya, mencari jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak.
“Marah. Tapi hanya sedikit. Mungkin lima persen. Sisanya Ayana sayang sekali sama Abang,” ucapnya perlahan. Menciptakan genangan air yang sedikit demi sedikit mulai memenuhi pelupuk mata. Ingatannya melayang pada hari-hari yang bersama-sama mereka ukir. Hari yang penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Matanya menerawang, seakan dalam pandangan itu ia bisa melihat putaran film dalam pikirnya.
Mbak tersenyum. Diraihnya tangan Ayana lembut. Lalu digenggamnya jari-jemari adik iparnya itu.
“Dek..”
Ayana mengalihkan fokusnya dari putaran kenangan masa lalu. Ia menatap penuh ke arah Mbak.
“Hidup terkadang tidak sesuai dengan harapan kita. Dan kita tidak bisa menyamakan kisah kita dengan kisah orang lain. Ada pelajaran berbeda yang disuguhkan di balik kisah yang tercipta. Memang manusia seringnya mengalami alur hidup yang sama dengan manusia lain, tapi kamu tentu tahu bukan bahwa masa orang untuk mengalami fase itu berbeda?”
Ayana mendengarkan semua itu dengan rinci dan jelas. Tiap kata yang terlontar dan pesan yang terselip telah masuk dalam sanubarinya. Menyadarkan akan sikap impulsifnya yang marah pada Abang.
“Kamu tahu bukan bahwa kemampuan seseorang dalam menghadapi setiap lika-liku hidup itu berbeda? Hal itu yang membuat Allah memberikan kisah hidup yang berbeda pada insan-Nya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba-Nya itu. Paham kan, Dek?”
Ayana mengangguk. Harusnya ia dapat mengambil hikmah atas apa yang telah terjadi padanya. Ia mampu melewati kesakitan-kesakitan yang menyapa karena dipertemukan dengan orang-orang baik. Mendapatkan dukungan dari keluarga. Bertemu dengan orang baru dan menciptakan senyum di hari-harinya.
“Maaf tadi Mbak dengar kamu sama Abang sedikit berbeda pendapat. Wajar bukan Dek dalam suatu percakapan ada pendapat yang berbeda?” Mbak terlihat mengambil napas sejenak. Oksigen dalam paru-parunya harus lekas ia ganti agar pikirnya bisa bekerja dengan baik. “Mbak memang tidak pernah mengalami hal yang sedang kamu alami saat ini. Mbak hanya ingin mengatakan bahwa ini adalah jalan hidup yang harus kamu tempuh. Mbak, Abang, dan Ibu tentu sebenarnya tidak ingin hal ini terus berlarut. Namun kita semua tidak bisa memaksakan bukan, Dek? Bapak dengan segala perintahnya adalah hal yang harus kita patuhi,” kata Mbak dengan pelan tetapi penuh ketegasan.
Ayana mengangguk. Ia tahu bahwa apa yang sedang dialaminya ini adalah hal yang memang harus ia lewati. Bukan untuk melewati rintangan agar menjadi pemenang, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia memang manusia yang telah bermetamorfosa menjadi perempuan dewasa.
“Mbak, Abang, dan Ibu tentu setiap waktu telah berusaha untuk membujuk Bapak. Namun kamu pasti ingat bahwa Bapak adalah orang yang selalu berpendirian teguh. Akan tetapi, bukan berarti kita harus diam saja bukan? Kita akan ke rumah besok, ya? Kita bicara dengan Bapak bersama-sama,” tutur Mbak dengan senyum lembut menenangkan. Mbak juga menarik tangan Ayana. Menggenggamnya dalam genggaman hangat yang membuat Ayana tak pernah tidak mengucap syukur. Ia bersyukur karena Abang menemukan jodoh terbaik dengan sosok Mbak yang luar biasa dewasa dan pengertian.
Kini Ayana kembali sendiri di kamar. Andreas meminta ditemani bermain sehingga Mbak meninggalkan Ayana kembali sendiri.
Dalam lamunan yang menemani kesendirian Ayana di kamar, denting notifikasi bahwa ada pesan yang masuk membuat Ayana tersadarkan dari lamunan. Pesan dari seorang lelaki yang mampu menciptakan semburat merah di pipi juga senyum hangat yang menyertai.
Adji Pratama Saputra: Hi, Dek. How was your day? Weekend di rumah bersama keluarga menyenangkan?
Adji Pratama Saputra: Jikalau memang kamu belum bisa berbicara dengan Bapak, setidaknya kamu bisa melepas rindu dengan keluarga yang lain.
Adji Pratama Saputra: Tetap tersenyum seperti biasanya, Sayang. Aku yakin bahwa hati Bapak akan luluh dan kembali seperti sedia kala. Yakinkan padanya bahwa sebentar lagi kamu akan mendapat gelar sarjana. Love you.
Bagaimana hati tidak berbunga dan perasaan melambung tinggi? Perhatian Tama semakin hari semakin membuat Ayana jatuh hati. Harapannya kini hanya satu. Semoga hubungannya dengan Tama tetap berjalan dengan baik dan bisa menjadikan jalan yang membawa mereka pada ikatan kekasih halal.