52. Rindu Rumah

1076 Kata
Tama berulang kali mengecek handphone-nya. Tak kunjung ada balasan dari Ayana. “Memangnya salah ya memanggil perempuan yang punya hubungan dekat dengan panggilan Sayang?” tanya Tama pada dirinya sendiri. Tama jadi berpikir jika bisa saja Ayana ilfell padanya karena panggilan yang ia tulis dengan spontan, tapi berasal dari dalam hati. Tidak ada niatan menjadi buaya. “Sayang?” celetuk Yanuar heboh. Ia menggeser kursi rodanya mendekati Tama. Ia memiringkan tubuhnya demi dapat menatap wajah Tama. Tama berdecak kesal. Yanuar selalu menjadi pengganggu nomor satu di kantor. “Kamu lagi deket sama siapa sih, Tam? Temen kampus kita?” tanyanya beruntun. “Aku lihat foto profil w******p kamu sama perempuan. Dan setahuku perempuan itu bukan Bunda.” Tama tak peduli. Ia memilih fokus kembali dengan pekerjaannya. Ia menyalahkan diri karena tak dapat mengontrol ucapannya. Rasa-rasanya ia telah berbicara dengan suara lirih dan pelan. Namun mengapa Yanuar masih dapat mendengar ucapannya itu? Yanuar berdecak. “Jadi bener kamu sudah punya pacar, Tam?” Yanuar tak ingin menyerah secepat itu. Laki-laki itu masih terus semangat untuk mengejar ucapan keluar dari bibir Tama. “Berisik.” Yanuar tidak peduli. Seperti biasanya. Ia menyalahkan Tama karena laki-laki itu yang tak kunjung bercerita. “Aku kenal sama orangnya, nggak?” Tama terus melanjutkan tangannya menggerakkan tetikus. Membuat garis lalu mengarahkannya sesuai dengan bangunan yang dirancangnya. “Aku berulang kali memperbesar DP kamu. Tapi kok nggak juga mengenali siapa perempuan yang hanya tampak punggung itu,” kata Yanuar lagi. “Berisik! Kembali ke kursi kamu sana,” usir Tama dengan wajah garang. “Lagi nggak mood ngerjakan. Tinggal finishing doang. Eh terus pagi-pagi dengar Mas Tama ngomongkan sayang-sayang,” goda Yanuar. Tama memutar tubuhnya menghadap Yanuar. Ia atur netranya dalam mode menghunus tajam. Yanuar selalu saja membuat mood-nya berantakan. “Aku kenal nggak sih sama perempuan itu?” “Kenal atau nggak, itu bukan hal yang penting buat kamu,” jawab Tama ketus. “Tapi aku mengamati berulang kali kok kayak pernah kenal dan nggak.” Tama berulang kali beristighfar dalam hati. Mencoba menenangkan diri agar tak meluapkan amarahnya pada Yanuar yang memasang wajah tak berdosa atau saat ini sering disebut dengan WTB, atau mungkin WTD—wajah tanpa dosa. Tama mengembuskan napas panjang. Percuma ia menatap Yanuar dengan pandangan menghunus, laki-laki itu tak akan takut. Akhirnya ia kembali menekuri pekerjaannya. Diselesaikan dengan cepat tampaknya lebih baik karena ia akan memiliki waktu yang lama bermain handphone. Tentu saja untuk meneror Ayana. *** “Mas Tama gimana kabarnya?” tanya Ayana dengan tangan yang sibuk menari di atas keyboard. Malam ini sepasang kekasih yang tak henti-hentinya dibalut bahagia itu sedang melakukan video call. Beberapa hari lalu, intensitas berkirim pesan mereka sedikit minim. Ayana sibuk dengan bimbingan bab empat skripsinya. Sedang Tama sibuk dengan temu klien yang akan mengerjakan proyek jembatan. “Alhamdulillah baik dan sehat, Dek. Kamu gimana? Everything good?” “Alhamdulillah, Mas. Semuanya lancar. Meskipun ya begitu.. sempet deg-degan karena takut banyak yang nggak sesuai dengan keinginan dosen. Takut cara ngolah datanya salah,” jelas Ayana dengan sesekali melirik pada Tama. Tama yang tengah berbaring di atas kasur pun mengangguk mengerti. Ia pun pernah merasakan hal itu semasa kuliah. “Tetapi hasilnya aman-aman saja kan?” “Alhamdulillah, Mas. Ada beberapa kalimat yang harus direvisi agar lebih terlihat natural gitu,” balas Ayana. “Untuk yang lainnya kayak tabel dan pembahasannya tidak terlalu banyak revisi.” “Syukurlah. Yang penting selalu semangat. Makan dan istirahatnya juga harus tetap diprioritaskan,” pesan Tama. “Siap, Mas. Masalah makan mah nggak usah diingatkan lagi,” kelakar Ayana. “Juga masalah tidur.. aku ini kan putri tidur.” Tawa Tama dan Ayana saling bersahutan. Lalu mereka membicarakan rencana mereka esok hari. Hingga tak terasa sambungan video itu telah menghabiskan waktu satu jam. “Aku ngantuk, Mas. Capek juga mata ini natap laptop. Apalagi ditambah harus baca-baca kalimatnya, bikin tambah pusing dan mual. Mabuk kata aku rasa-rasanya,” kata Ayana seraya mulai mematikan komputer jinjingnya setelah tak lupa menyimpan hasil kerjanya di Microsoft Word. “Iya. Mas juga mau istirahat. Otaknya waktunya berhenti berpikir,” balas Tama. Ayana mengangguk. Lalu ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengurai rasa pusing. Kini Ayana tengah berpindah duduk di atas pembaringan. Bersandar pada tembok, ia memandang ke arah Tama yang asyik merebahkan dirinya di atas kasur empuk yang bersprei warna abu-abu. Ayana mulai tampak menguap. Perempuan itu tidak dapat lagi menahan rasa kantuk yang mulai menyapa. “Mas..,” panggil Ayana dengan manja, seperti merengek. “Iya.. Buruan bubuk gih. Sudah ngantuk berat gitu,” kata Tama. “Mas Tama gimana?” “Habis ini juga tidur, Dek.” Ayana mengangguk. Lalu matanya tiba-tiba tertutup. Perempuan itu tak dapat lagi menahan kantuknya. “Dek.. tidur di kasur,” kata Tama lembut memperingatkan. Ayana mengangguk dengan mata yang masih terpejam. Lalu Tama melihat Ayana yang mulai merebahkan diri di atas pembaringan. Tama masih belum mematikan sambungan videonya hingga Ayana terlelap. Tama memandang wajah Ayana dengan tatapan penuh cinta. “Sehat-sehat, ya, Dek. Semoga Mas bisa segera menjadikan kamu pendamping hidup,” ucap Tama penuh harap. Tak pernah henti ia meminta petunjuk Allah agar segalanya dipermudah. Sambungan video akhirnya Tama putuskan setelah ia puas memandang wajah lelap Ayana. Ia berharap semoga semuanya dipermudah agar ia bisa segera memandang wajah lelap itu dari dekat dan secara langsung. *** “Bang.. kapan Ayana boleh pulang?” tanya Ayana dengan sendu. Sudah hampir dua bulan perempuan itu tak pulang. Sebentar lagi pun sudah memasuki bulan Ramadhan. Buka puasa di kos, jauh dari keluarga tentu saja rasanya tidak menyenangkan. Ia juga sudah membayangkan bila bisa sholat Tarawih bersama Ibu. Mereka akan berjalan beriringan dengan Ibu dan Bapak yang mengapit Ayana. Terkadang juga berangkat bersama dengan keluarga Abang menuju mushola dekat rumah. Ditambah dengan suasana sahur yang selalu ramai, ia semakin rindu dan tidak kuasa jika benar ia harus menghabiskan bulan Ramadhan di perantauan. Terdengar helaan napas Abang. Membuat air mata Ayana semakin merebak. “Ayana nggak mau menghabiskan masa puasa jauh dari keluarga, Bang,” rengeknya. “Sudah konsultasi bab empat, Bang. Setiap konsul ke Bu Puspa, masih saja ada revisi, Bang. Padahal yang direvisi selalu dikit banget,” lapor Ayana dengan bibir yang maju. “Akhir pekan ini Abang jemput mau? Hari Jum’at sore?” Ayana berseru senang. Tidak sabar ia menunggu hari itu datang. “Iya, Bang. Pokoknya buruan jemput adekmu ini, ya.” Terdengar tawa dari seberang. Sedang Ayana tak dapat menahan senyum yang sedari tadi merekah di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN