53. Akhirnya Pulang

1102 Kata
“Andreas sekarang bisa apa, Mas?” tanya Ayana kala mobil yang dikendarai Abang baru saja memasuki tol arah Mojokerto. “Bisa berantakin mainan,” jawab Abang dengan tatapan yang fokus memandang jalanan yang cukup lengang di depannya. “Ishh.. aku serius tahu, Mas. Aku terakhir ketemu kapan, ya? Pas pulang kemarin mah boro-boro ketemu. Ayana sibuk bujuk Bapak,” kata Ayana dengan sendu di akhir ucapannya. Mengingat tentang Bapak mengingatkan akan sikap Bapak yang tiba-tiba tak seperti biasanya itu. Marah karena putri bungsu dan putri satu-satunya tak kunjung menyelesaikan tugas akhir. “Sudah bisa jalan, Dek. Dan pinter kalau suruh buat rumah banjir dengan aneka mainan,” jawab Abang lebih serius. Pria itu tak ingin membuat Ayana sedih. Sedang pria itu merahasiakan sesuatu yang pasti akan membuat adik perempuannya itu lebih sedih. Dan mungkin saja bisa membencinya. “Alhamdulillah. Tiap aku mau video call juga nggak kunjung kamu terima, Mas,” ujar Ayana cemberut. Abang hanya memasang wajah bersalah. Bukan perasaan bersalah karena tidak menerima panggilan video call dengan Ayana, tetapi ada hal lain yang membuatnya tak bisa menerima panggilan itu. “Untuk kembali ke Surabaya kamu naik kereta, ya, Dek. Sudah pesen tiketnya?” “Sudah, Mas. Kan sekarang pesannya semua serba online jadi aku sudah pesen. Untungnya masih ada.” “Kata kamu kalau weekend susah dapat tiket?” “Kan aku nggak kembali weekend, Mas. Aku kembali Selasa pagi sebelum bimbingan,” jawab Ayana seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri mengikuti irama lagu yang dibawakan. Netra Abang membola. Tampak keterkejutan di wajahnya. Namun dengan cepat ia memasang wajah seakan tak terjadi apa-apa. Harapannya kini adalah semoga apa yang seharusnya belum diketahui Ayana masih tersimpan rapat. Abang melirik sekilas pada Ayana. Hembusan napas lega Abang tak begitu mengganggu fokus Ayana yang masih asyik menikmati lagu. “Kok kamu baru ngasih tahu?” Ayana memandang Abang dengan tatapan tak mengerti. “Memangnya aku nggak boleh balik Selasa, ya, Bang? Seharusnya kan Abang seneng kalau Ayana di rumah lebih lama. Nggak rindu sama adek kamu satu-satunya ini memangnya?” tanya Ayana galak. “Abang aneh tahu nggak sih. Atau Abang nggak suka kalau Ayana numpang di rumah Abang?” “Astaghfirullah. Suudzon banget sih, Dek jadi orang. Maksud Abang kan kenapa nggak bilang kalau kamu mau lama di rumah. Kan Abang bisa ambil cuti biar kita bisa jalan-jalan. Katanya kamu capek dan banyak menguras tenaga waktu ambil data. Abang kan pingin ngajak kamu refreshing,” ujar Abang panjang. Dalam hati ia bersyukur karena mampu memberikan alasan yang semoga saja dapat diterima oleh Ayana dengan baik. “Di rumah saja nggak masalah kali, Bang. Bisa ngumpet-ngumpet ketemu Ibu saja seneng. Tapi apa Ayana harus ngumpet ya, Bang kalau mau ketemu Ibu?” Tatapan gadis itu menjadi sendu. Apa untuk bertemu dengan orang tuanya sendiri ia harus melewati hal-hal seperti itu? “Nanti kita bicarakan di rumah bareng Ibu saja, Dek,” jawab Abang. Pria itu pun tak dapat mengambil keputusan sendiri. Kisah yang terjadi dalam keluarga mereka tidak semudah itu. Ada rahasia yang sengaja disembunyikan. “Bang..” “Hm?” tanya Abang seraya sedikit melirik pada adiknya. “Dulu semasa Abang semester akhir, apa ada drama seperti ini juga?” Abang memandang Ayana sejenak. Dipandang oleh Abang membuat Ayana gelagapan. “Aku tidak bermaksud membedakan, Bang. Aku hanya ingin memastikan saja bahwa aku di sini yang salah,” jelas Ayana sebelum Abang memandangnya semakin tajam. Tentu tidak baik jika ia mempertanyakan sebuah pertanyaan sensitif. Abang menghela napas panjang. Ia memilih diam, menunda waktu untuk menjawab. Ayana sedang butuh dikuatkan. Ia tahu bahwa Ayana tidak bermaksud menanyakan pertanyaan sensitif itu. Dan ia juga harus memberikan jawaban yang tegas. Mobil berbelok ke rest area. Abang sengaja menghentikan mobil di depan salah satu minimarket yang ada di rest area itu. Ayana memandang Abang heran. Bertepatan dengan Abang yang juga sedang memandang Ayana intens. “Dek.. Abang tidak suka dengan cara berpikir kamu tadi. Jauhkan pikiran negatif itu dari otak kamu. Yang harus kamu yakini saat ini adalah Bapak sayang sama kamu. Bapak ingin kamu cepat lulus. Bukan masalah biaya yang Bapak pikirkan, bisa saja alasan Bapak karena beliau tidak ingin kamu tertinggal oleh teman-teman kamu. Bapak tidak ingin kamu tertekan jika kamu tidak lulus bersama teman-teman kamu,” ucap Abang seraya memandang adik perempuannya dengan lembut. Tegasnya suara Abang membuat Ayana tak berkutik. “Ibu dan Bapak selalu sayang kamu, Dek. Tentu saja Abang juga sayang kamu,” imbuhnya dengan nada penekanan yang penuh dengan keyakinan. Ayana seakan terhipnotis oleh setiap untaian kata yang keluar dari bibir Abang. Gadis itu pun mengangguk patuh. Abang tersenyum senang, lalu pria itu mengajak adiknya untuk membeli makanan ringan dan minuman di minimarket. *** “Assalamu’alaikum,” salam Ayana dengan penuh semangat saat memasuki rumah Abang. “Wa’alaikumsalam,” jawab seorang wanita dan balita bersamaan. Sang Balita berucap dengan bahasa lucunya, membuat Ayana tak sabar ingin bermain dengan keponakannya itu. “Andreas Sayang,” panggil Ayana dengan berseru senang. Andreas tertawa senang kala melihat adik dari ayahnya itu. Bocah laki-laki itu berlari dengan lucu ke arah Ayana. “Pelan-pelan, Sayang,” tegur Sang Ibu. Sayangnya bocah laki-laki itu tetap berlari menghampiri Ayana. “Cuci kaki dan tangan dulu, Dek,” tegur Abang saat pria itu sudah bergabung ke ruang tengah. Ayana mencebik kecewa. Andreas yang tengah berada di depan Ayana pun menatap tante dan ayahnya bergantian. “Tante mau cuci tangan dan kaki dulu, ya, Sayang. Andreas sama Ibun dulu di sini,” kata Ayana pelan. Berusaha menjelaskan bahwa ia harus melakukan beberapa hal sebelum bisa bermain dengan Andreas. Andreas mengangguk mengerti. Bocah itu melangkah pelan ke arah ayahnya, bermaksud ingin digendong. “Bagaimana perjalanannya, Mas? Capek?” tanya istri Abang. “Ya begitu, Dek. Tapi aku suka. Aku lebih suka dan merasa aman seperti ini. Tidak membiarkan Ayana berdesakkan dengan para penumpang lain di bis atau di kereta,” jawab Abang seraya menggerakkan badannya demi Andreas merasa nyaman karena bocah itu tampak mengantuk. Ayana kembali ke ruang tengah selepas mencuci tangan, kaki, juga wajahnya. Ia merasa lebih segar. “Lho? Kok sepi?” gumam Ayana ketika tidak melihat siapa pun di sana. Mainan milik Andreas yang tadi tercecer memenuhi lantai pun kini tak ada. “Ay.. minum dulu.” Ayana menengok ke sumber suara. Istri Abang terlihat membawa segelas air kemudian diletakkan di atas meja kayu yang ada di ruang tengah. “Abang nidurkan Andreas di kamar, Ay. Habis ini kita makan malam bareng, ya.” “Iya, Mbak.” “Kalau kamu mau ke kamar dulu buat naruh barang gak apa.” Ayana mengangguk. Lalu ia mulai melangkah menuju salah satu kamar di rumah Abang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN